Plasenta previa adalah perlekatan plasenta atau ari-ari yang berada di bagian bawah rahim sehingga berpotensi menutupi jalan lahir, baik sebagian ataupun keseluruhan. Kondisi ini juga berisiko menimbulkan pendarahan berulang saat hamil terutama mendekati waktu persalinan.

Plasenta merupakan organ yang terbentuk selama kehamilan. Plasenta terhubung dengan janin melalui tali pusat. Organ ini berfungsi memberi nutrisi bagi janin, membuang sisa metabolisme janin, dan memproduksi hormon untuk mempertahankan kehamilan. Untuk menjalankan fungsinya plasenta memiliki banyak pembuluh darah. Di satu sisi plasenta, beredar darah ibu, dan di sisi lain, beredar darah janin. darah ibu dan darah janin biasanya tidak bercampur di dalam plasenta.

plasenta previa

Gambar letak plasenta normal vs plasenta previa

Pada kondisi normal plasenta biasanya melekat pada bagian atas rahim dan jauh dari leher rahim. Pada kondisi yang langka, plasenta dapat melekat pada bagian bawah rahim. Karena letaknya ini plasenta dapat menutupi sebagian atau keseluruhan jalan lahir yang disebut dengan plasenta previa. Berdasarkan letaknya tersebut, maka kondisi ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

  • Plasenta previa lateralis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim namun tidak menutupi jalan lahir
  • Plasenta previa parsialis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim dan menutupi sebagian jalan lahir
  • Plasenta previa totalis yaitu plasenta yang melekat rendah di dekat leher rahim dan menutupi keseluruhan jalan lahir

Plasenta previa sudah bisa terlihat pada saat kehamilan belum memasuki  minggu ke-20.  Pada kebanyakan kasus dapat sembuh sendiri dan hanya sekitar sepuluh persen yang tetap bertahan selama kehamilan berlangsung. Seiring dengan pembesaran rahim selama kehamilan, plasenta biasanya juga ikut bergerak lebih tinggi dan menjauhi leher rahim. Apabila plasenta previa tetap bertahan hingga saat tanggal taksiran persalinan, seperti yang terjadi pada 1 dari 200 kehamilan, anda berisiko untuk mengalami perdarahan, terutama selama proses penipisan dan pembukaan leher rahim. Hal ini tentunya akan menyebabkan ibu mengalami kehilangan darah yang banyak. Untuk alasan inilah, maka wanita dengan plasenta previa biasanya melahirkan bayi mereka sebelum tanggal taksiran persalinan dengan cara operasi sesar.

Mengenal Plasenta Previa Lebih Dalam

# Apa Penyebab Plasenta Previa?

Penyebab pasti plasenta previa belum diketahui. Namun kejadian plasenta previa pada wanita hamil dapat meningkat pada beberapa keadaan berikut:

  • Kehamilan pada usia tua (usia 35 tahun atau lebih)
  • Pernah mengalami kehamilan bayi kembar
  • Pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
  • Pernah menjalani operasi caesar atau operasi lain pada rahim
  • Wanita yang merokok
  • Wanita yang menggunakan kokain

# Apa Tanda dan Gejala Plasenta Previa?

Beberapa gejala yang dapat muncul ketika ibu hamil mengalami plasenta previa antara lain:

  • Dapat terjadi perdarahan namun tidak disertai rasa nyeri
  • Perdarahan yang timbul dapat terjadi berulang – ulang
  • Perdarahan timbulnya perlahan-lahan
  • Darah yang dikeluarkan masih bewarna merah segar
  • Dapat terjadi anemia dan syok, sesuai dengan jumlah perdarahan
  • Pada saat perdarahan rahim biasanya tidak berkontraksi
  • Pada perabaan, rahim tidak tegang (biasa)
  • Pemeriksaan denyut jantung janin biasanya normal
  • Presentasi janin dalam rahim mungkin tidak normal.
  • Penurunan kepala masih tinggi atau belum masuk pintu atas panggul

# Pengobatan Plasenta Previa

Hati-hati, ibu hamil yang dicurigai atau diketahui mengalami plasenta previa tidak boleh dilakukan pemeriksaan dalam ataupun pemasangan tampon vagina. Hal ini berisiko bagi ibu, karena dapat memperbanyak perdarahan dan menimbulkan infeksi.

Penatalaksaaan terhadap plasenta previa sangat tergantung pada beberapa hal berikut, yaitu jumlah perdarahan yang terjadi, umur kehamilan, dan jenis plasenta previa itu sendiri. Ibu harus segera dikirim ke rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk melakukan transfusi darah dan operasi. Untuk pencegahan terhadap syok hipovolemik dapat dilakukan pemasangan infus dengan menggunakan jarum besar, lalu dilakukan pemberian cairan NaCl/RL sebanyak 2 -3 kali jumlah perkiraan darah yang hilang.

Secara umum terdapat 3 jenis penatalaksanaan plasenta previa, yaitu perawatan konservatif, persalinan pervaginam, dan persalinan perabdominal.

Perawatan Konservatif

Perawatan konservatif adalah perawatan yang bertujuan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan maksimal. Syarat Perawatan konservatif adalah :

  • Kehamilan belum cukup bulan
  • Perdarahan sedikit (Hb masih normal)
  • Tempat tinggal dekat dengan rumah sakit (perjalanan selama 15 menit).

Perawatan konservaitif dilakukan dilakukan dengan cara :

  • Mengistirahatkan ibu
  • Memberikan hematinik untuk mengatasi anemia
  • Memberikan tokolitik untuk mengurangi kontraksi uterus
  • Memberikan antibiotik bila ada indikasi infeksi
  • Melakukan pemeriksaan USG
  • melakukan pemeriksaan darah

Apabila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif maka lakukan mobilisasi bertahap dan pasien dibolehkan pulang.

Persalian Pervaginam

persalinan pervaginam adalah tindakan melahirkan janin dengan cara persalinan normal. Persalinan pervaginam dilakukan pada plasenta previa marginalis, plasenta previa letak rendah, plasenta previa lateralis dengan pembukaan 4 cm atau lebih. Syarat persalinan per vaginam adalah :

  • Kehamilan sudah cukup bulan
  • Perdarahan banyak
  • Janin yang dikandung mati

Persalinan Perabdominal

persalinan perabdominal adalah tindakan melahirkan janin dengan cara operasi sesar. Indikasi operasi sesar pada plasenta previa dilakukan pada beberapa kondisi berikut:

  • Plasenta previa totalis
  • Plasenta previa lateralis dimana perbukaan masih kurang dari 4 cm
  • Perdarahan yang banyak dan tanpa henti
  • Presentasi janin yang tidak normal
  • Ibu hamil dengan panggul sempit.