Atresia bilier adalah suatu kondisi pada bayi baru lahir dimana saluran empedu tidak terbentuk ataupun tidak berkembang secara normal. Saluran empedu ini berfungsi untuk menyalurkan empedu yang dihasilkan oleh organ hati dan disimpan di dalam kantong empedu, kemudian empedu dikeluarkan sedikit-sedikit ke saluran pencernaan pada saat diperlukan.

Empedu merupakan cairan yang berwarna kuning kehijauan, berfungsi untuk mencerna makanan yang mengandung lemak. Selain itu empedu juga berfungsi untuk membuang zat-zat sisa metabolisme dan racun dari dalam tubuh.

atresia bilier

gambar atresia bilier, sumber: ePainAssist

Saluran empedu yang tidak terbentuk atau tidak berfungsi secara normal ini akan menyebabkan empedu tetap berada di dalam hati. Apabila terus berlanjut, maka dapat menyebabkan kerusakan organ hati, terjadi sirosis hati, bahkan kematian.

Kerusakan pada organ hati ini menyebabkan terbentuknya jaringan parut di hati dan bersifat permanen, sehingga hati tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal. Apabila sudah sampai pada tahap ini, maka bayi membutuhkan transplantasi hati agar tetap dapat bertahan hidup.

Jenis-Jenis Atresia Bilier

Ada 2 macam kelainan atresia bilier, yaitu :

  • Fetal. Atresia bilier fetal terjadi pada saat bayi masih di dalam kandungan. Kasusnya jarang terjadi.
  • Perinatal. Atresia bilier perinatal terjadi setelah bayi lahir, baru dapat terdiagnosa pada bayi berusia 2 – 4 minggu. Kasus ini lebih sering terjadi.

Kelainan atresia bilier ini cukup jarang terjadi, namun apabila terjadi biasanya bersifat fatal. Angka kejadiannya dapat mengenai 1 bayi dari 18.000 kelahiran. Kelainan tidak menular dari satu pasien ke pasien lain. Lebih sering terjadi pada bayi perempuan, walaupun dapat juga menyerang bayi laki-laki. Bayi lahir prematur memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena.

Tanda dan Gejala Atresia Bilier

Pada saat bayi baru lahir, kondisinya bisa saja tampak normal seperti bayi pada umumnya. Atresia bilier biasa mulai terdiagnosa pada saat bayi berusia 1 – 2 bulan. Beberapa tanda dan gejala yang biasa muncul adalah :

  • Jaundice yaitu bayi tampak kuning. Biasanya bayi yang baru lahir tampak kuning sampai usia 2 minggu kemudian akan kembali normal. Akan tetapi pada atresia bilier, kuning akan terus berlanjut bahkan bertambah parah. Gejala kuning ini terlihat jelas pada kulit dan juga bagian bola mata yang seharusnya berwarna putih.
  • Air kencing berwarna coklat seperti teh.
  • Feses yang berwarna abu-abu pucat seperti dempul.
  • Pembengkakan pada perut.
  • Teraba pembesaran organ hati dan limpa.
  • Penurunan berat badan.
  • Bayi sangat rewel.

Penyebab Atresia Bilier dan Faktor Resiko

Penyebab dari terjadinya atresia bilier pada bayi baru lahir ini belum diketahui secara pasti. Diduga kondisi ini disebabkan oleh banyak hal alias multifaktorial, namun ada kaitannya dengan serangkaian proses inflamasi yang kompleks sehingga terjadi penyumbatan saluran empedu.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya atresia bilier antara lain:

  • Infeksi bakteri atau virus setelah lahir, seperti : cytomegalovirus, reovirus, atau rotavirus.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti komponen sistem kekebalan tubuh menyerang organ hati atau saluran empedu pasien itu sendiri.
  • Adanya perubahan struktur genetik.
  • Gangguan pada saat perkembangan organ hati dan saluran empedu pada saat kehamilan.
  • Paparan terhadap bahan berbahaya pada saat hamil.

Kondisi ini tidak berkaitan dengan faktor keturunan, artinya tidak diturunkan oleh orang tua ke anaknya. Oleh karena itu, orang tua yang pernah memiliki riwayat atresia bilier belum tentu anaknya juga akan mengalami kelainan yang sama.

Penanganan dan Pengobatan Atresia Bilier

Obat-obatan yang diberikan dokter tidak dapat memperbaiki kelainan pada saluran empedu, namun hanya dapat menstabilkan kondisi bayi. Terbatas untuk mengatasi gejala-gejala yang timbul.

Penanganan bayi dengan kelainan atresia bilier ini harus dengan tindakan operasi.  Kedua operasi ini baru bisa dilakukan pada saat bayi berusia diatas 8 bulan. Ada 2 cara operasi yang dapat dilakukan yaitu prosedur Kasai dan juga transplantasi hati, berikut penjelasannya:

  • Prosedur Kasai

Prosedur Kasai menjadi pilihan utama untuk memperbaiki kelainan atresia bilier. Prosedur Kasai merupakan operasi bypass untuk membuang saluran empedu yang rusak kemudian langsung dialirkan ke saluran pencernaan. Hasilnya adalah cairan empedu langsung masuk ke dalam usus halus. Prosedur ini masih dapat dilakukan apabila belum terjadi kerusakan hati yang permanen.

  • Transplantasi hati

Tindakan operasi ini dilakukan apabila prosedur Kasai gagal dilakukan dan organ hati sudah benar-benar rusak. Sangat sulit untuk menemukan donor hati yang cocok buat pasien. Biasanya pasien atresia bilier yang sudah menjalani transplantasi hati dapat tumbuh normal.

Pasien dengan atresia bilier harus menjaga pola makannya dengan baik. Pasien harus diberi makanan yang tinggi kalori untuk mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh yang tinggi. Makanan yang diberikan tidak boleh mengandung lemak karena tidak dapat dicerna oleh empedu.

Setelah menjalani operasi, pasien dapat melakukan pola makan yang normal seperti pada umumnya. Pada pasien yang menjalani operasi transplantasi hati, maka konsumsi obat-obatan harus tetap dilanjutkan seterusnya agar tidak terjadi reaksi penolakan dari organ yang ditransplantasi.