Stroke hemoragik adalah terhentinya aliran darah ke bagian otak karena pecahnya pembuluh darah. Tanpa oksigen yang dibawa oleh darah, sel-sel otak akan mati dengan sangat cepat, mengakibatkan terjadinya kerusakan permanen. Stroke bisa berat atau ringan dan akibat yang ditimbulkannya dapat berkisar dari pemulihan lengkap hingga kematian.

Secara klinis terdapat dua jenis stroke, yaitu stroke hemoragik dan stroke iskemik (non hemoragik).  Stroke hemoragik berarti terhentinya pasokan darah ke otak akibat proses perdarahan, sedangkan stroke non hemoragik terjadi akibat tersumbatnya aliran darah. Menurut American Stroke Association (ASA), stroke hemoragik hanya sekitar 13 persen dari semua stroke, namun bertanggung jawab terhadap sekitar 40 persen dari semua kematian akibat stroke.

stroke hemoragik

Mengenal Stroke Hemoragik

Apa gejala stroke hemoragik?

Gejala yang ditimbulkan akibat pendarahan otak dapat bervariasi, tetapi hampir selalu hadir segera setelah serangan stroke terjadi dan tergantung pada lokasi perdarahan, tingkat keparahan, dan seberapa luas jaringan otak yang terkena. Gejala stroke hemoragik dapat terjadi tiba-tiba atau semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Gejala stroke hemoragik meliputi:

  • Sakit kepala hebat tiba-tiba
  • Kejang tanpa riwayat kejang sebelumnya
  • Kelemahan di lengan atau kaki
  • Mual atau muntah
  • Penurunan kasadaran
  • Gangguan penglihatan
  • Kesemutan atau mati rasa
  • Kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan
  • Kesulitan menelan
  • Kesulitan menulis atau membaca
  • Kehilangan keterampilan motorik halus, seperti tremor tangan
  • Kehilangan koordinasi
  • Kehilangan keseimbangan
  • Kelainan pada rasa pengecapan
  • Kehilangan kesadaran

Penyebab Stroke Hemoragik

Ada dua kemungkinan penyebab stroke hemoragik. Penyebab paling umum adalah aneurisma. Aneurisma terjadi ketika sebagian dari pembuluh darah menjadi membesar akibat tekanan darah tinggi. Pembesaran ini menyebabkan penipisan pada dinding pembuluh darah, dan akhirnya menjadi pecah.

Penyebab stroke hemoragik lainnya yang lebih jarang adalah arteriovenous malformation (AVM). Hal ini terjadi ketika pembuluh darah kusut bersama-sama, sehingga terjadi pemintasan darah pada bagian otak. AVMs adalah kelainan bawaan yang didapat pada saat lahir, tetapi bukanlah suatu kelainan yang diturunkan. Tidak diketahui dengan pasti mengapa AVM terjadi pada beberapa orang.

Selain itu, ada beberapa faktor risiko stroke hemoragik, yang paling umum diantaranya adalah:

  • Tekanan darah tinggi: kondisi ini yang terjadi secara kronis, selama periode waktu yang panjang, akan melemahkan dinding pembuluh darah. tekanan darah tinggi yang tidak diobati merupakan penyebab utama perdarahan otak.
  • Amiloid angiopati: suatu kelainan dinding pembuluh darah yang kadang-kadang terjadi akibat proses penuaan dan tekanan darah tinggi. Hal ini dapat menyebabkan banyak perdarahan kecil yang tidak terdeteksi sebelum menyebabkan perdarahan besar.
  • Kelainan Darah atau gangguan perdarahan : Hemofilia dan anemia sel sabit, keduanya dapat menyebabkan penurunan kadar trombosit darah, sehingga lebih mudah mengalami perdarahan.
  • Penyakit hati: Kondisi ini juga berhubungan dengan meningkatnya kasus perdarahan otak.

Patofisiologi Stroke Hemoragik

Ketika suatu aneurisma pecah atau pembuluh darah yang melemah bocor, darah kemudian tumpah ke dalam atau di sekitar otak dan mengganggu jaringan otak, menyebabkan pembengkakan yang dikenal sebagai edema serebral. Darah akan menggenang dan mengumpul menjadi massa yang disebut hematoma. Kondisi ini akan meningkatkan tekanan pada jaringan otak di dekatnya, mengurangi aliran darah vital ke daerah tersebut, kemudian merusak sel-sel dan jaringan di otak.

Pendarahan ini juga dapat terjadi di dalam otak, di antara otak dan selaput yang menutupinya, di antara lapisan penutup otak atau di antara tengkorak yang meliputi otak.

Penatalaksanaan Stroke Hemoragik

Dokter dapat menentukan letak perdarahan otak dengan memperhatikan gejala yang muncul. Dokter juga dapat menjalankan berbagai tes pencitraan, seperti CT scan dan MRI, yang dapat menggambarkan pendarahan atau akumulasi darah di dalam otak. Pemeriksaan neurologis atau pemeriksaan mata yang dapat menunjukkan pembengkakan saraf optik, juga dapat dilakukan.

Sambil menunggu hasil pemeriksaan, dokter akan melakukan penatalaksanaan stroke hemoragik berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik yang meliputi 3 tahapan sebagai berikut:

  1. Terapi Darurat
    Perawatan darurat sangat penting untuk stroke hemoragik. Perawatan ini berfokus pada pengendalian pendarahan di otak dan mengurangi tekanan yang disebabkan oleh perdarahan. Obat dapat digunakan untuk mengurangi tekanan darah atau untuk memperlambat pendarahan. Apabila Anda mengalami stroke hemoragik ketika menggunakan pengencer darah, anda berada pada risiko tertentu untuk mengalami perdarahan yang berlebihan. Obat untuk menangkal efek dari pengencer darah biasanya diberikan langsung selama pengobatan darurat.
  2. Terapi Bedah
    Setelah stroke hemoragik dapat dikendalikan dengan perawatan darurat, dan hasil pemeriksaan pencitraan telah keluar, maka tindakan pengobatan lebih lanjut dapat dilakukan. Untuk kasus stroke yang berat, operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki pembuluh darah yang pecah dan menghentikan pendarahan. Jika stroke disebabkan oleh AVM, operasi dapat digunakan untuk memperbaikinya. Hal ini tidak selalu memungkinkan tergantung pada lokasi AVM.
  3. Terapi Pemulihan
    Durasi pemulihan dan rehabilitasi tergantung pada tingkat keparahan stroke. Hal ini juga tergantung pada ukuran perdarahan, jumlah pembengkakan, dan jumlah kerusakan jaringan yang terjadi. Berbagai jenis terapi dapat dilakukan tergantung pada kebutuhan anda, diantaranya termasuk terapi fisik, terapi okupasi, atau terapi wicara. Tujuan utama terapi adalah untuk mengembalikan sebanyak mungkin fungsi yang terganggu.

Pencegahan Stroke Hemoragik

Karena mayoritas perdarahan otak berhubungan dengan faktor risiko tertentu, Anda dapat meminimalkan risiko dengan cara berikut:

  • mengontrol tekanan darah tinggi melalui diet, olahraga, dan obat-obatan.
  • menghindari merokok, karena merokok dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah.
  • menghindari penggunaan obat – obatan. Kokain, misalnya, dapat meningkatkan risiko pendarahan di otak.
  • melakukan operasi korektif terhadap kelainan seperti aneurisma
  • Berhati-hati ketika menggunakan Coumadin, warfarin, atau antikoagulan (obat pengencer darah) lainnya, dan harus dalam pengawasan dokter.

Perawatan medis segera sangat penting bagi peluang terbaik pemulihan, begitu juga dengan pencegahan. Jika anda dapat mengontrol faktor risiko yang ada, anda dapat sangat mengurangi kemungkinan anda untuk mengalami stroke.