Gejala Usus Buntu yang Harus Anda Waspadai

Sebelum kita membahas gejala usus buntu, sebaiknya kita pahami terlebih dahulu tentang penyakit usus buntu yang saya rasa masih banyak di antara kita yang belum mengetahuinya.

Saudara sekalian, jangan salah mengartikan istilah “Usus Buntu”, karena seringkali orang beranggapan orang yang sakit usus buntu berarti ususnya buntu atau mampet, tentu ini persepsi yang tidak tepat. Usus buntu (appendix) merupakan bagian normal usus yang terhubung dengan usus besar dan umumnya terletak di bagian perut kanan bawah. Jadi sebenarnya setiap orang punya usus buntu dan tidak akan menimbulkan masalah jika tidak meradang.

gejala usus buntu

lihat usus buntu pada lingkaran kecil di atas

Seperti terlihat pada gambar, usus buntu berukuran kecil, karena ukurannya yang kecil sering kali kotoran (feses) terperangkap didalamnya, pertumbuhan bakteri akan meningkat, usus buntu menjadi meradang dan terinfeksi, inilah yang disebut sebagai penyakit usus buntu atau dalam istilah medis disebut appendicitis (baca: apendisitis) yang artinya Radang Usus Buntu.

Karena kejadian tersebut maka muncullah tanda dan gejala usus buntu, yang terdiri dari:

  • Sakit perut yang dimulai di sekitar pusar dan sering bergeser ke perut kanan bawah
  • Sakit perut kanan bawah yang semakin tajam selama beberapa jam, baca juga: Sakit Perut Sebelah Kanan
  • Perut akan terasa lebih sakit ketika batuk, berjalan atau melakukan gerakan yang mempengaruhi perut.
  • Mual
  • Muntah
  • Tidak nafsu makan
  • Demam ringan
  • Sembelit
  • Perut membesar, tidak bisa kentut
  • Diare

Penyakit Radang Usus Buntu dapat dengan cepat menjadi keadaan darurat medis. Hal ini terjadi ketika usus buntu yang meradang menjadi pecah atau bahasa medisnya perforasi. Pecahnya usus buntu jarang terjadi dalam waktu 24 jam pertama sejak gejala muncul. Akan tetapi, hingga 80% orang yang memiliki gejala selama 48 jam akan berakhir dengan usus buntu yang pecah. Jika usus buntu sampai pecah, maka bisa berakibat fatal. Risiko kematian tertinggi pada bayi dan orang tua.

Oleh karena itu jika Anda mengalami gejala usus buntu seperti di atas, segeralah periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Tes dan prosedur pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan seseorang mengalami apendisitis atau tidak, antara lain:

Pemeriksaan fisik. Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan dengan melakukan tekanan lembut pada daerah perut yang sakit. Ketika tekanan tiba-tiba dilepaskan, nyeri usus buntu biasanya akan lebih sakit, menandakan bahwa peritoneum yang berdekatan juga ikut meradang. Tanda-tanda lain yang akan dilihat dokter yaitu kekakuan otot-otot dinding perut.

Tes darah. Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat jumlah sel darah putih (leukosit) yang tinggi, yang menunjukkan adanya infeksi.

Tes urine. Dokter juga mungkin menganjurkan pemeriksaan urine untuk memastikan bahwa infeksi saluran kemih atau batu ginjal tidak menyebabkan rasa sakit yang Anda alami, dalam arti kata untuk menyingkirkan kemungkinan lain. Jika ternyata batu ginjal yang menjadi penyebab sakit perut, maka sel darah merah biasanya terlihat pada pemeriksaan mikroskopis urin.

Tes pencitraan. Dokter mungkin juga merekomendasikan pemeriksaan X-ray atau rongsen perut, USG atau computerized tomography (CT) scan untuk membantu mengkonfirmasi apakah benar sedang berlangsung radang usus buntu atau jika tidak, untuk mencari penyebab lain.

Itulah kira-kira gambaran mengenai gejala usus buntu beserta pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis penyakit usus buntu (apendisitis), pananganan yang cepat dan tepat menentukan prognosis yang baik. Sebaliknya, penanganan yang terlambat akan berakibat fatal, jadi waspadailah gejala usus buntu yang mungkin Anda alami.

 

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer