Anastan obat apa?

Anastan adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri ringan hingga sedang seperti pada sakit kepala, sakit gigi, nyeri sendi, nyeri setelah operasi, nyeri haid atau dismenore, nyeri menoragia (pendarahan berlebihan saat haid) serta nyeri lainnya. Bahan aktif obat ini berupa asam mefenamat yang merupakan golongan obat anti-inflamasi non steroid (OAINS/NSAID).

Obat yang diproduksi oleh PT. Gratia Husada Farma (HUFA) ini merupakan jenis obat keras yang konsumsinya harus dengan resep dokter. Sebagai tambahan informasi berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, kontraindikasi, efek samping, kemungkinan interaksi Anastan dengan obat lain serta informasi keamanan obat ini jika dikonsumsi oleh ibu hamil atau menyusui.

Ikhtisar Obat Anastan

Jenis obatAnalgesik/pereda nyeri
KandunganMefenamic acid
KegunaanMeredakan nyeri ringan hingga sedang akibat sakit gigi, sakit kepala, pasca operasi, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri haid/dismenore.
KategoriObat resep
KonsumenDewasa dan Anak-anak lebih dari 14 tahun.
KehamilanKategori C
SediaanAnastan forte tablet 500 mg dan 250 mg.

anastan mefenamic acid

Mekanisme Kerja

Cara kerja Anastan dapat dicermati dari kandungan bahan aktifnya yang berupa mefenamic acid. Senyawa ini merupakan turunan dari asam antranilat yang masuk dalam kelompok fenamate anti-inflamasi non-steroid (OAINS). Senyawa obat ini memiliki kemampuan anti-inflamasi, analgesik (pereda nyeri), serta antipiretik (meredakan demam).

Cara kerjanya asam mefenamat sama dengan jenis obat anti-inflamasi non-steroid lainnya yaitu dengan menghambat sintesis prostaglandin melalui reseptor siklooksigenase COX-2 dan COX-2. Namun perlu diketahui efek penghilang rasa sakitnya hanya bersifat sementara hingga efek obat habis.

Indikasi atau Kegunaan Anastan

Anastan digunakan untuk meringankan rasa nyeri yang disebabkan berbagai kondisi seperti:

  • Sakit kepala.
  • Nyeri sendi atau rematik.
  • Nyeri otot.
  • Nyeri akibat sakit gigi atau setelah cabut gigi.
  • Nyeri akibat trauma.
  • Nyeri haid/dismenore.
  • Nyeri menorhagia.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap kandungan obat ini atau jenis obat OAINS lainnya seperti aspirin atau ibuprofen.
  • Orang yang akan atau sedang menjalani operasi baypass jantung.
  • Tidak boleh diberikan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal, urtikaria, asma, serta radang dan tukak pada lambung dan usus.
  • Ibu hamil terutama pada trimester akhir kehamilan dilarang mengonsumsi Anastan karena beresiko tinggi pada janin.

Dosis Anastan dan Cara Penggunaan

Anastan tersedia dalam bentuk sediaan tablet dengan kekuatan dosis tiap tabletnya 500 mg atau 250 mg asam mefenamat.

Ingat! Dosis yang tepat sesuai dengan anjuran dokter berdasarkan berat ringannya penyakit, berat badan, usia, dan lain-lain. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Anastan untuk meredakan nyeri

  • Dosis dewasa: pemberian awal 500 mg, selanjutnya 250 mg setiap 6 jam atau sesuai kebutuhan. Maksimal penggunaan 7 hari.
  • Dosis anak usis > 14 tahun: sama dengan dosis dewasa.

Dosis Anastan untuk meredakan nyeri dismenore

  • Dosis dewasa: pemberian awal 500 mg, selanjutnya 250 mg setiap 6 jam sekali dimulai dari munculnya menstruasi.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah atau bersamaan dengan makanan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6 – 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Anastan pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Anastan

Anastan umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, ada beberapa efek samping yang mungkin muncul dan perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala.
  • Tekanan darah turun dan kelelahan.
  • Mengantuk.
  • Konstipasi.
  • Edema.

Efek samping serius dapat berupa:

  • Diare parah.
  • Hematemesis (muntah darah).
  • Hematuria (muncul darah dalam urin).
  • Penglihatan kabur.
  • Ruam kulit.
  • Gangguan fungsi hati yang menyebabkan penyakit kuning.
  • Meningkatkan risiko infark miokard.
  • Tukak dan perforasi saluran cerna.

Efek Overdosis Anastan

Penggunaan berlebihan melebihi dosis yang dianjurkan dokter dapat menyebabkan efek overdosis Anastan. Gejala yang mungkin muncul adalah pusing, mual, muntah, nyeri perut parah, pendarahan saluran cerna yang keluar bersama feses, mengantuk parah, koma, kehilangan pendengaran hingga kejang. Jika hal ini terjadi segera bawa ke unit kegawatdaruratan medis terdekat agar mendapat pertolongan segera.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap kandungan obat ini atau jenis obat NSAID lainnya seperti aspirin atau ibuprofen.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal atau yang memiliki riwayat penyakit jantung.
  • Anastan dapat menyebabkan edema dan retensi cairan, karena itu cukupi kebutuhan cairan selama mengonsumsi obat ini.
  • Keamanan dan manfaatnya pada anak umur di bawah 14 tahun belum diketahui, sehingga baiknya dihindari.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Anastan untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Bahan aktif Anastan berupa asam mefenamat digolongkan dalam kategori C untuk ibu hamil trimester 1 dan 2 dan kategori D untuk trimester 3. Oleh karena itu penggunaan pada ibu hamil sebaiknya dihindari atau jika sangat dibutuhkan saja dan harus dalam pengawasan dokter.
    • Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan.
    • Kategori D: Terbukti menimbulkan resiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh jika digunakan pada wanita hamil dapat dipertimbangkan (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak efektif atau tidak dapat diberikan).
  • Asam mefenamat diketahui dapat terekstraksi ke dalam ASI ibu menyusui dan berpotensi membahayakan bayi yang menyusu. Namun belum banyak penelitian yang menjelaskan risikonya. Karena itu penggunaan obat ini selama masa menyusui sebaiknya dihindari.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan Anastan, diantaranya yaitu:

  • Penggunaan bersamaan dengan methotrexate dapat meningkatkan risiko toksisitas methotrexate.
  • Penggunaan bersamaan dengan aspirin, obat kortikosteroid, obat antikoagulan, obat jenis SSRI dapat meningkatkan risiko pendarahan lambung.
  • Penggunaan bersamaan dengan magnesium hidroksida (antasida) dapat meningkatkan risiko efek samping Anastan.
  • Obat penghambat ACE dapat menurun efektivitasnya jika digunakan bersamaan dengan Anastan.