Skoliosis : Pengertian, Penyebab, Gejala, Pengobatan

Mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui apa itu skoliosis, padahal mungkin saja Anda telah menjumpai seseorang yang memiliki kelainan tulang belakang yang satu ini namun tidak menyadarinya. Untuk itu pada artikel ini kami akan menyediakan informasi seputar penyakit skoliosis. simak baik-baik ya!

Pengertian Skoliosis

Skoliosis adalah melengkungnya tulang belakang ke arah samping, ini kondisi yang tidak normal. Bentuk normal tulang belakang adalah membentuk kurva dari bahu ke bawah, terlihat lurus dari belakang dan terlihat sedikit melengkung ke belakang jika dilihat dari samping. Sedangkan pada skoliosis, jika dilihat dari belakang, tulang belakang melengkung ke samping seolah-olah membentuk huruf “S” atau “C”.

skoliosis

lengkungan tulang belakang akibat skoliosis

Menurut Scoliosis Research Society, lebih dari 80 persen kasus skoliosis merupakan jenis idiopatik yang artinya tidak diketahui penyebab pastinya. Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang sering didiagnosis selama tujuh tahun pertama kehidupan pada anak-anak. Adapun penyebab umum  yang berhasil diketahui yaitu cacat lahir, kelainan neurologis, dan masalah genetik.

Jenis – Jenis Skoliosis

Jenis skoliosis terbanyak (80 persen) adalah skoliosis idiopatik, yang penyebabnya tidak diketahui dengan pasti. Jenis idiopatik dipecah berdasarkan kelompok usia:

  • bayi (0-3 tahun)
  • anak (4 sampai 10 tahun)
  • remaja (11 sampai 18 tahun)
  • dewasa (18 tahun ke atas)

Ada beberapa jenis skoliosis (sekitar 20 persen) yang penyebabnya dapat diidentifikasi, termasuk:

  • kongenital (kelainan bentuk tulang belakang yang muncul saat lahir), hal ini terjadi sejak dalam kandungan ibu akibat terganggunya pertumbuhan tulang janin.
  • neurologis (ketika kelainan otak mempengaruhi saraf dan otot di tulang belakang).

Kenali Gejala dan Tandanya

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa skoliosis adalah kondisi fisik yang dapat menyebabkan melengkungnya tulang belakang ke arah samping dengan berbagai tingkat keparahan, oleh sebab itu gejalanya dapat bervariasi. Gejala umum yang terkait dengan skoliosis meliputi:

  • salah satu bahu lebih tinggi dari yang lain
  • salah satu tulang belikat lebih menonjol dari yang lain
  • tulang belakang seperti terpuntir
  • masalah pernapasan karena berkurangnya ruang gerak paru
  • sakit punggung

Penyebab Skoliosis

Dalam kebanyakan kasus, penyebab skoliosis tidak diketahui dan tidak selalu bisa dicegah. Hal ini diduga tidak terkait dengan hal-hal seperti postur tubuh yang buruk, olahraga atau diet.

Jika penyebab skoliosis tidak diketahui, maka disebut sebagai skoliosis idiopatik. Sekitar delapan dari setiap 10 kasus skoliosis adalah idiopatik. Namun, para peneliti telah menemukan ada riwayat keluarga di beberapa kasus idiopatik, yang menunjukkan adanya hubungan genetik.

Adapun pada kasus-kasus yang diketahui penyebabnya, beberapa kasus skoliosis disebabkan oleh kondisi yang mempengaruhi saraf dan otot (kondisi neuromuskular), seperti:

  • cerebral palsy – suatu kondisi yang mempengaruhi otak dan saraf dan terjadi selama atau segera setelah lahir
  • distrofi otot – suatu kondisi genetik yang menyebabkan kelemahan otot
  • neurofibromatosis – suatu kondisi genetik yang menyebabkan tumor jinak tumbuh sepanjang saraf
  • cedera tulang belakang atau infeksi

Skoliosis juga dapat berkembang sebagai bagian dari pola gejala yang disebut sindrom. Hal ini dikenal sebagai sindrom skoliosis. Kondisi yang dapat menyebabkan sindrom skoliosis meliputi:

  • Sindrom Marfan – gangguan dari jaringan ikat diwarisi oleh anak dari orang tua
  • Rett syndrome – kelainan genetik, biasanya mempengaruhi perempuan, yang menyebabkan cacat fisik dan mental yang berat

Cacat lahir

Dalam kasus yang jarang terjadi, bayi dapat lahir dengan scoliosis. Hal ini dikenal sebagai skoliosis bawaan. scoliosis bawaan disebabkan oleh tulang-tulang di tulang belakang berkembang tidak normal di dalam rahim.

Kerusakan jangka panjang

Pada orang dewasa, skoliosis kadang-kadang dapat disebabkan oleh kerusakan bertahap ke bagian tulang belakang. Hal ini dikenal sebagai skoliosis degeneratif.
Hal ini dapat terjadi karena beberapa bagian tulang belakang menjadi sempit dan lebih lemah (osteoporosis) dengan bertambahnya usia. Baca juga: Jenis-Jenis Penyakit Tulang

Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit skoliosis lebih mungkin untuk mengembangkan kondisi tersebut. Anak perempuan lebih cenderung memiliki skoliosis yang lebih parah dibandingkan anak laki-laki.

Bagaimana Skoliosis Didiagnosis?

Pemeriksaan Fisik

Karena ini merupakan kelainan bentuk tulang belakang, maka pemeriksaan fisik adalah langkah pertama yang bisa dilakukan untuk melihat kondisi tulang belakang. Dokter akan mengamati punggung secara langsung saat pasien berdiri. Dengan demikian akan terlihat apabila tulang belakangan memiliki kelegkungan yang tidak normal.

Tes pencitraan

Selain pemeriksaan fisik, beberapa bentuk tes pencitraan akan digunakan untuk melihat kondisi tulang lebih jelas. Jenis-jenis pemeriksaan dalam kelompok ini  termasuk:

  • X-ray atau rongsen: menggunakan radiasi untuk menciptakan gambaran dari tulang belakang
  • MRI: menggunakan gelombang radio dan magnet untuk mendapatkan gambaran rinci tentang tulang dan jaringan di sekitarnya
  • CT scan: sinar-X diambil di berbagai sudut untuk mendapatkan gambaran 3D dari kerangka tulang
skoliosis dengan penyokong

terapi skoliosis dengan penyokong

Langkah Pengobatan

Jenis pengobatan tergantung pada berbagai faktor, tetapi tingkat keparahan kelengkungan tulang belakang merupakan faktor utama. Dokter juga akan mempertimbangkan usia, jumlah dan jenis kelengkungan, dan jenis skoliosis.

  • Observasi. Observasi dengan pemeriksaan rongsen dapat dilakukan setiap enam bulan guna memantau perkembangan kelengkungan. Pada kasus skoliosis anak, biasanya berlangsung ringan dan tak perlu diterapi karena biasanya akan membaik seiring dengan bertambahnya usia.
  • Obat. Diberikan pada orang dewasa apabila mengalami rasa sakit akibat skoliosis. Obat yang digunakan berupa analgesik yang terdiri dari  obat antiinflamasi non-steroid (AINS), seperti ibuprofen, asam mefenamat, parasetamol, dan lain-lain.
  • Penyangga. Penyangga atau penyokong bertujuan menyokong tulang belakang agar kelengkungan tidak bertambah parah.  Biasanya terapi ini diberikan kepada penderita skoliosis anak-anak yang parah atau yang memiliki sudut lengkung lebih dari 20 derajat.
  • Operasi. Pembedahan hanya dilakukan jika perawatan skoliosis lainnya tidak sukses. Operasi biasanya diperlukan untuk orang-orang yang memiliki kelengkungan berat yang lebih besar dari 45 atau 50 derajat. Namun, Anda selalu dapat meminta opsi ini jika Anda merasa bahwa kelengkungan akibat skoliosis itu mengganggu kehidupan sehari-hari atau menyebabkan ketidaknyamanan.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer