Eosinofil

Eosinofil adalah salah satu jenis sel darah putih (leukosit) yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Dalam bahasa inggris tertulis eosinophil, memiliki nama lain acidophil.

Kadar eosinofil normal yaitu dihitung berdasarkan rasio terhadap jumlah seluruh sel darah putih yaitu rasio eosinofil mormal sekitar 1 – 6% terhadap sel darah putih.

Struktur Eosinofil

Eosinofil umumnya memiliki inti dengan dua lobus (bilobed). Sesuai dengan namanya sel eosinofil berwarna eosin (pink), hal ini disebabkan oleh sitoplasma yang diisi oleh sekitar 200 butiran (granul) berwarna merah muda. Itulah mengapa eosinofil masuk dalam kelompok granulosit.

struktur dan fungsi eosinofil

Eosinofil memiliki sejumlah zat kimia penting seperti histamin, eosinofil peroksidase, ribonuklease, deoksiribonuklease, lipase, plasminogen dan beberapa asam amino. Zat-zat ini bersifat toksin terhadap parasit dan jaringan tubuh yang akan dikeluarkan ketika eosinofil teraktivasi. Aktivasi dan pelepasan zat kimiawi (beracun) oleh eosinofil diatur dengan ketat agar digunakan seperlunya untuk melawan agen infeksi (khususnya parasit) dan untuk mencegah penghancuran jaringan yang tidak diperlukan.

Eosinofil dibentuk secara khusus di sumsum tulang dan membutuhkan waktu sekitar 8 hari untuk proses pematangannya. Setelah matang, eosinofil akan pindah ke aliran darah. Mengalir dalam pembuluh darah selama 8 – 12 jam sehingga pada akhirnya tiba di jaringan tujuan untuk menetap di sana selama 1 sampai 2 minggu.

Kita dapat menemukan Eosinofil pada organ sistem saraf pusat (otak dan medula spinalis), saluran pencernaan, ovarium, uterus, limpa dan kelenjar limfe. Akan tetapi kita tidak dapat menemukannya pada paru, kulit, esofagus dan organ dalam lainnya, oleh karena itu keberadaan eosinofil pada area ini sering merupakan pertanda adanya suatu penyakit.

Fungsi Eosinofil

Bisa dibilang, fungsi eosinofil mirip dengan fungsi sel darah putih lainnya, yaitu terlibat dalam berbagai proses inflamasi, terutama pada gangguan alergi. Selain itu, eosinofil juga memiliki peran fisiologis dalam pembentukan organ (misalnya pengembangan kelenjar susu postgestational).

Fungsi eosinofil yang khas yaitu berperan dalam reaksi alergi dan melawan infeksi parasit multiseluler.

Dalam melakukan fungsinya, eosinofil bergerak ke daerah yang meradang, menangkap zat atau paartikel asing yang berbahaya, membunuh sel-sel jahat, antiparasit dan aktivitas bakterisida (membunuh bakteri), berpartisipasi dalam reaksi alergi, dan modulasi respon inflamasi (peradangan). Eosinophil granule proteins, seperti major basic protein (MBP), eosinophilic cationic protein (ECP), eosinophil peroxidase (EPO) and eosinophil-derived neurotoxin (EDN), mampu merangsang kerusakan jaringan beserta fungsinya. MBP, EPO dan ECP telah terbukti menjadi racun bagi berbagai jaringan termasuk jantung, otak, bronkial, dan epitel usus.

Keparahan kerusakan jaringan erat kaitannya dengan durasi lamanya eosinofilia (jumlah peningkatan eosinofil), tingkat aktivasi eosinofil, dan jenis stimulus yang menarik eosinofil tersebut (reaksi alergi atau parasit).

Eosinofil dapat menjadi bermanfaat atau berbahaya. Menguntungkan ketika tubuh diserang infeksi parasit tertentu, eosinofil melindungi kita dari parasit dengan membantu membersihkan tubuh dari infeksi. Pada kondisi ekstrim, seperti pada penyakit eritema, eosinofil memiliki peran sementara dan jinak. Akan berbahaya pada penyakit Loeffler dan sindrom hypereosinophilic, karena eosinofil terkait dengan perubahan patologis (kerusakan jaringan) yang parah.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer