Analtram obat apa?

Analtram adalah obat analgesik atau pereda nyeri, mulai dari yang sedang hingga berat. Obat ini merupakan kombinasi dua obat analgesik yaitu tramadol yang merupakan pereda nyeri jenis opioid dan paracetemol yang memiliki sifat anti nyeri dan anti peradangan.

Analtram merupakan obat pereda nyeri yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Obat yang diproduksi oleh PT. Laboratories ini merupakan obat resep yang hanya dapat diperoleh dengan rekomendasi dari dokter. Ketahui lebih lanjut tentang kegunaan, dosis, efek samping dan keamanan obat ini untuk ibu hamil dan menyusui pada artikel ini.

Ikhtisar Obat Analtram

Jenis obatAnalgesik (opioid)
KandunganTramadol HCl dan Paracetamol
KegunaanMengurangi rasa nyeri sedang hingga berat
KategoriObat Resep
KonsumenDewasa dan Anak
KehamilanKategori C
SediaanAnaltram kaplet salut selaput
analtram obat analgesik kombinasi tramadol hcl dan paracetamol

Analtram obat analgesik kombinasi tramadol hcl dan paracetamol

Mekanisme Kerja

Cara kerja Analtram dapat dicermati dari kandungan bahan aktifnya yaitu tramadol dan paracetamol seperti dijelaskan berikut:

  • Tramadol merupakan senyawa obat yang bersifat analgesik atau meredakan rasa sakit yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Meskipun mekanismenya belum sepenuhnya diketahui namun berdasarkan pengujian pada hewan diketahui bahwa senyawa obat ini dan metabolitnya yang berupa O-demethyl (M1) bersifat selektif terhadap reseptor agonis lemah alfa opioid. Sehingga menghambat reaksi rasa sakit. Obat ini juga dikaitkan dengan kemampuan menghambat reuptake serotonin dan norephineprine pada sistem saraf yang sensitif terhadap rangsangan nyeri sehingga menurunkan efek sakit yang timbul. Penggunaan bersamaan dengan paracetamol dimaksudkan untuk meningkatkan efek analgesiknya.
  • Paracetamol atau yang dikenal juga sebagai acetaminophen merupakan senyawa obat yang bersifat analgesik (pereda nyeri) dan antipiretik (meredakan peradangan). Obat ini bekerja dengan menghambat kerja enzim cyclooksigenase (COX-1  dan COX-2). Enzim ini berperan dalam pelepasan prostaglandin yang merupakan senyawa penyebab nyeri. Dengan menghambat enzim COX ini maka terjadi pengurangan produksi nya dan dapat meredakan rasa nyeri.

Indikasi atau Kegunaan Analtram

Analtram dapat digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat, terutama rasa nyeri yang sudah cukup berat namun belum memerlukan obat analgesik tipe opioid (narkotika). Atau jika obat pereda nyeri non opioid tidak memberikan efek berarti pada rasa nyeri. Obat ini diformulasikan untuk mengatasi nyeri dalam waktu singkat (tidak lebih dari 5 hari), sehingga penggunaan jangka panjang tidak dianjurkan.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitifitas atau alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Penderita asma tidak boleh menggunakan obat ini kecuali dalam pengawasan dokter dan alat resusitatif tersedia.
  • Tidak boleh diberikan pada pasien yang sedang menggunakan obat-obatan jenis narkotika, hipnotik, analgesik yang bekerja pada sistem saraf pusat, opiat atau obat psikotropik.
  • Pasien yang diberikan obat MAOI atau setelah 2 minggu penghentian terapi dengan obat MAOI.
  • Orang dengan gangguan fungsi hati yang sudah parah.
  • Penderita epilepsi yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi.
  • Ibu hamil dan menyusui.

Dosis Analtram dan Cara Penggunaan

Analtram tersedia dalam bentuk sediaan kaplet dengan kekuatan dosis tiap kapletnya:

  • Tramadol HCl: 37,5 mg.
  • Paracetamol: 325 mg.

Ingat! Dosis yang tepat sesuai dengan anjuran dokter berdasarkan berat ringannya penyakit, berat badan, usia, dan lain-lain.

Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Analtram untuk meringankan nyeri

  • Dosis dewasa dan reamaja >16 tahun: pemberian awal 2 kaplet per hari dengan selang pemberian dosis tidak boleh kurang dari 6 jam. Dosis maksimal 8 kaplet per hari.

Petunjuk Penggunaan:

  • Obat ini dapat digunakan sebelum atau setelah makan, dianjurkan untuk mengonsumsi air putih yang cukup setelahnya.
  • Minumlah obat ini dengan ditelah utuh jangan dikunyah atau dihancurkan sebelum dimunum.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam atau minimal berselang 6 jam . Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Analtram pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Analtram

Sepertihalnya obat jenis analgesik lainnya yang memiliki efek samping, Analtram juga demikian. Beberapa efek samping mungkin dapat hilang dengan sendirinya seiring penghentian penggunaan obat. Namun, beberapa lainnya mungkin dapat berlangsung lama dan parah sehingga perlu penanganan dokter. Efek samping tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Pusing.
  • Mual.
  • Mengantuk.
  • Astenia (mudah leleh).
  • Rasa panas dan kemerahan di wajah.
  • Sakit kepala.
  • Tremor.
  • Nyeri perut bagian bawah.
  • Konstipasi.
  • Diare.
  • Dispepsia.
  • Sering buang gas.
  • Mulut kering.
  • Mual dan muntah.
  • Insomnia.
  • Ruam kulit.
  • Sering berkeringat.

Efek Overdosis Analtram

Penggunan Analtram berlebihan  atau tidak sengaja mengonsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan overdosis. Efek overdosis obat ini mencakup efek yang ditimbulkan oleh tramadol dan paracetamol. Overdosis tramadol dapat menyebabkan depresi pernafasan, kelelahan dan kantuk hingga koma, kelemahan otot rangka sehingga kesulitan gerak, kulit dingin dan kejang hingga kematian.

Sementara paracetamol dapat menyebabkan nekrosis hati yang dapat berakibat fatal, koma hipoglikemik dan trombositopenia. Jika gejala kondisi tersebut muncul sebaiknya segera hubungi unit kegawatdaruratan medis terdekat untuk mendapatkan pertolongan segera.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap obat ini.
  • Sebaiknya berhati-hati menggunakan obat ini untuk penderita penurunan fungsi ginjal dan hati berat maupun sedang.
  • Hindari penggunaan pada pasien yang rentan mengalami kejang.
  • Sebaiknya tidak digunakan oleh pecandu obat-obatan opioid.
  • Hindari penggunaan pada penderita gangguan konvulsif, gangguan saluran empedu atau memiliki masalah pada pernapasan.
  • Hindari penggunaan obat ini saat sedang mengemudi atau menggunakan alat berat yang menuntut konsentrasi tinggi karena obat ini dapat menyebabkan kantuk.
  • Konsumsi alkohol bersamaan dengan obat ini dapat berakibat fatal.
  • Sebaiknya anak-anak di bawah 16 tahun tidak menggunakan obat ini.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Analtram untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Analtram digolongkan dalam kategori C sebagai obat untuk ibu hamil menurut FDA. Hal ini berarti studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu pemberian obat ini pada ibu hamil sebaiknya jika hanya sangat dibutuhkan saja dan dalam pengawasan dokter.
  • Analtram diketahui dapat terekstraksi kedalam ASI ibu menyusui dan berpotensi menyebabkan efek yang tidak dinginkan pada bayi. Beberapa kondisi pada bayi seperti meningkatnya rasa kantuk, kesulitan bernafas dan kelemahan otot sehingga sulit bergerak. Oleh karena itu sebaiknya tidak mengonsumsi obat ini atau hanya jika disarankan oleh dokter dan sebisa mungkin memonitor kondisi bayinya.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan dengan Analtram, diantaranya:

  • Obat-obatan jenis penghambat CYP2D6 seperti quinidine, fluoxcetine, paroxetine dan bupropion dapat meningkatkan konsentrasi tramadol dalam darah yang dapat meningkatkan toksisitas tramadol.
  • Penggunaan bersamaan dengan benzodiazepine atau obat hipnotik lainnya, pereda nyeri otot, anastetik, opioid dan alkohol dapat meningkatkan risiko hipotensi, depresi saluran pernapasan, koma hingga kematian.
  • Penggunaan bersamaan dengan obat yang bekerja dengan mempengaruhi sistem neurotransmiter serotonergik seperti mirtazapine, trazodone, MAOI dan linezolide dapat meningkatkan risiko sindrom serotonin.

Daftar di atas belum mencakup keseluruhan interaksi terhadap Analtram. Oleh karena itu sebelum mengonsumsi dua obat secara bersamaan sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda.