Cedera Kepala : Bahaya, Klasifikasi, Penanganan

Cedera kepala adalah trauma pada kepala termasuk trauma pada tulang tengkorak maupun organ – organ yang terdapat di dalamnya yang terjadi karena pengaruh gaya mekanik dari luar tubuh yang dapat disertai dengan atau tanpa adanya penurunan kesadaran. Cedera kepala merupakan kondisi medis yang berisiko untuk menimbulkan gangguan kognitif, fisik, maupun sosial.

Cedera kepala dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti kecelakaan kendaraan bermotor, akibat perkelahian, pada saat berolahraga, terjatuh, atau hanya sekadar terbentur. Semua orang tanpa terkecuali berisiko untuk mengalami trauma kepala. Oleh karena itu pada artikel kali ini akan dijelaskan mengenai cedera kepala, bahaya, klasifikasi, dan penanganan awalnya.

cedera kepala

Patofisiologi Cedera Kepala

Patofisiologi cedera kepala dapat dimulai sebagai cedera primer yaitu kerusakan yang timbul langsung sebagai akibat trauma seperti fraktur (patah) tulang tengkorak, ruptur (robekan) pembuluh darah, hingga kerusakan pada jaringan otak berupa laserasi, kontusio termasuk juga kerusakan pada selaput meningen.

Setelah cedera primer dapat terjadi kerusakan lanjutan yang disebut sebagai cedera sekunder yaitu apabila kerusakan telah melampaui batas kompensasi ruang tengkorak sehingga menyebabkan kenaikan tekanan intra kranial (TIK) secara progresif dan penurunan tekanan perfusi serebral (CPP) yang akan mengakibatkan iskemia otak dan kerusakan jaringan otak.

Kerusakan jaringan otak akan menyebabkan pelepasan neurotransmitter eksitasi yang berlebihan yang dapat mengakibatkan terjadinya influks ion Kalsium yang berlebihan sehingga menimbulkan edema sitotoksik, aktivasi enzim degradatif, dan proses depolarisasi cepat (korban tampak kejang – kejang). Enzim degradarif akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada DNA sel, protein, dan membran fosfolipid pada dinding sel. Kemudian kerusakan fosofolipid akan mengakibatkan terbentuknya asam arkhidonat dan radikal bebas yang berlebihan yang apabila berkelanjutkan akan menyebabkan terjadinya apoptosis.

Klasifikasi Cedera Kepala

Berdasarkan tingkat keparahan cederanya, cedera kepala diklasifikasikan menjadi :

  • Cedera kepala ringan yaitu cedera kepala tanpa penurunan kesadaran, korban sadar sepenuhnya, atensi dan orientasi baik. Korban dapat mengalami lecet, robekan atau bengkak pada kulit kepala disertai keluhan sakit kepala dan pusing.
  • Cedera kepala sedang yaitu cedera kepala dengan penurunan kesadaran, disertai kebingungan, mengantuk. Korban dapat mengalami patah tulang tengkorak, gegar otak, amnesia muntah hingga kejang.
  • Cedera kepala berat yaitu cedera kepala dengan penurunan kesadaran yang progresif hingga koma. Selain itu pada korba juga terdapat tanda defisit neurologis fokal

Penatalaksanaan Cedera Kepala

Penatalaksanaan cedera kepala dilakukan berdasarkan prinsip penatalaksanaan trauma pada umumnya yaitu berdasarkan prinsip ABC :

  • Airway : periksa Jalan nafas, bersihkan dari benda asing, lendir, maupun darah.
  • Breathing : Periksa kemampuan bernafas tentukan apakah bernapas spontan atau tidak, bila memungkinkan berikan bantuan napas
  • Circulation : Periksa nadi dan tekanan darah, hentikan pendarahan, bila memungkinkan pasang jalur intravena
  • Tentukan tingkat keparahan cedera kepala korban dengan melakukan pemeriksaan status kesadaran dan status neurologis korban yang dinilai berdasarkan Skala Koma Glasgow dan tanda defisit neurologis fokal sperti reflek pupil, paresis dan paralisis serta refleks patologis
  • Segera kirim korban ke rumah sakit untuk mendaptakan penatalaksanaan lebih lanjut.

Penatalaksanaan lanjutan di rumah sakit dapat dilakukan dengan :

  • Memperbaiki dan menjaga fungsi vital yang meliputi Airway, Breathing Circulation
  • Penatalaksanaan terhadap edema otak dengan memberikan infus cairan hiperosmolar manitol, kortikosteroid dan barbiturat
  • Pemberian obat – obatan antikonvulsi untuk mengatasi kejang
  • Pemberian obat – obatan neuroprotektif seperti cciticholine, piracetam untuk melindungi sel saraf
  • Pemberian obat – obatan hemostatik untuk mengatasi pendarahan otak (intrakaranial)
  • Perawatan terhadap luka

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer