Kenali 20 Penyebab Bayi Lahir Prematur

Bayi lahir prematur sering kali merupakan suatu hal yang menjadi kekhawatiran orang tua yang sedang dalam masa kehamilan. Hal ini terjadi karena prematuritas memiliki banyak komplikasi bagi janin, terutama berkaitan dengan sistem organ tubuhnya yang belum terbentuk sempurna sehingga dapat mempengaruhi kemampuan janin untuk bertahan hidup di luar rahim ibu. Apa sebenarnya penyebab bayi lahir prematur?

Prematur adalah kelahiran yang terjadi pada saat umur kehamilan berada di antara 20 minggu hingga 37 minggu yang dihitung dari hari pertama haid terakhir ibu. Bayi lahir prematur memiliki angka kejadian yang masih tinggi dan hingga kini masih menjadi pusat perhatian dunia. Di Indonesia angka kejadian kelahiran prematur belum dapat dipastikan jumlahnya, namun berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Depkes tahun 2007 menyatakan angka bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Indonesia mencapai 11,5 %. Meskipun angka BBLR tidak mutlak mewakili kelahiran prematur, namun angka ini dirasa cukup dapat mencerminkan angka kejadian kelahiran prematur di Indonesia.

penyebab bayi lahir prematur

Apa perbedaan prematur dengan keguguran? Baca artikel tentang: Keguguran

Beberapa Penyebab Bayi Lahir Prematur

Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab bayi lahir prematur, namun secara umum bayi lahir prematur karena disebabkan oleh empat hal berikut:

  1. Aktivasi prematur pencetus persalinan, dapat terjadi sebagai akibat dari stres dan anxietas yang biasa dialami oleh primipara muda (perimipara maksudnya baru pertama hamil). Stres fisik maupun psikologis dapat menyebabkan aktivasi prematur aksis Hypothalamus-Pituitary-Adrenal (HPA) ibu. Aksis HPA ini akan menyebabkan terjadinya insufisiensi uteroplasenta yang mengakibatkan stres pada janin. Hal ini akan meningkatan pelepasan hormon Corticotropin Releasing Hormone (CRH), Adrenocorticotropic Hormone (ACTH), prostaglandin, reseptor oksitosin, matrix metaloproteinase (MMP), cyclooksigenase-2, interleukin-8, dehydroepiandrosteron sulfate (DHEAS), da estrogen plasenta yang akhirnya akan menyebabkan terjadinya persalinan prematur.
  2. Penyakit Inflamasi atau infeksi, seperti decidua-chorio-amnionitis merupakan penyebab bayi lahir prematur yang potensial. Pada Infeksi ini kuman dapat menyebar ke uterus dan cairan ketuban. Infeksi kemudian akan menyebabkan pelepasan mediator inflamasi seperti pro-inflamatory sitokin (IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF-? ) yang akan merangsang pelepasan CRH, dan merangsang aksis HPA janin untuk menghasilkan kortisol dan DHEAS. Hormon-hormon tersebut akan meningkatkan sintesis uterotonin (hormon prostaglandin dan endotelin) yang dapat menimbulkan kontraksi rahim. Pro-inflamatory sitokin juga berperan dalam meningkatkan pelepasan protease (MMP) yang menimbulkan perubahan pada serviks sehingga terjadi robekan kulit ketuban dan terjadilah persalinan prematur.
  3. Perdarahan plasenta, juga bisa menjadi penyebab bayi lahir prematur, karena hal ini dapat menyebabkan terjadinya peningkatan hemosistein yang akan mengakibatkan kontraksi otot rahim (miometrium). Perdarahan pada plasenta juga akan menyebabkan aktivasi dari faktor pembekuan Xa (protombinase). Protombinase tersebut akan mengubah protrombin menjadi trombin dan trombin akan menstimulasi terjadinya kontraksi miometrium sehingga mengakibatkan terjadinya persalinan prematur.
  4. Peregangan uterus yang berlebihan, seperti pada kehamilan kembar, polyhydramnion atau karena ada kelainan pada uterus dan akibat operasi pada mulut rahim juga dapat mengakibatkan terjadinya persalinan prematur.

Faktor Risiko Bayi Lahir Prematur

Selain karena keempat hal tersebut yang menjadi dasar penyebab kelahiran prematur, ada beberapa kondisi yang merupakan faktor risiko yang mempermudah terjadinya persalinan prematur, faktor risiko tersebut antara lain:

  1. Usia ibu saat hamil, dimana pada usia usia < 20 tahun calon ibu belum memiliki kematangan fisik, mental dan fungsi organ reproduksinya. Sedangkan pada usia > 35 tahun ibu telah mengalami penurunan fungsi organ reproduksi. Banyak penyulit kehamilan dapat terjadi pada rentang usia ini termasuk diantaranya persalinan prematur.
  2. Penyakit dalam kehamilan seperti preeklampsia, eklampsia, penyakit jantung dan pembuluh darah, anemia, serta hipotiroid merupakan beberapa penyakit yang berisiko untuk janin lahir prematur
  3. Paritas (jumlah melahirkan anak hidup), merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kelahiran prematur terutama pada paritas yang tinggi, karena dapat mempengaruhi keadaan kesehatan ibu pada saat mengalami kehamilan
  4. Riwayat persalinan prematur, merupakan penanda risiko yang paling kuat dan yang paling penting, karena wanita yang pernah mengalami persalinan prematur akan memiliki risiko yang meningkat untuk mengalaminya kembali pada kehamilan yang selanjutnya. Insiden terjadinya persalinan prematur yang selanjutnya dapat mengalami peningkatan hingga 14,3% setelah 1x persalinan prematur dan dapat meningkat hingga 28% setelah 2x mengalami persalinan prematur.
  5. Ketuban pecah dini, merupakan penyebab yang bertanggung jawab terhadap persalinan prematur dimana kira – kira sepertiga dari semua kelahiran prematur disertai dengan ketuban pecah dini.
  6. Bakterial vaginosis, merupakan faktor risiko kuat penyebab prematur, bakterial vaginosis dapat meningkatkan risiko persalinan prematur hingga 2 kali lipat terutama apabila terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu,
  7. Infeksi Saluran Kemih, terutama pada penderita yang tidak mendapatkan pengobatan akan meningkatkan risko kelahiran bayi prematur dengan BBLR (berat badan lahir rendah) sekitar 1,5 hingga 2 kali lipat.

Selanjutnya: Cara Merawat Bayi Prematur di Rumah

Dengan demikian, jika ibu hamil sedang mengalami beberapa penyakit atau keluhan yang termasuk dalam faktor resiko penyebab kelahiran prematur, maka segeralah untuk menghubungi dokter yang menangani Anda.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer