Penyebab Bayi Cegukan dan Cara Mengatasinya

Bayi sering cegukan biasa dikaitkan dengan tanda bahwa bayi akan cepat besar, dan mitosnya untuk mengatasi bayi cegukan adalah dengan menempelkan sehelai benang dari kain popok, baju, atau celana si bayi pada keningnya, Apakah memang benar demikian? Apakah cegukan ini akan berbahaya bagi bayi? apalagi terjadi begitu sering?

Sebenarnya cegukan pada bayi merupakan tanda adanya kontraksi yang terjadi secara tiba – tiba pada diafragma bayi, dan faktanya seperti halnya pada manusia dewasa, cara paling efektif mengatasi cegukan pada bayi adalah dengan meminum air dan untuk bayi cukup disusui dengan perlahan dan secukupnya hingga cegukan berhenti.

Diafragma (sekat rongga dada) adalah otot yang merupakan pembatas antara rongga dada dan rongga perut. Pada saat menarik napas, diafragma akan berkontraksi dan tertarik ke bawah untuk membantu menghisap udara, sebaliknya pada saat membuang napas diafragma terdorong ke atas untuk membantu mengeluarkan udara.

bayi cegukan mediskus

Cegukan yang dalam istilah medis disebut singultus adalah suatu kontraksi yang terjadi secara tiba-tiba yang tidak disengaja pada diafragma yang menyebabkan terjadinya hisapan udara secara mendadak ke paru – paru melewati glotis (celah pita suara) sehingga mengakibatkan timbulnya suara hikkss yang khas. Artikel ini akan mencoba menjawab kenapa bayi sering cegukan dan cara mengatasinya.

Penyebab Bayi Cegukan

Cegukan dapat disebabkan oleh beberapa hal yang dapat merangsang diafragma untuk berkontraksi. Penyebab bayi cegukan antara lain :

  • Setelah minum ASI terlalu cepat
  • Setelah minum susu dari botol, bayi dapat menelan udara bersama dengan susunya dan berakhir dengan cegukan.
  • Setelah makan terlalu cepat, bayi juga dapat menelan udara bersama dengan makanan dan berakhir dengan cegukan.
  • Setelah banyak tertawa
  • Setelah menangis keras
  • Setelah batuk yang terlalu keras
  • Setelah menghirup uap berbahaya seperti asap rokok
  • Pada saat mengalami perut kembung

Cegukan pada umumnya akan dapat hilang dengan sendirinya atau biasanya hilang pada saat bayi tertidur lelap. Namun cegukan yang telah berlangsung terus – menerus melebihi satu jam merupakan suatu hal yang harus diwaspadai dan sebaiknya segeralah meminta bantuan dokter untuk memastikan kemungkinan adanya kelainan yang serius seperti :

  • gangguan pada persarafan diafragma
  • peradangan pada paru – paru
  • kelainan di otak seperti tumor
  • penyakit ginjal
  • gangguan keseimbangan elektrolit

Baca juga: Kenapa Bayi Sering Muntah?

Cara Aman Mengatasi Bayi Cegukan

Bila bayi mengalami cegukan, beberapa hal berikut ini dapat dilakukan untuk mempercepat berhentinya cegukan, seperti:

  • Memberikan bayi minum air hangat
  • Membaringkan bayi dengan lutut ditekuk
  • Memijat punggung bayi perlahan untuk menenangkan bayi
  • Memberikan makan satu sendok teh gula pasir

Cegukan pada bayi dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal seperti berikut:

  • Memberikan bayi minum tidak terlalu cepat
  • Mengubah posisi bayi ketika menyusui untuk mengurangi udara yang masuk saat meyusui
  • Mengusahakan tidak memasukkan udara terlalu banyak saat minum susu botol
  • Memberikan bayi air putih satu sampai dua sendok teh, setelah bayi minum susu,
  • Memberikan bayi waktu istirahat sekitar setengah jam setelah bayi minum susu, baru mengajaknya bercanda
  • Meyendawakan bayi setelah minum susu
  • Memberikan bayi makan tidak terlalu cepat
  • Membiasakan bayi makan teratur

Baca juga: Cara Menghilangkan Cegukan Terus Menerus [dewasa]

Sebagai orag tua kita tidak perlu khawatir karena seiring dengan berjalannya waktu cegukan yang sering terjadi pada bayi dapat berkurang secara perlahan – lahan dikarenakan bayi telah memiliki keseimbangan dan kematangan pada sistem tubuhnya seiring dengan bertumbuhnya usia bayi anda. Namun harus diingat cegukan yang telah berlangsung melebihi satu jam mungkin merupakan suatu pertanda adanya kelainan yang serius dan sebaiknya segera membawa bayi untuk meminta pertolongan dokter.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer