Bisakah Obat HIV AIDS Menyembuhkan?

Ketika seseorang baru saja didiagnosis dengan HIV dan/atau AIDS, maka hal penting selanjutnya yang harus dijalani adalah pengobatan. Sebelum memulainya, pasti akan banyak yang bertanya: apakah obat HIV AIDS yang akan digunakan itu benar-benar bisa menyembuhkan?

Hingga saat ini digunakan istilah khusus untuk mengolompokkan berbagai jenis obat HIV AIDS, yaitu ART (antiretroviral treatment) atau terapi antiretroviral. Ada puluhan jenis obat, seseorang yang menjalani pengobatan ini akan mengonsumsi beberapa obat sekaligus, disebut dengan kombinasi obat. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi obat adalah cara terbaik untuk mengendalikan HIV dan mengurangi kemungkinan resistensi virus terhadap pengobatan.

obat hiv mediskus

Apakah obat HIV tersebut menyembuhkan?

Ketahuilah bahwa obat ART tidak dapat membasmi semua virus yang sudah terlanjur ada dalam tubuh. Obat HIV ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan virus atau bahkan menghentikan virus agar tidak memperbanyak diri. Dengan kata lain, obat ini akan mempertahankan kondisi kesehatan saat ini (saat memulai pengobatan) dan mencegah agar penyakit HIV tak berubah menjadi lebih buruk.

ART akan menjaga agar jumlah virus (viral load) berada dalam tingkat yang rendah sehingga memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk pulih dan tetap kuat. Ini juga akan membantu untuk mencegah HIV agar tidak menular.

Semua perempuan dengan HIV yang hamil atau menyusui, harus menggunakan obat HIV untuk mencegah agar tidak ditularkan ke bayi. Hal ini berlaku juga bagi siapapun yang memiliki HIV positif yang berada dalam hubungan dengan seseorang yang tidak memiliki HIV, juga harus mempertimbangkan pengobatan untuk mencegah penularan HIV.

Dengan pengobatan yang baik dan menjalankan pola hidup sehat, banyak orang dengan HIV bisa hidup seperti halnya orang-orang yang tidak memiliki HIV. Terus melakukan interaksi sosial, bekerja atau belajar, menggapai cita-cita, atau bahkan membangun keluarga yang bahagia selayaknya orang-orang yang tidak memiliki penyakit ini.

Memulai Pengobatan HIV/AIDS

Tanpa pengobatan, orang yang mengidap HIV positif dapat menjadi sakit karena kerusakan yang ditimbulkan virus HIV terhadap sistem kekebalan tubuh. Padahal sistem kekebalan tubuh sangatlah penting bagi tubuh untuk melindungi diri dari penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur atau bahkan sel-sel kanker.

Oleh sebab itu, sekarang diterapkan aturan baru bahwa setiap orang yang memiliki HIV positif harus langsung memulai pengobatan antiretroviral. Namun, di banyak tempat, keputusan tentang kapan memulai pengobatan masih tergantung pada tes jumlah CD4, untuk melihat berapa banyak sel CD4 yang ada dalam darah seseorang.

Sel-sel CD4 (juga disebut sel T-helper) merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh karena bekerja melawan kuman dan infeksi. HIV menyerang sel CD4 dan mengurangi jumlahnya dalam tubuh secara bertahap. Tanpa pengobatan, HIV secara perlahan akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga sulit bagi tubuh untuk melawan setiap penyakit atau infeksi yang menyerang.

Baca juga:

Pengobatan dengan obat-obatan HIV (disebut terapi antiretroviral atau ART) direkomendasikan untuk semua orang yang terinfeksi HIV. ART membantu mereka yang HIV positif agar hidup lebih lama, hidup sehat dan mengurangi risiko penularan.

Kapan Memulainya?

Secara lebih spesifik, kapan waktu yang tepat untuk memulai menggunakan ART akan tergantung pada faktor-faktor berikut;

  • Jumlah CD4 dan hasil tes lainnya
  • Apakah orang tersebut memiliki penyakit atau kondisi lain, termasuk kehamilan, penyakit terkait HIV-, atau AIDS (AIDS adalah tahap infeksi HIV yang sudah lanjut)
  • kemampuan dan kemauan seseorang untuk melakukan pengobatan seumur hidup dengan obat-obatan HIV.

Setelah memulai pengobatan, penting untuk melanjutkan kunjungan rutin ke dokter atau fasilitas kesehatan untuk selalu mengikuti arahan untuk obat-obatan yang pakai dengan sangat hati-hati. Jika seseorang tidak mengambil obat HIV persis seperti yang diarahkan, maka bisa mengembangkan resistensi terhadap obat, yang bisa membuat pengobatan HIV menjadi gagal.

Mempersiapkan diri

Faktor yang paling penting adalah mempersiapan diri untuk memulai pengobatan. Tidak seperti mengobati penyakit ringan yang hanya digunakan beberapa hari, pengobatan HIV saat ini mengharuskan pasien untuk mengonsumsi obat ART setiap hari selama sisa hidupnya. Untuk itu diperlukan tekad yang kuat serta dukungan orang-orang terkasih agar pasien bisa konsisten menggunakannya.

Bagi kebanyakan orang, dengan memulai pengobatan HIV, maka berarti mereka harus membuat perubahan signifikan dalam pola hidupnya untuk menunjang keberhasilan pengobatan. Misalnya, beberapa obat mungkin mengharuskan Anda untuk makan pada waktu tertentu dalam sehari. Beberapa obat HIV harus diminum lebih dari sekali sehari, dan jika Anda menggunakan obat lain selain HIV mungkin harus diminum dengan jeda waktu, dan sebagainya.

Ada beberapa jenis obat HIV yang berbeda yang masing-masing memiliki mekanisme kerja yang berbeda pula. pengobatan HIV terdiri dari tiga atau lebih obat yang diminum sekaligus. Terkadang obat ini digabungkan menjadi satu pil.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan kombinasi obat antiretroviral untuk orang-orang yang memulai pengobatan HIV:

  • TDF (tenofovir)
  • 3TC (lamivudine) atau FTC (emtricitabine)
  • dan EFV (efavirenz).

WHO juga telah merekomendasikan kombinasi alternatif. Dokter akan memberitahu Anda obat yang terbaik untuk Anda.

Efek Samping Obat HIV

Semua obat memiliki efek samping begitu juga dengan obat HIV. Beberapa efek samping memang tidak membahayakan dan beberapa berlangsung ringan, namun efek samping bisa menunjukkan bahwa obat yang dikonsumsi telah mulai bekerja.

Tujuan pengobatan HIV adalah menemukan kombinasi obat yang tepat dalam dosis yang tepat yang akan cukup kuat untuk melawan HIV dalam tubuh, tapi tidak menyebabkan terlalu banyak efek samping.

Efek samping jangka pendek

Beberapa efek samping jangka pendek yang dapat muncul antara lain:

  • Anemia (kelainan pada sel darah merah)
  • Diare
  • Pusing
  • kelelahan
  • sakit kepala
  • mual dan muntah
  • nyeri dan masalah saraf
  • ruam

Efek samping jangan panjang

Obat HIV dapat memiliki beberapa efek samping yang signifikan dan jangka panjang. Meskipun banyak dari efek samping dapat diobati, namun beberapa dapat berlanjut. Oleh karena itu selalu beritahu dokter tentang efek samping yang Anda alami, sehingga ia dapat menentukan perawatan terbaik baik untuk penyakit HIV maupun efek samping pengobatan.

Beberapa efek samping jangka panjang yang paling umum dari pengobatan HIV meliputi:

  • Lipodistrofi. Perubahan ini dapat mencakup kehilangan lemak di wajah dan ekstremitas (anggota gerak), dan penumpukan lemak di perut dan belakang leher.
  • Insulin Resistance. Kondisi yang dapat menyebabkan kelainan kadar gula darah, kadar gula menjadi selalu tinggi. Tes laboratorium untuk melihat kadar gula merupakan indikator terbaik untuk mendeteksi resistensi insulin.
  • Kelainan lipid. Meningkatnya kadar kolesterol atau trigliserida darah.
  • Penurunan kepadatan tulang. Bisa menjadi masalah yang signifikan, terutama untuk orang dewasa yang sudah tua. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko cedera dan patah tulang.
  • Laktat asidosis. Penumpukan laktat, produk limbah selular, di dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan masalah mulai dari nyeri otot hingga gagal hati.

Ketika Anda pertama kali memulai pengobatan HIV, Anda mungkin akan merasakan sakit kepala, sakit perut, kelelahan, atau pegal-pegal. Efek samping ini biasanya hilang setelah periode penyesuaian singkat, yang dapat berlangsung dari beberapa hari sampai satu bulan. Jika Anda melihat ada reaksi yang tidak biasa atau parah setelah memulai atau mengubah obat, laporkan setiap efek samping dengan dokter segera. Jangan sampai lantaran efek samping Anda langsung menghentikan pengobatan secara sepihak, hal ini dapat menjadi penghalang besar untuk ksembuhan.

Meskipun obat HIV tidak menyembuhkan dengn tuntas, tetapi amat penting agar penyakit HIV tak menjadi parah dan mudah menular.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer