KAD – Ketoasidosis Diabetik

Ketoasidosis Diabetik (KAD) merupakan kedaruratan pada diabetes melitus (DM) tipe I. Dengan tata laksana yang adekuat, angka kematian dapat ditekan sampai 2%.

Definisi Ketoasidosis Diabetik (KAD) adalah adanya kadar gula darah > 300 mg/dl, ketonemia, dan asidosis (pH < 7,32 dan kadar bikarbonat < 15 mEq/L. KAD dapat dicegah dengan tata laksana DM yang baik. Edukasi pada pasien sangat penting.

cara mencegah diabetes melitus

Ketoasidosis Diabetik (KAD) dapat didiagnosis melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

Anamnesis

  • Kasus baru DM tipe 1 seringkali bermanifestasi sebagai KAD sehingga manifestasi klasik DM yaitu poliuria, polidipsia, dan polifagia dapat ditemukan.
  • Gejala-gejala lain seperti asidosis dikeluhkan sebagai pernafasan cepat dan dalam (Kussmaul) dengan bau pernafasan aseton.
  • Ketonemia akan terlihat sebagai berat badan yang menurun akibat proses glikoneogenesis dan glikolisis.
  • Dalam keadaan KAD berat (pH < 7.1 dan kadar bikarbonat serum < 10 mEq/L) pasien datang berobat dalam keadaan syok dengan atau tanpa koma.
  • Pasien DM tipe 1 lama, sering disertai gejala tambahan seperti nyeri perut dan malaise.
  • Kita mewaspadai adanya KAD apabila kita temukan dehidrasi berat namun masih terjadi poliuria.

Pemeriksaan fisis

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan gejala asidosis, dehidrasi sedang sampai berat dengan atau tanpa syok, bahkan sampai koma

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang awal yang utama adalah kadar gula darah (>300 mg/dl), urinalisis (ketonuria), dan analisis gas darah (pH < 7.3). Kadar elektrolit darah, keton darah, darah tepi lengkap, dan fungsi ginjal diperiksa sebagai data dasar.

Dasar pengobatan ketoasidosis diabetik adalah:
•     Terapi cairan
•     Insulin
•     Koreksi gangguan elektrolit
•     Pemantauan
•     Penanganan infeksi

 

Medikamentosa

Terapi cairan

Prinsip-prinsip resusitasi cairan

  1. Apabila terjadi syok, atasi syok terlebih dahulu dengan memberikan cairan NaCl 0,9% 20 ml dalam 1 jam sampai syok teratasi.
  2. Resusitasi cairan selanjutnya diberikan secara perlahan dalam 36 – 48 jam berdasarkan derajat dehidrasi.
  3. Selama keadaan belum stabil secara metabolik (kadar bikarbonat natrium> 15 mE/q/L, gula darah < 200 mg/dl, pH > 7,3) maka pasien dipuasakan.
  4. Perhitungan kebutuhan cairan resusitasi total sudah termasuk cairan untuk mengatasi syok.
  5. Apabila ditemukan hipernatremia maka lama resusitasi cairan diberikan selama 72 jam.
  6. Jenis cairan resusitasi awal yang digunakan adalah NaCl 0.9% Apabila kadar gula darah sudah turun mencapai <250 mg/dl cairan diganti dengan Dekstrosa 5% dalam NaCl 0,45%.

Terapi insulin

Prinsip-prinsip terapi insulin

  1. Diberikan setelah syok teratasi dan resusitasi cairan dimulai.
  2. Gunakan rapid (regular) Insulin secara intravena dengan dosis insulin antara 0,05 -0,1 U/kgBB/jam. Bolus insulin tidak perlu diberikan
  3. Penurunan kadar gula secara bertahap tidak lebih cepat dari 75 – 100 mg/dl/jam.
  4. Insulin intravena dihentikan dan asupan per oral dimulai apabila secara metabolik sudah stabil (kadar biknat> 15 mEq/q/L, q/L, gula darah <200 mg/dl, pH > 7.3). Sebelum insulin dihentikan asupan per oral diberikan dengan menambah dosis insulin sebagai berikut :
    1. Untuk makan ringan dosis insulin digandakan 2 kali selama makan sampai 30 menit setelah selesai.
    2. Untuk makan besar dosis insulin digandakan 3 kali selama makan sampai 60 menit setelah selesai.
  5. Selanjutnya insulin regular diberikan secara subkutan dengan dosis 0,5-1 U/kgBB/hari dibagi 4 dosis atau untuk pasien lama dapat digunakan dosis sebelumnya.
  6. Untuk terapi insulin selanjutnya dirujuk ke dokter ahli endokrinologi anak.

 

Koreksi elektrolit

1.   Tentukan kadar natrium dengan menggunakan rumus :
Kadar Na terkoreksi = Na + 1.6 (kadar gula darah – 100) /  100
(nilai gula darah dalam satuan mg/dL).

2.   Pada hipernatremia gunakan cairan NaCl 0,45%.
3.   Kalium diberikan sejak awal resusitasi cairan kecuali pada anuria. Dosis K = 5 mEq/kgbb per hari diberikan dengan kekuatan larutan 20-40 mEq/L dengan kecepatan tidak lebih dari 0,5 mEq/kg/jam.
4.   Asidosis metabolik tidak perlu dikoreksi.

Penanganan Ketoasidosis Diabetik (KAD) yang berhasil tidak terlepas dari pemantauan yang baik, meliputi, nadi, kecepatan pernafasan, tekanan darah, pemeriksaan neurologis, kadar gula darah, balans cairan, suhu badan. Keton urin harus sampai negatip.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer