Retensio plasenta adalah tidak lahirnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah bayi dilahirkan. Plasenta tidak lahir-lahir meskipun prosedur normal sudah dilakukan dengan baik. Apabila dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan pendarahan dan infeksi.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang retensio plasenta, perlu diketahui bahwa proses persalinan normal terdiri dari empat tahapan yang disebut dengan kala yaitu kala I pembukaan, kala II pengeluaran bayi, kala III pengeluaran plasenta, dan kala IV pemulihan. Oleh karena itu proses persalinan tidak segera selesai begitu saja setelah bayi dilahirkan, melainkan masih ada tahap ketiga yang tidak kalah penting yaitu melahirkan plasenta. Sama halnya dengan dua tahap sebelumnya, tahap ketiga dalam persalinan ini juga bisa cepat atau malah lebih lama.

retensio plasenta

Salah satu upaya untuk memudahkan lahirnya plasenta yaitu dengan Inisiasi menyusu dini (IMD). IMD dapat membantu menjaga produksi oksitosin, yang membantu kontraksi uterus optimal untuk mendorong pelepasan plasenta secara alami. Alternatif lainnya adalah dengan manajemen aktif kala tiga yaitu dengan menggunakan suntikan oksitosin sintetis untuk menginduksi kontraksi uterus agar dapat membantu mengeluarkan plasenta. Pada kasus yang jarang terjadi, sekitar 0,5 – 1% dari kelahiran, mungkin saja terjadi gangguan dalam pengeluaran plasenta, salah satunya dapat berupa retensio plasenta.

Retensio plasenta secara umum didefinisikan sebagai plasenta yang belum mengalami pengeluaran dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir meskipun kala III persalinan telah dikelola secara aktif. Risiko dari kondisi ini termasuk perdarahan dan infeksi.

Mengenal Retensio Plasenta Lebih Dalam

# Apa Penyebab Retensio Plasenta?

Secara umum terdapat dua hal utama yang menjadi penyebab lamanya plasenta lahir yaitu plasenta belum lepas dari dinding uterus atau plasenta sudah lepas dari dinding uterus, tetapi belum dikeluarkan.

Plasenta Belum Lepas

Plasenta yang belum juga lepas setelah 30 menit bayi lahir dapat disebabkan oleh sebab normal (fisologis-anatomis), maupun akibat kelainan (patologis-anatomis).

Sebab fisiologis-anatomis retensio plasenta antara lain :

  • His atau kontraksi rahim yang kurang kuat
  • Tempat melekatnya plasenta yang berada di sudut tuba falopi
  • Bentuk plasenta membranacea dan plasenta anularis
  • Ukuran plasenta yang sangat kecil

Sebab patologis-anatomis retensio plasenta antara lain :

  • Plasenta Adhesiva yaitu tertanamnya plasenta secara kuat pada rahim sehingga menyebabkan kegagalan pada mekanisme separasi fisiologis.
  • Plasenta Akreta yaitu plasenta yang tertanam hingga memasuki sebagian lapisan otot rahim.
  • Plasenta Inkreta yaitu plasenta yang tertanam hingga memasuki keseluruhan lapisan otot rahim
  • Plasenta Perkreta yaitu plasenta yang tertanam menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan terluar rahim.
  • Plasenta Inkarserata adalah plasenta yang tertahan di dalam rahim akibat menyempitnya mulut rahim.

Plasenta Sudah Lepas

Apabila plasenta sudah lepas, tetapi belum dilahirkan, maka hal ini bisa disebabkan oleh:

  • Kontraksi rahim yang tidak adekuat (atonia uteri)
  • Akibat kesalahan dalam penanganan pada kala III persalinan, seperti manipulasi rahim yang dilakukan sebelum terjadinya pelepasan  plasenta sehingga menyebabkan kontraksi rahim menjadi tidak teratur,
  • Pemberian uterotonik, obat yang meningkatkan kontraksi rahim, yang tidak tepat waktu sehingga  menyebabkan leher rahim berkontraksi sehingga menutup mulut rahim.

Selain beberapa penyebab di atas, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko retensio plasenta, termasuk diantaranya:

  • Grandemultipara, yaitu wanita yang memiliki lebih dari 5 kelahiran sebelumnya berisiko karena telah terjadi penurunan sel – sel desidua
  • Bekas luka uterus, akibat dari kuret berulang atau bekas operasi sesar berisiko karena plasenta dapat tertanam lebih dalam pada uterus
  • Kehamilan ganda, yang memerlukan implantasi plasenta yang luas.
  • Plasenta previa, karena tempat melekatnya terdapat di bagian isthmus yang mempunyai pembuluh darah sedikit, sehingga perlu melekat masuk lebih dalam.

# Apa Gejala Retensio Plasenta yang bisa diamati?

Beberapa gejala berikut dapat digunakan sebagai indikasi adanya retensio plasenta yaitu :

  • Plasenta yang belum lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir.
  • Adanya kontraksi uterus yang kurang baik.
  • Tali pusat yang terjulur keluar, kadang – kadang dapat putus akibat traksi yang berlebihan.
  • Perdarahan setelah lahir yang terus berlanjut.

Selama plasenta belum terlepas sama sekali, maka retensio plasenta tidak akan menimbulkan perdarahan, tetapi jika sebagian plasenta telah terlepas maka retensio plasenta dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. Setelah plasenta lahir rahim harus berkontraksi untuk menutup semua pembuluh darah dalam rahim. Jika plasenta tidak dilahirkan atau hanya lahir sebagian, rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik, sehingga pembuluh darah di dalam akan terus terbuka dan mengelurkan banyak darah.

# Pengobatan Retensio Plasenta

Apabila plasenta masih belum lahir dalam waktu setengah sampai satu jam setelah bayi dilahirkan, dan telah terjadi perdarahan, maka plasenta harus segera dikeluarkan dengan cara sebagai berikut:

  1. Pasang infus dengan kateter besar, lakukan  pemberian cairan kristaloid NaCL atau RL fisiologis. Lakukan transfusi darah apabila diperlukan sesuai dengan hasil pemeriksaan darah.
  2. Berikan 20-40 unit oksitosin dalam 1 liter larutan NaCl atau RL fisiologis dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 UNIT oksitosin Intra Muskular. Kemudian lanjutkan infus oksitosin 20 UNIT dalam 1 liter larutan NaCl atau RL fisiologis dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhenti
  3. Mencoba melahirkan plasenta dengan perasat Brandt-Andrews. Jika berhasil, lanjutkan drip oksitosin untuk mempertahankan uterus.
  4. Apabila plasenta tidak bisa terlepas, lakukan tindakan manual plasenta secara invasive dengan memasukkan tangan penolong persalinan langsung ke dalam rahim
  5. Apabila tindakan manual plasenta tidak mungkin dilakukan, jaringan dapat dikeluarkan dengan menggunakan tang (cunam) abortus kemudian dilanjutkan dengan kuret sisa plasenta. Hati-hati kuretase sisa plasenta harus dilakukan dengan perlahan karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan kuretase pada abortus.
  6. Setelah plasenta berhasil dikeluarkan semuanya, lanjutkan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
  7. Pemberian antibiotika profilaksis dosis tunggal (ampisilin 2 g IV dan metronidazol 500 mg IV)dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.

Hingga saat ini tidakan manual plasenta atau pengeluaran plasenta dengan tangan masih dianggap sebagai cara yang paling baik.  Sementara pada kasus retensio plasenta akibat plasenta akreta, inkreta, dan perkreta memerlukan penanganan yang lebih kusus yaitu histerektomi (pengangkatan uterus) untuk mengatasinya.