Thiamphenicol adalah obat antibiotik yang bisa digunakan sebagai pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang sensitif. Banyak dokter yang meresepkan obat ini untuk mengobati penyakit tipes (demam tifoid), infeksi saluran kemih, infeksi saluran cerna, dan lain-lain. Berikut akan kita ketahui bersama kegunaan thiamphenicol, beserta kontraindikasi, dosis, dan efek samping.

Thiamphenicol merupakan metil – sulfonil analog dari kloramfenikol dan memiliki aktivitas spektrum yang sama, tetapi 2,5-5 kali lebih kuat. Seperti kloramfenikol, obat ini tidak larut dalam air, tetapi sangat larut dalam lemak. Thiamphenicol digunakan di banyak negara sebagai antibiotik untuk hewan, tetapi tersedia di Cina, Maroko, Italia, dan Indonesia untuk digunakan pada manusia. Keuntungan utama dibanding kloramfenikol adalah bahwa thiamphenicol tidak pernah dikaitkan dengan anemia aplastik .

Cara kerja antibiotik ini adalah dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Thiamphenicol mempunyai aktivitas bakteriostatik yang luas baik terhadap organisme gram positif maupun gram negatif.

thiamphenicol

Indikasi atau Kegunaan Thiamphenicol 

Bakteri-bakteri yang sensitif terhadap obat thiamphenicol antara lain:

  • Salmonella sp. yang menyebabkan penyakit tipes atau demam tifoid
  • H. influenzae , infeksi khusus meningeal yang menyebabkan meningitis.
  • Bakteri gram negatif yang menyebabkan bakteremia.
  • Rickettsia.
  • Limfogranuloma-psittacosis.

Thiamphenicol tidak boleh dibeli bebas dan digunakan sembarangan, harus atas petunjuk atau resep dokter.

Kontraindikasi

Obat ini tidak boleh digunakan pada kondisi seperti di bawah ini:

  • Orang yang memiliki alergi atau hipersensitivitas terhadap thiamphenicol.
  • Pasien dengan gangguan hati yang berat dan gangguan ginjal.
  • Antibiotik ini tidak boleh digunakan untuk mencegah infeksi bakteri dan mengobati infeksi ringan, infeksi laring dan influenza yang disebabkan oeh virus.

Perhatian khusus:

  • Obat thiamphenicol harus digunakan hanya untuk infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang dikenal.
  • Pada penggunaan thiampheicol dalam waktu yang lama harus diikuti dengan pemeriksaan darah berkala.
  • Pada pasien dengan gangguan ginjal mungkin memerlukan penyesuaian dosis.
  • Lama pengobatan tidak boleh melebihi batas waktu yang ditetapkan oleh dokter.
  • Thiamphenicol harus digunakan dengan hati-hati pada wanita hamil dan menyusui karena obat ini mudah melewati plasenta dan diekskresikan dalam ASI.
  • Thiamphenicol harus digunakan dengan hati-hati pada bayi baru lahir (kurang dari 2 minggu) dan bayi prematur untuk menghindari sindrom Gray.
  • Penggunaan Thiamphenicol untuk waktu yang lama dapat mengakibatkan pertumbuhan mikroorganisme nonsusceptible termasuk jamur dan bakteri.
  • Hati-hati jika digunakan bersamaan dengan obat yang dimetabolisme oleh enzim mikrosomal hati, misalnya dicumarol, fenitoin, tolbutamid, fenobarbital.

Dosis Thiamphenicol

Dosis disesuaikan dengan usia dan berat badan:

  • Dewasa: 250-500 mg, diminum sebanyak 3 sampai 4 kali sehari.
  • Anak-anak: Dosis harian 50 mg / kgBB terbagi dalam 3 sampai 4 kali sehari.
  • bayi prematur: Dosis harian sebanyak 25 mg / kgBB terbagi dalam 4 dosis (4 kali sehari).
  • bayi baru lahir kurang dari 2 minggu: Dosis harian sebanyak 25 mg / kgBB dibagi dalam 4 dosis.

Efek Samping Thiamphenicol

  • Diskrasia darah, misalnya anemia aplastik, anemia hipoplastik, trombositopenia dan granulositopenia.
  • Reaksi gastrointestinal, misalnya mual, muntah, glositis, stomatitis dan diare.
  • Reaksi hipersensitivitas, misalnya demam, ruam, angioedema dan urtikaria.
  • efek samping lainnya, misalnya sakit kepala, depresi mental, optik neuritis dan sindrom Gray.