Penyebab Bayi Muntah dan Cara Mengatasinya

Setiap orang tua pasti akan khawatir ketika menyaksikan sang buah hati mengalami muntah-muntah. Apalagi bayi sering muntah setelah minum susu atau makan, wah bisa-bisa perutnya gak ada isi, dan badan menjadi lemas karena dehidrasi atau kekurangan cairan. Bahaya ini!

Pada kondisi yang seperti ini maka setidaknya kita bisa menduga apa saja yang menjadi penyebab bayi sering muntah, karena dengan mengetahui penyebabnya maka akan mempermudah dalam hal penanganan serta pencegahan dikemudian hari.

Apakah benar, bayi muntah?

penyebab muntah pada bayi

Perlu diketahui bahwa muntah berbeda dengan gumoh. Gumoh sering pada bayi yang masih kecil dan sering terjadi setelah menyusu dengan cairan yang keluar hanya sedikit dan mungkin hanya menetes. Sedangkan muntah pada bayi ditandai dengan keluarnya cairan dari mulut yang banyak dan terkadang menyembur, seringkali membuat bayi menjadi nangis atau rewel dan mungkin disertai dengan gejala lainnya.

Ada banyak masalah yang bisa menjadi penyebab bayi muntah, mulai dari masalah yang ringan hingga yang berat.

Masalah Makan/Menyusu

Ketika bayi berusia beberapa bulan pertama, muntah kemungkinan besar disebabkan oleh masalah makan, seperti overfeeding (terlalu banyak dikasih susu) atau gangguan pencernaan. Penyebab muntah pada bayi yang tergolong jarang yaitu alergi terhadap protein dalam ASI atau susu formula.

Menangis berlebihan

Mungkin Anda sering menyaksikan ketika bayi atau anak-anak sedang menangis terlalu kuat atau lama, maka ia akan cendrung terbatuk-batuk lalu disusul dengan muntah. Namun jangan khawatir ketika ini terjadi, karena jarang sekali menimbulkan masalah yang serius.

Infeksi virus atau bakteri

Setelah bayi berumur beberapa bulan berikutnya, infeksi virus pada saluran cerna dan penyakit usus lainnya merupakan penyebab muntah yang paling mungkin. Jika virus atau bakteri menginfeksi lapisan lambung atau usus bayi, maka gejala lain selain bayi sering muntah yaitu diare, kehilangan nafsu makan, sakit perut, dan demam. Muntah biasanya akan berhenti setelah 12 hingga 24 jam.

Infeksi lain

Hidung mampet, pilek atau infeksi saluran pernapasan juga bisa menyebabkan muntah, terutama ketika bayi terbatuk-batuk. Selain itu, infeksi saluran kemih dan bahkan infeksi telinga terkadang juga dapat menyebabkan mual dan muntah. Bahayanya, muntah pada bayi juga merupakan gejala penyakit serius seperti pneumonia, meningitis, radang usus buntu, dan, dalam kasus yang jarang, sindrom Reye.

Penyakit GERD

Jika tampak sehat, tetapi bayi muntah setelah minum susu atau makan, maka salah satu kemungkinan penyebabnya adalah penyakit gastroesophageal reflux (GERD). Reflux terjadi ketika otot antara esofagus bayi dan lambung tidak bekerja dengan benar, sehingga makanan dan asam lambung akan kembali naik dari lambung ke tenggorokan.

Ini akan terasa begitu menyakitkan, perut terasa panas, dada dan tenggorokan terasa seperti terbakar, walaupun bayi belum bisa mengatakannya. Sangat penting untuk periksa ke dokter jika Anda curiga bayi mengalami GERD, dokter akan memberikan resep obat untuk membantu membuat bayi menjadi lebih nyaman.

Stenosis pilorus

Ini merupakan penyebab bayi muntah yang termasuk kelainan bawaan. Jika hal ini terjadi, maka gejala muntah akan dialami dalam beberapa minggu pertama setelah bayi dilahirkan dan jarang gejala pertama kali muncul setelah bayi berusia 6 bulan. Pada bayi dengan stenosis pilorus, otot yang mengontrol saluran tempat lewatnya makanan dari lambung ke usus menjadi mengencang sehingga makanan tidak bisa melewatinya sebagai akibatnya labung dan isinya akan kembali naik dan dikeluarkan sebagai muntah.

Kondisi ini biasanya ditandai dengan muntah proyektil kuat dan memerlukan perhatian medis segera, karena sangat berpotensi menyebabkan kekurangan gizi, dehidrasi, dan masalah kesehatan lainnya. Stenosis pilorus dapat diperbaiki dengan operasi.

Mabuk Perjalanan

Bayi dan anak-anak juga bisa mengalami mabuk perjalanan, misalnya ketika bayi diajak bepergian jauh dengan mengadarai mobil, bus, atau kapal laut. Para ahli percaya bahwa mabuk perjalanan terjadi ketika adanya ketidakseimbangan antara apa yang bayi lihat dengan apa yang ia rasakan dengan pergerakan tubuhnya dan ini di atur oleh sensor keseimbangan yang ada pada  telinga bagian dalam dan beberapa saraf di otak.

Keracunan

Penyebab bayi muntah lainnya yang sulit dideteksi adalah keracunan. Hal ini dapat terjadi ketika bayi menelan sesuatu yang beracun, seperti obat-obatan, tanaman, atau bahan kimia. Bisa juga melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Selain muntah, bayi juga biasanya akan mengalami diare.

[highlight]Cara Mengatasi Bayi Muntah[/highlight]

Cara-cara berikut ini dapat membantu mengatasi sekaligus mencegah muntah pada bayi:

  • Pada bayi yang muntah setelah disusui, maka berilah ia jumlah yang lebih sedikit, kemudian picu agar ia bersendawa dengan cukup. Caranya tegakkan badan bayi atau anak setelah menyusui dalam beberapa menit sampai ia bersendawa.
  • Apabila terdapat banyak dahak dan lendir karena bayi sedang pilek, cobalah gunakan semprotan khusus untuk membersihkan hidungnya dengan cairan saline. Mungkin ini akan membuat bayi tak nyaman, tetapi ini tidak menyakitkan dan dapat membantu meredakan hidung tersumbat dan tentunya agar bayi tidak muntah. Lebih lengkap baca di sini: Mengatasi Pilek Batuk Pada Bayi
  • Jika bayi mabuk perjalanan, lebih banyaklah berhenti selama perjalanan untuk memberikan kesempatan kepada bayi agar mendapatkan udara segar dan menenangkan perutnya. Bagi bayi yang sudah makan, berilah makanan kecil sebelum perjalanan dimulai dan sediakan cairan untuk dapat diminum sehingga jangan sampai kekurangan cairan nantinya yang malah akan membuat kondisi menjadi lebih buruk.
  • Jangan beri anak atau bayi obat muntah tanpa rekomendasi dari dokter, hubungi dokter jika kondisi bayi tak kunjung membaik.

Dengan mengetahui hal-hal yang menjadi penyebab bayi muntah, semoga ini menjadi langkah awal agar kita berhati-hati jangan sampai  itu terulang kembali.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer