Dextamine adalah obat yang mengandung dua jenis zat aktif yang terdiri dari deksametason dan desklorfeniramin. Kedua zat aktif tersebut telah diketahui merupakan obat anti radang dan anti alergi yang cukup kuat. Dengan demikian obat ini dapat digunakan untuk mengatasi beberapa keluhan yang ditimbulkan oleh suatu peradangan atau akibat dari reaksi alergi. Artikel kali ini akan membahas obat Dextamine beserta informasi terkait lainnya secara lebih rinci.

Mengenal Obat Dextamine

Deksametason dan turunannya adalah obat yang termasuk glukokortikoid sintetis. Obat ini  merupakan salah satu glukokortikoid yang terampuh. Kemampuan obat ini dalam mengatasi peradangan dan alergi diperkirakan kurang lebih sepuluh kali lebih hebat dibadningkan prednison ataupun prednisolon. Deksametason mempunyai kemampuan menembud sistem saraf pusat, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi cerebral edema.

dextamine

Deksklorfeniramin adalah obat yang termasuk antihistamin. Obat ini bekerja dengan cara memblokir histamin yang dibuat di dalam tubuh selama reaksi alergi. Oleh karena itu obat ini dapat digunakan untuk meredakan gejala alergi, demam, dan flu biasa. Gejala tersebut termasuk ruam, mata berair, mata gatal / hidung / tenggorokan / kulit, batuk, pilek, dan bersin.

Indikasi atau Kegunaan

Dextamine dapat digunakan untuk mengobati beberapa penyakit berikut, yaitu Demam yang berat, asma saluran pernafasan yang kronis dan berat, peradangan selaput lendir hidung karena alergi, peradangan kulit yang disebabkan oleh alergi terhadap makanan atau alergi teerhadap sentuhan, perdangan yang ditimbulkan oleh obat – obat tertentu, peradangan selaput ikat mata karena alergi, peradangan pada kornea, dan gangguan inflamasi pada mata

Kontraindikasi

Dextamine tidak boleh diberikan pada beberapa kondisi berikut:

  • Pasien yang diketahui memiliki riwayat alergi atau hipersensitif terhadap deksametason atau desklorfeniramin.
  • Pasien yang mengalami infeksi jamur yang luas dan parah
  • Pasien yang baru mendapat imnusisasi dengan vaksinasi virus hidup
  • Pasien yang menderita penyakit infeksi akut
  • Pasien tukak lambung, osteoporosis, psikosis dan psikoneurosis berat.

Dosis Dextamine

Dextamine tersedia di apotik dalam bentuk tablet dan sirup dengan komposisi sebagai berikut :

  • Deksametason 0,5 mg dan deksklorfeniramin maleat 2 mg untuk setiap 1 tablet.
  • Deksametason 0,5 mg dan deksklorfeniramin maleat 2 mg untuk setiap 5 ml sirup

Adapun Dosis Dextamine yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

  • Dosis dewasa adalah 1 – 2 tablet yang diminum 3 – 4 kali sehari.
  • Dosis anak – anak  adalah ½ tablet atau 2,5 ml yang diminum 3-4 kali sehari.

Efek Samping Dextamine

Efek samping dapat muncul terutama bila dextamine dikonsumsi dalam dosis besar atau dalam jangka waktu yang lama. Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan antara lain retensi Cairan dan garam; gangguan saluran pencernaan, nafsu makan meningkat; retardasi pertumbuhan, sindrom cushing, gangguan menstruasi, berkeringat banyak, mengantuk, kelemahan otot, gangguan mental, penglihatan kabur, mulut kering, kesulitan dalam berkemih.

Informasi Keamanan

Berikut ini beberapa informasi keamanan Dextamine yang harus mendapatkan perhatian, antara lain:

  • Hati-hati penggunaan obat dapat menimbulkan rasa kantuk oleh karena itu sebaiknya tidak digunakan pada saat mengendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin.
  • Hati-hati penggunaan obat pada penderita penyakit jantung, penyakit darah tinggi, penyakit kencing manis, penyakit gagal ginjal, penyakit glaukoma sudut sempit, dan hipertrofi prostat.
  • Hati-hati penggunaan Dextamine bersamaan penghambat Mono amin oksidase, karena dapat meningkatkan efek deksklorfeniramin sehingga berisiko menimbulkan efek samping yang berat.
  • Hati-hati penggunaan obat bersamaan dengan obat penenang, dan obat yang menimbulkan rasa kantuk lainnya, karena berisiko untuk menimbulkan depresi sistem saraf pusat.
  • Obat ini dapat melewati plasenta oleh karena itu tidak dianjurkan digunakan selama masa kehamilan.
  • Obat Dextamine dapat muncul di dalam ASI oleh karena itu tidak dianjurkan digunakan pada saat menyusui.
  • Apabila gejala penyakit telah membaik, obat sebaiknya tidak dihentikan mendadak, tetapi secara bertahap dikurangi dosisnya hingga obat tersebut dapat dihentikan.