Mengenal Lalat Tse Tse yang Bisa Sebabkan Penyakit Tidur

Tahukah Anda bahwa ada jenis lalat yang bisa menyebabkan seseorang menjadi mengantuk sehingga akan tertidur terus, ya Lalat Tse Tse adalah jenis lalat yang bisa menyebabkan penyakit tidur, simak terus untuk penjelasan lebih lanjut.

Mungkin anda belum pernah mendengar istilah “penyakit tidur”, ya memang penyakit ini lebih populer di Afrika. Istilah penyakit tidur digunakan karena ketika penyakit ini telah memasuki tahap lanjut, penderitanya akan menjadi lemas dan mudah tertidur hingga akhirnya meninggal dunia. Setiap tahunnya, terdapat sekitar 300 ribu orang yang dilaporkan tewas akibat penyakit tidur ini.

Penyakit tidur atau Trypanosomiasis adalah penyakit yang menyerang sistem saraf. Penyakit ini disebabkan oleh mikroba Trypanosoma, selain menyerang manusia, trypanosomiasis juga menyerang hewan ternak yang menyebabkan hewan tersebut mengalami penurunan produktivitas hingga kematian. Mikroba inilah yang dibawa sang lalat untuk menyebarkan penyakit tidur.

Lalat tsetse merupakan sarangga yang bertanggung jawab atas penyebaran penyakit ini, kita sebut sebagai vektor atau pembawa. Ketika lalat tse tse menghisap darah orang yang menderita penyakit tidur, mikroba Trypasonoma dari orang tersebut akan ikut terhisap dan kemudian tinggal di dalam tubuh lalat tsetse, dan  ketika lalat tersebut menghisap darah dari orang yang sehat, mikroba Trypanosoma dalam tubuh lalat tsetse akan masuk ke dalam aliran darah orang yang sehat sehingga orang tersebut juga mengalami penyakit tidur.

Ciri-Ciri Lalat Tse Tse

Tse Tse merupakan jenis lalat yang hanya terdapat di benua Afrika, khususnya Afrika tengah. Terdapat sekitar 20 spesies lebih lalat tsetse yang sudah diketahui jenisnya. Secara sepintas, lalat tsetse tampak tidak berbeda dari lalat-lalat lain pada umumnya. Pada bagian kepalanya terdapat sepasang mata majemuk berukuran besar, pada bagian punggung terdapat sepasang sayap yang transparan. Namun Apabila diamati dengan lebih seksama, akan tampak perbedaannya dimana lalat tsetse memiliki ciri fisik khusus yang tidak ditemukan pada lalat jenis lain yaitu lalat tsetse mempunyai moncong atau proboscis yang panjang seperti jarum di bagian kepalanya, tubuhnya memiliki warna kemerahan, dan posisi sayapnya terlipat rata diatas punggungnya dan tidak tampak menonjol seperti sayap lalat rumahan pada umumnya.

Lalat Tsetse Dewasa

Daur Hidup Lalat Tse Tse

Lalat tsetse megalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari 4 tahapan :

  1. fase telur
  2. fase larva belatung
  3. fase kepompong, dan
  4. lalat dewasa.

Berbeda dengan siklus hidup lalat pada umumnya, siklus hidup lalat tsetse bisa dibilang unik, karena pada saat sudah waktunya bertelur, induk lalat tse tse akan tetap menyimpan telur tersebut di dalam tubuhnya hingga telur tersebut menetas menjadi larva. Larva yang baru menetas tersebut akan tetap berada di dalam tubuh induknya dan hidup dengan cara mengkonsumsi senyawa yang menyerupai cairan susu yang dihasilkan oleh kelenjar di tubuh induknya.

Setelah larva tumbuh menjadi lebih besar, larva lalat tsetse akan lahir dan keluar dari tubuh induknya. Namun sayangnya, masa hidup larva di dunia luar relatif singkat, hanya dalam waktu beberapa jam setelah itu mereka akan segera mencari tempat untuk berlindung karena pada fase berikutnya merekan akan mengubah dirinya menjadi pupa atau kepompong. Setelah beberapa menjalani fase kepompong, akhirnya keluarlah lalat dewasa dari kepompong tersebut.

Sifat Lalat Tse Tse Dewasa

Lalat tsetse dewasa hanya dapat bertahan hidup ketika selalu mendapat makanan dari menghisap darah mamalia, dan usia rata-rata untuk bertahan hidup adalah hingga 4 bulan. Lalat ini dilengkapi dengan probosis panjang yang digunakan untuk menembus tubuh inangnya, pada saat lalat tsetse menghisap darah, saat itu pulalah mikoorganisme parasit Trypanosoma ditransmisikan dan menginfeksi inangnya.

Seekor lalat tsetse juga mentransmisikan penyakit tidur dengan cara menggigit manusia atau hewan yang terinfeksi, mengambil parasitnya, dan menginfeksi inang berikutnya. Lalat tsetse biasanya menggigit manusia dan hewan pada siang hari dan mereka hidup di tepian danau dan sungai, sehingga membuat banyak tempat di daerah Afrika menjadi tidak layak huni.

Seputar Penyakit Tidur

Human African trypanosomiasis, juga disebut penyakit tidur, disebabkan oleh trypanosoma dari spesies Trypanosoma brucei. Penyakit ini selalu fatal jika tidak diobati namun hampir selalu dapat disembuhkan dengan obat-obatan saat ini, jika penyakit ini didiagnosis sejak dini.

Penyakit tidur dimulai dengan gigitan tsetse menyebabkan inokulasi dalam jaringan subkutan (bawah kulit). Infeksi bergerak ke sistem limfatik, yang mengarah ke pembengkakan kelenjar getah bening yang disebut tanda Winterbottom. Infeksi berkembang ke dalam aliran darah dan akhirnya menyeberang ke sistem saraf pusat dan menyerang otak yang menimbulkan kelesuan ekstrim, mengantuk dan akhirnya kematian.

Bentuk lain dari trypanosomiasis manusia juga ada namun tidak ditularkan oleh tsetse. Yang paling penting adalah trypanosomiasis Amerika, dikenal sebagai penyakit Chagas, yang terjadi di Amerika Selatan, disebabkan oleh Trypanosoma cruzi, dan ditularkan oleh serangga tertentu dari Reduviidae, anggota Hemiptera.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer