“HIV/AIDS” kenapa penulisannya demikian, karena memang ini merupakan dua kondisi medis yang saling berkaitan. HIV/AIDS adalah penyakit yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia, di mana sistem kekebalan tubuh yang menjadi benteng perelindungan tubuh terhadap penyakit, menjadi rusak karenanya.

Acquired Immune Deficiency Syndrome disingkat AIDS adalah kondisi tahap akhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Jika seseorang memiliki HIV positif dan tidak diobati, maka kondisi akan memburuk dan akan menjadi penyakit AIDS di mana sistem kekebalan tubuh begitu terganggu sehingga berhenti bekerja (defisiensi). Sistem kekebalan tubuh tidak mampu lagi melindungi seseorang dari penyakit atau infeksi.

Penyakit HIV/AIDS ini menjadi momok yang mengerikan karena virus penyebabnya dapat ditularkan dari orang dengan HIV positif melalui pertukaran cairan tubuh, yakni melalui hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik terkontaminasi atau menular dari ibu ke anak selama kehamilan. Meskipun belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS, obat ART telah terbukti sangat efektif menghambat perkembangan penyakit ini.

Daftar isi laman:

penyakit HIV AIDS

Penyebab HIV AIDS dan Cara Penularan

Mencegah lebih baik daripada mengobati, itulah kata-kata yang pas dalam kondisi ini. Virus HIV mudah menyebar melalui hal-hal di bawah ini:

  • ‘Berhubungan’ dengan penderita HIV positif tanpa pelindung (kondom)
  • Berisiko tinggi pada orang yang memiliki ‘partner’ yang banyak.
  • Transfusi darah yang terkontaminasi
  • Penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi atau bersama-sama
  • Penggunaan pernak-pernik yang tidak aman, misalnya tindik dengan alat yang tidak steril, atau menggambar tato dengan alat terkontaminasi.
  • Ibu ke anak saat dalam kandungan, kelahiran, menyusui

Virus HIV tidak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia dan mati dengan cepat ketika cairan tubuh telah mengering. Inilah sebabnya mengapa HIV tidak dapat disebarkan oleh serangga, tidak dapat menyebar seperti virus flu (memegang permukaan fasilitas umum, batuk, bersin, dll)

Gejala HIV/AIDS

Gejala HIV dapat bervariasi dari orang ke orang. Pada tahap awal, beberapa orang mengalami gejala penyakit yang mirip dengan flu seperti demam, sakit kepala atau sakit tenggorokan selama beberapa minggu lalu gejala menghilang. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa bertahan selama bertahun-tahun bahkan tanpa mengembangkan gejala apapun.

Apabila hal ini dibiarkan selama bertahun-tahun, maka kondisi bisa memburuk hingga akhir sistem kekebalan tubuh menjadi lumpuh dan bisa berlahir ke tahap penyakit berikutnya yaitu AIDS. Pada penyakit AIDS seseorang akan sangat rentan terkena penyakit infeksi, yang kita kenal dengan istilah infeksi oportunistik (terjadi ketika daya tahan tubuh lemah, padahal jika daya tahan tubuh normal infeksi ini tidak berbahaya).

Infeksi oportunistik pada orang dengan AIDS dapat mempengaruhi hampir semua organ tubuh dan inilah yang membuat penyakit AIDS menjadi membahayakan. Beberapa gejala dan ciri-ciri HIV yang telah berubah menjadi AIDS meliputi:

  • Demam terus menerus.
  • Kelelahan ekstri yang tidak berhubungan dengan stres atau kurang tidur.
  • Diare persisten (terus menerus).
  • Berat badan menjadi turun (gizi buruk).
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, pangkal paha, dan lain-lain.
  • Sakit atau sulit menelan.
  • Sering mengalami sariawan, atau sariawan tak kunjung sembuh.
  • Sakit kepala, kebingungan dan pelupa
  • Peningkatan risiko terkena berbagai jenis kanker seperti sarkoma Kaposi, limfoma, kanker serviks, dan lain-lain.

Kenali Gejala HIV AIDS secara Dini

Diagnosis

Semua jenis pemeriksaan atau tes HIV untuk menegakkan diagnosis didasarkan pada dasar-dasar imunologi. Berikut ini beberapa informasi singkat tentang tes lanjutan untuk diagnosis HIV/AIDS:

  • Tes untuk mendeteksi antigen HIV
  • Tes untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV
  • Uji ELISA
  • Uji diferensiasi antibodi
  • Uji Western blot
  • Tes antigen p24
  • PCR untuk tes HIV RNA plasma

Takut Tertular, Kapan Tes HIV yang Tepat?

Langkah Pengobatan

Ada dua tujuan utama dari pengobatan HIV, yaitu mencegah virus merusak sistem kekebalan tubuh dan menunda atau menghentikan perkembangan infeksi. Hal ini dapat dicapai melalui:

  • Obat Antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk mengobati dan mencegah infeksi HIV bekerja dengan cara menghentikan atau mengganggu reproduksi virus dalam tubuh. ARV tidak menyembuhkan infeksi HIV melainkan untuk mencegah replikasi virus lebih lanjut sehingga dengan demikian dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.
  • Obat ini harus diminum secara teratur pada waktu yang tepat setiap hari. Jika tidak, akan membuat virus bermutasi dan menyebabkan resistensi terhadap pengobatan.
  • Di samping pengobatan dengan antiretroviral, orang dengan HIV sangat membutuhkan konseling dan dukungan psikososial. Kualitas hidup juga yang tinggi juga perlu dipertahankan dengan kebersihan dasar, nutrisi yang cukup dan air bersih.

Baca lebih lanjut mengenai: Obat HIV AIDS

Komplikasi

Orang dengan AIDS sangat rentan terhadap infeksi. Beberapa jenis infeksi dan penyakit berikut ini sering menyerang orang dengan HIV/AIDS:

Cara Mencegah HIV/AIDS

Dengan membatasi paparan faktor risiko, kita dapat mengurangi risiko terkana infeksi HIV. Langkah-langkah pencegahan yang dapat kita lakukan meliputi:

  • Penggunaan kondom dengan benar dan konsisten saat “berhubungan” yang penuh dengan resiko.
  • Setia dengan pasangan, hindari berganti ganti partner.
  • Bagi tenaga medis, gunakan alat pelindung diri saat menolong pasien contohnya menggunakan sarung tangan.
  • Minum obat ARV segera setelah ‘berhubungan’ ketika diketahui bahwa pasangan positif HIV, atau seorang tenaga medis yang terluka oleh alat-alat medis yang dicurigai terkontaminasi. Obat antiretroviral digunakan dalam waktu 72 jam setelah paparan HIV untuk mencegah infeksi.
  • Penularan Ibu ke Bayi selama kehamilan, persalinan atau menyusui dapat sepenuhnya dicegah jika ibu dan anak diberikan obat antiretroviral
  • Sunat atau khitan pada laki-laki dapat mengurangi risiko infeksi HIV pada pria sekitar 60%.
  • Penggunaan alat-alat steril yang menimbulkan perlukaan pada tubuh, misalnya jarum suntik, pisau bedah, dan sebagainya.