Marasmus dan Kwashiorkor, Apa Perbedaannya?

Kwashiorkor dan marasmus adalah dua contoh penyakit akibat gizi buruk (malnutrisi) yang sering kita kenal sebagai busung lapar. Meskipun keduanya hampir sama, namun kita perlu tahu bagaimana membedakan kedua kondisi tersebut satu sama lain. Lantas apa perbedaan marasmus dan kwashiorkor?

Tahukah Anda, bahwa tubuh kita membutuhkan kalori, protein, dan nutrisi untuk menunjang keseluruhan fungsi tubuh agar berjalan normal. Tanpa nutrisi yang cukup, otot-otot akan lemas bahkan mengecil, tulang menjadi rapuh, kecerdasan menurun, dan fikiran menjadi terganggu.

gizi buruk busung lapar

Kalori adalah unit satuan energi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsinya. Selain sumber energi, tubuh kita juga memerlukan sejumlah besar protein. Tanpa protein yang cukup, maka perbaikan sel dan pembentukan sel-sel baru menjadi terhambat, sebagai contoh dalam proses penyembuhan luka.

Dengan demikian, apabila kita tidak mengkonsumsi nutrisi yang cukup, maka tubuh menjadi kurang gizi. Salah satu jenis kekurangan gizi adalah kekurangan gizi energi protein atau disebut dengan Malnutrisi Energi Protein (MEP). Dua jenis gizi buruk ini adalah marasmus dan kwashiorkor. Mari kita pelajari masing-masing beserta perbedaannya.

Perbedaan Gejala Marasmus dan Kwashiorkor

Kekurangan gizi dapat terjadi karena beberapa alasan, mungkin saja karena sumber makanan yang tidak tersedia, atau mungkin diakibatkan oleh kondisi yang menyulitkan untuk makan, menyerap nutrisi, atau menyiapkan makanan. Minum alkohol terlalu banyak juga dapat menyebabkan kekurangan gizi.

Gejala-gejala kekurangan gizi meliputi:

  • Kelelahan
  • Kesulitan untuk tetap hangat (mempertahankan suhu tubuh)
  • Suhu tubuh lebih rendah
  • Diare
  • Nafsu makan berkurang
  • Sifat lekas marah
  • Kelemahan
  • Bernapas lebih lambat
  • Mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki
  • Kulit kering
  • Rambut rontok
  • Memar

# Gejala Marasmus

Marasmus terjadi ketika tubuh kekurangan energi (Kalori) yang lebih sering terjadi pada anak-anak dan bayi. Kondisi ini akan menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan. Gejala-gejala marasmus meliputi:

  • Penurunan berat badan
  • Dehidrasi
  • Diare kronis
  • Perut cekung (kempes)

Seorang anak akan lebih berisiko jika tinggal di daerah pedesaan di mana sulit untuk mendapatkan makanan atau daerah yang memiliki kekurangan makanan. Atau pada bayi yang tidak diberi ASI. Lebih lanjut silahkan baca: Kwashiorkor : Gejala, Penyebab, Penatalaksanaan

# Gejala Kwashiorkor

Kwashiorkor terjadi pada orang yang memiliki kekurangan protein yang parah. Anak-anak yang mengalami kwashiorkor biasanya berumur lebih tua dari anak-anak yang mengembangkan marasmus. Apabila seorang anak lebih banyak mengonsumsi karbohidrat sebagai makanan utamanya, maka ini menjadi faktor resiko utama.

Gejala-gejala kwashiorkor meliputi:

  • Edema, atau bengkak atau penampilan bengkak karena retensi cairan
  • Perut buncit dan menonjol
  • Ketidakmampuan untuk tumbuh atau bertambahnya berat badan

Seorang anak akan lebih berisiko jika tinggal di daerah pedesaan di mana akses untuk mendapatkan makanan kaya protein begitu terbatas. Anak-anak bayi yang tidak mendapatkan ASI juga berisiko apalagi tidak mendapatkan makanan kaya protein.

perbedaan marasmus dan kwashiorkor

Gambar perbedaan marasmus dan kwashiorkor

Jika kedua kelompok gejala ada secara bersamaan, maka disebut sebagai marasmus-kwashiorkor.

Penyebab marasmus dan kwashiorkor

Marasmus disebabkan oleh kekurangan energi atau kalori karena asupan makan yang kurang, sedangkan kwashiorkor disebabkan oleh asupan protein yang kurang, meskipun sudah cukup makan sumber kalori yang lain, misalnya hanya makan nasi dan ubi tanpa lauk ataupun zat gizi lain yang mengandung protein.

Penyebab utama dari kedua kondisi ini adalah kurangnya asupan makanan. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi akses seseorang terhadap makanan meliputi:

  • kelaparan
  • ketidakmampuan pengasuh untuk mendapatkan makanan karena kurangnya transportasi atau ketidakmampuan fisik
  • hidup dalam kemiskinan

Hal-hal lain yang dapat menyebabkan gizi buruk meliputi:

  • memiliki gangguan makan
  • kurang pendidikan tentang kebutuhan nutrisi
  • penggunaan obat yang mengganggu penyerapan nutrisi
  • memiliki kondisi medis yang meningkatkan kebutuhan tubuh akan kalori
  • Kekurangan vitamin A,  E, dan K.

Pengobatan

Kedua kondisi dapat diobati dengan perlahan-lahan dengan cara meningkatkan asupan kalori. Dokter Anda dapat menambahkan suplemen protein cair jika anak memiliki masalah mencerna makanan. Dokter sering merekomendasikan suplemen multivitamin dan mungkin meresepkan obat untuk meningkatkan nafsu makan. Jika gejalanya parah, rawat inap mungkin diperlukan.

Baca: Sumber Makanan Tinggi Protein Terbaik

Mencari bantuan sesegera mungkin penting bagi pemulihan dan kelangsungan hidup jangka panjang. Anak-anak yang mengembangkan kwashiorkor mungkin tidak mencapai potensi mereka secara penuh. Jika seorang anak tidak mendapatkan pengobatan dini, mereka dapat mengembangkan cacat mental dan fisik permanen. Kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian jika kasus yang berat tidak segera diobati.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer