Memilih Obat Sakit Lambung Sesuai Indikasi

Obat sakit lambung merupakan istilah umum untuk mengatasi berbagai masalah pada lambung (maag) yang mencakup obat penurun asam lambung, tukak lambung, asam lambung naik (GERD) dan gastritis atau peradangan pada lambung. Kita tidak boleh asal minum obat, karena setiap obat memiliki cara kerjanya masing-masing.

Mengenal Jenis Sakit Lambung yang Anda Alami

Sebelum membahas obat sakit lambung, kita pahami dulu jenis-jenis gangguan lambung. Sakit lambung umumnya digunakan untuk menggambarkan rasa sakit atau ketidaknyamanan di perut bagian atas (ulu hati). Gejala lain biasanya meliputi mulas, kembung, bersendawa dan mual. Lebih lanjut dalam ilmu kedokteran kondisi ini disebut dengan dispepsia.

sakit lambung akan terasa di daerah ulu hati

sakit lambung akan terasa di daerah ulu hati

Ketika seseorang mengalami sakit lambung, maka yang pertama kali dilakukan oleh dokter adalah mencari penyebab organik, maksudnya organik adalah gangguan nyata secara fisik seperti tukak, radang dan kanker pada lambung. Jika hasilnya ternyata tidak ada kelainan tersebut, alias normal dan tidak ada penyebab organik, maka nyeri lambung tersebut disebut dengan istilah dispepsia non-ulkus.

Dispepsia non-ulkus , juga dikenal sebagai dispepsia fungsional, faktanya bahwa ini merupakan kasus sakit lambung kebanyakan. Kata dispepsia itu sendiri mengacu pada adanya nyeri persisten atau berulang atau ketidaknyamanan yang berpusat di perut bagian atas.

Apa penyebab sakit lambung organik?

Sementara dispepsia non-ulkus tidak memiliki penyebab yang jelas, dokter menduga hal ini berhubungan dengan stres. Adapun pada dispepsia organik, pada sebagian kecil kasus, pemeriksaan dapat mengungkapkan bahwa sakit lambung bisa disebabkan oleh salah satu dari kondisi berikut ini:

  • Penyakit ulkus peptikum: Disebut juga dengan tukak lambung, adanya kerusakan pada lapisan terdalam dari lambung atau dinding duodenum (usus 12 jari). Kebanyakan tukak lambung disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori (H. pylori), serta penggunaan obat non -steroidal anti-inflammatory (NSAID) seperti aspirin dan obat penghilang rasa sakit lainnya. Infeksi H. pylori dapat dikesampingkan dengan tes darah, urea breath test, tes feses atau tes dilakukan selama endoskopi.
  • Gastro-esofagus reflux disease (GERD). Sebuah kondisi kronis di mana asam lambung mengalir kembali ke esofagus (kerongkongan) dan menimbulkan iritasi. Untuk mendeteksi GERD, dokter dapat merekomendasikan endoskopi. Dalam pemeriksaan ini, tabung tipis yang berisi kamera kecil dilewatkan melalui mulut untuk melihat kondisi kerongkongan, lambung dan duodenum.
  • Penyakit batu empedu : Batu empedu biasanya tidak menyebabkan tanda-tanda atau gejala. Namun, radang kandung empedu atau penyumbatan saluran empedu dapat menyebabkan sakit perut parah. Kadang-kadang, batu empedu sendiri dapat menyebabkan rasa sakit tanpa peradangan yang signifikan dari kantong empedu atau penyumbatan saluran empedu. USG dan CT scan dapat membantu mendeteksi adanya batu empedu.
  • Kanker : Kanker lambung, kanker pankreas atau kanker hati juga bisa menyebabkan sakit perut pada daerah lambung. Kanker dapat dikesampingkan selama endoskopi, sampel jaringan kecil dapat diperoleh dan diperiksa untuk melihat ada tidaknya sel-sel kanker.

Saat Mencari Pengobatan Sakit Lambung

Jangan mencoba untuk minum obat sakit lambung sendiri, Jika Anda menderita sakit lambung dengan kondisi di bawah ini, maka segeralah mencari pengobatan ke dokter:

  • Muntah darah atau tinja berwarna hitam (menunjukkan adanya darah).
  • Terus-menerus muntah setelah makan.
  • Mengalami penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Merasakan sakit perut parah pada bagian atas.
  • Selain itu, Anda harus berkonsultasi dengan dokter jika gejala sakit lambung baru pertama kali ini dirasakan. Dalam kebanyakan kasus, gejala nyeri lambung yang sudah lama, kadang-kadang akan kembali kambuh dalam beberapa dekade. Gejala tersebut kemudian cenderung menunjukkan masalah kesehatan yang serius.

Pengobatan Sakit lambung

Keluhan sakit lambung yang paling banyak  adalah jenis dispepsia non-ulkus, juga dikenal sebagai dispepsia fungsional, adalah istilah yang digunakan untuk nyeri lambung ketika semua penyebab organik terbukti tidak ada melalui pemeriksaan.

Pengobatan dispepsia non-ulkus

Stres diduga menjadi penyebab dispepsia non-ulkus, dokter mungkin meresepkan obat antidepresi dosis rendah dan obat penghilang kecemasan untuk membantu meringankan gejala.

Obat sakit lambung yang bersifat mengurangi asam lambung juga sering diberikan. Ada dua jenis obat penurun asam lambung, yaitu:

  • H2 Blocker, atau histamin-2 blocker, yang meliputi cimetidine, rantidine, nizatidine dan famotidine
  • Proton pump inhibitor (PPI), yang meliputi omeprazole, lansoprazole, pantoprazole, rabeprazole, dan esomeprazole.

Meskipun kedua jenis obat tersebut bekerja dengan cara yang berbeda, namun keduanta membantu menurunkan jumlah produksi asam lambung.

Pengobatan ulkus peptikum

Jika pemeriksaan menunjukkan nyeri lambung adalah karena ulkus peptikum, maka dokter mungkin meresepkan obat untuk mengurangi asam lambung tinggi, seperti dijelaskan di atas.

Jika tukak lambung terkait dengan infeksi H. pylori, Anda juga dapat menerima terapi tiga paket jangka pendek, yang terdiri dari satu agen penurun asam lambung dan dua antibiotik yang akan diresepkan oleh dokter. Umumnya, ketiga obat sakit lambung ulkus ini berhasil mengusir bakteri hingga 90 persen kasus. Baca lebih lanjut di sini: Tukak Lambung: Gejala, Penyebab, Obat

6 Tips untuk mencegah nyeri lambung

Apapun penyebab nyeri lambung Anda, membuat beberapa perubahan pada gaya hidup sederhana seperti di bawah ini dapat menurunkan risiko mengalami gejala sakit lambung:

  • Makan lebih sedikit tapi lebih sering. Jika Anda sering menderita gangguan pencernaan, makanlah 5-6 kali makanan kecil sehari, lebih dari tiga kali makan.
  • Makan tepat waktu dan menghindari telat makan. Ini akan membiasakan lambung Anda agar hanya melepaskan cairan lambung selama waktu makan.
  • Mengkonsumsi makanan yang akrab dengan lambung. Hindarilah makanan pedas, asam, gorengan atau makanan berlemak akan membantu mengurangi gejala sakit lambung dan memungkinkan lambung yang sudah rusak untuk menyembuhkan diri.
  • Berhenti merokok. Merokok meningkatkan produksi asam lambung, memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko terkena kanker perut.
  • Lebih baik mengelola stres. Stres tinggi meningkatkan produksi asam lambung dalam perut Anda. Berolahraga secara teratur dan mengadopsi kegiatan relaksasi seperti ibadah yang khusus, yoga, dan sebagainya dapat mengendalikan stres yang notabene penyebab gangguan lambung terbanyak.

Demikianlah informasi tentang obat sakit lambung dan beberapa tips mencegah nyeri lambung. Semoga bermanfaat.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer