Bactoderm obat apa?

Bactoderm adalah antibiotik topikal (digunakan pada permukaan kulit) untuk mengatasi infeksi kulit primer ataupun skunder. Obat ini mengandung bahan aktif mupirocin yang efektif membasmi bakteri jenis gram positif serta beberapa jenis bakteri gram negatif sehingga digunakan untuk mengatasi folikulitis, imetigo, karbunkel serta bisul kronis yang sulit sembuh.

Obat yang diproduksi oleh PT. Ikhafarmindo ini merupakan jenis obat keras yang penggunaannya harus dengan resep dokter. Sehingga tidak boleh sembarangan mengoleskannya ke kulit. Untuk itu sebagai tambahan informasi berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, efek samping, kontraindikasi, kemungkinan interaksi Bactoderm dengan obat lain serta informasi keamanan obat ini untuk ibu hamil dan menyusui.

Ikhtisar Obat Bactoderm

Jenis obatAntibiotik topikal
KandunganMupirocin
KegunaanMengobati infeksi bakteri pada kulit seperti folikulitis, impetigo, bisul kronis, dan karbunkel
KategoriObat Resep
KonsumenDewasa dan Anak
KehamilanKategori B
SediaanBactoderm cream 2% kemasan 5 gr dan 10 gr, Bactoderm oinment 10 gr

bactoderm krim

Mekanisme Kerja

Cara kerja Bactoderm dapat dicermati dari mekanisme karja bahan aktifnya yang berupa mupirocin. Mupirocin merupakan antibiotik yang diisolasi dari bakteri Pseudomonas fluorescens, senyawa ini merupakan pilihan utama untuk membasmi bakteri jenis gram positif. Dalam dosis rendah mupirocin bersifat bakateriostatik dan bersifat bakterisidal pada dosis tinggi.

Mupirocin memiliki cara kerja yang unik dalam membasmi bakteri yaitu dengan cara mengikat isoleusin tRNA sintetase yang pada akhirnya menghentikan penggabungan isoleusin ke dalam protein bakteri. Akibatnya sintesis protein bakteri terhambat dan kemudian mati. Mekanisme ini unik karena hanya sedikit antibiotik yang bekerja dengan cara ini sehingga peluang resistensi silang dengan antibotik lainnya lebih kecil.

Indikasi atau Kegunaan Bactoderm

Bactorderm digunakan untuk mengobati infeksi bakteri pada kulit terutama yang disebabakn oleh bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes yang menyebabkan impetigo, folikulitis, karbunkel serta bisul kronis yang sulit sembuh.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap bahan aktif Bactoderm.

Dosis Bactoderm dan Cara Penggunaan

Bactoderm tersedia dalam dua bentuk sediaan krim dan oinment (salep mata) dengan kekuatan dosis masing-masing sebagai berikut:

  • Bactoderm krim: tiap gramnya mengandung mupirocin calcium setara 20 gr mupirocin.
  • Bactoderm ointment: tiap gramnya mengandung 20 mg mupicorcin.

Ingat! Dosis yang tepat sesuai dengan anjuran dokter berdasarkan berat ringannya penyakit, berat badan, usia, dan lain-lain. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Bactoderm krim untuk mengobati infeksi bakteri di kulit

  • Dosis dewasa dan anak-anak: diaplikasikan tipis-tipis pada kulit yang terinfeksi sebanyak 3 kali sehari. Setelah itu dapat diberikan perban di atasnya jika dibutuhkan. Penderita yang tidak menunjukkan perubahan secara klinis harus dievaluasi kembali.

Dosis Bactoderm oinment untuk mengobati infeksi bakteri di kulit

  • Dosis dewasa dan anak-anak: digunakan pada area yang terinfeksi 3 kali sehari selama paling lama 10 hari. Untuk melindungi area infeksi dapat diberikan perban steril.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat Bactoderm hanya untuk penggunaan luar, hindari obat tertelan atau mengenai mata. Untuk jenis ointment/salep dapat digunakan untuk area wajah.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6 – 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera menggunakannya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Bactoderm dengan mengoleskan terlalu banyak di kulit yang terinfeksi sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Bactoderm

Bactoderm umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, beberapa efek samping mungkin muncul dan perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Ruam kulit.
  • Kulit terasa terbakar.
  • Gatal di sekitar kulit yang terinfeksi.

Efek Overdosis Bactoderm

Belum ada data yang menunjukkan adanya efek overdosis penggunaan Bactoderm jika digunakan pada kulit. Overdosis mungkin terjadi jika obat ini tertelan dalam jumlah banyak. Gejala yang mungkin timbul seperti nyeri perut, mual dan muntah. Segera hubungi unit kesehatan terdekat agar mendapat pertolongan tepat saat kondisi tersebut terjadi.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap mupirocin yang merupakan bahan aktif Bactoderm.
  • Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita gangguan fungsi ginjal.
  • Bactroderm krim tidak boleh diberikan pada anak-anak umur di bawah 3 bulan sementara bentuk salepnya masih mungkin diberikan pada anak umur 2 bulan.
  • Hindari penggunaan obat ini disekitar mata atau kontak dengan mata karena obat ini tidak diformulasikan untuk mengatasi infeksi di area jaringan mukosa.
  • Penggunaan obat ini untuk jangka panjang dapat menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak dinginkan.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Bactoderm untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Bahan aktif Bactoderm yang berupa mupirocin digolongkan dalam kategori B untuk ibu hamil. Hal itu berarti studi obat ini pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Karena belum ada data yang menunjukkan efek obat ini pada janin ibu hamil maka penggunaannya sebaiknya dihindari atau hanya jika dalam pengawasan dokter.
  • Belum ada data yang menunjukkan ekskresi bahan aktif Bactoderm ke dalam ASI ibu menyusui. Sehingga penggunaannya pada ibu menyusui sebaiknya berhati-hati. Penggunaan pada area kulit sekitar payudara juga sebaiknya dihindari atau dibersihkan dahulu sebelum memberikan ASI untuk bayi.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi atau dioleskan pada kulit, terutama area kulit yang terinfeksi bakteri sebaiknya beritahukan kepada dokter.