Ibu Terkena Campak Apakah Boleh Menyusui?

Dok, saya terkena campak jerman, apakah saya masih boleh menyusui? Jika tidak boleh, sampai batas berapa lama dari ruam merah hilang baru boleh menyusui lagi? Mohon saran-nya
Terima kasih

Jawab :

Campak jerman atau dikenal dengan istilah rubella merupakan infeksi virus dengan gejala utama ruam kemerahan pada kulit. Campak jerman dapat menular dari orang ke orang. Penularan terjadi ketika orang yang rentan (tidak memiliki kekebalan) terpapar virus dari orang yang terinfeksi melalui batuk atau bersin, atau kontak langsung dengan sekret pernapasan orang yang terinfeksi, seperti lendir atau ingusnya.

Campak ini juga dapat ditularkan dari ibu hamil ke anaknya yang belum lahir melalui aliran darah. Penderita rubella dapat menularkan virus mulai dari 10 hari sebelum timbulnya ruam hingga sekitar 1-2 minggu setelah ruam menghilang. Lebih lengkap silahkan baca: Campak Jerman (Rubella)

Bahaya sebenarnya adalah bagi bayi yang belum lahir (janin), atau bayi yang baru lahir, jadi jika ibu terkena campak beberapa waktu setelah melahirkan, tidak diperlukan tindakan pencegahan khusus. Susu Ibu tidak akan menularkan virus rubella, dan justru akan berisi antibodi untuk membantu bayi melawannya. Jika bayi terkena campak jerman setelah lahir, biasanya merupakan kasus yang ringan.

Rubella ini memang penyakit menular, tapi ringan, yang biasanya tidak lebih serius daripada flu biasa. Sekali lagi, perhatian serius yaitu terhadap bayi yang belum lahir yang ibunya terkena rubella sebelum bayi itu lahir, bukan terhadap bayi yang ibunya terkena campak jerman dalam minggu-minggu setelah kelahiran.

Jadi kesimpulannya, ibu boleh tetap menyusui bayinya. Bayi akan lebih baik jika mendapatkan ASI, karena banyaknya zat kekebalan yang akan membantu melindungi dia. ASI bahkan dapat memberikan imunisasi alami untuk rubella. Namun harus menjaga agar bayi jangan sampai terpapar virus  sebagaimana telah disebutkan cara penularan rubella seperti di atas.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer