Bronkiolitis adalah infeksi paru yang banyak terjadi pada anak – anak dan bayi. Hal ini terjadi ketika saluran napas kecil (bronkiolus) mengalami inflamasi (peradangan) dan kongesti (penyempitan). Penyakit bronkiolitis hampir selalu disebabkan oleh virus dengan kejadian puncaknya selama musim dingin atau penghujan.

pencegahan bronkiolitis dengan masker

pencegahan bronkiolitis dengan masker

Bronkiolitis ditandai dengan gejala yang menyerupai common cold (batuk pilek biasa), namun kemudian berkembang menjadi batuk yang disertai bunyi mengi saat bernapas (wheezing) dan adanya gangguan atau kesulitan saat bernapas.  Gejala bronkiolitis ini bisa terjadi selama beberapa hari hingga minggu bahkan bisa berlangsung selama sebulan.

Sebagian anak – anak yang terpapar infeksi ini bisa menjadi lebih baik hanya dengan perawatan di rumah. Namun beberapa anak butuh perawatan khusus di rumah sakit.

Apa Gejala Bronkiolitis?

Gejala bronkiolitis meliputi pilek, batuk, dan demam.  Setelah beberapa hari, pasien bisa mengalami gejala napas yang memendek dan atau bernapas dengan cepat disertai wheezing (bunyi mengi).

Infeksi berat pada bayi bisa menyebabkan peningkatan frekuensi napas. Jika anak mengalami penyakit jantung atau lahir dengan prematur maka segera konsultasi dengan dokter untuk melihat tanda awal dari bronkiolitis.

Gejala bronkiolitis terparah dapat dilihat dalam 5 hari pertama. Kebanyakan anak – anak akan membaik dalam 1 hingga 2 minggu.

Sebagai pembanding terhadap gejala-gejala infeksi paru-paru yang lain anda bisa mencermatinya pada arikel gejala dan ciri-ciri penyakit paru-paru.

Dokter bisa mendiagnosis bronkiolitis berdasarkan riwayat medis, gejala yang dialami anak, dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang biasanya tidak dibutuhkan jika dokter mencurigai bronkiolitis disebabkan oleh karena RSV.

Apa Penyebab Bronkiolitis?

Bronkiolitis disebabkan oleh virus, khususnya respiratory syncytial virus (RSV), dan seringnya terjadi di akhir musim gugur hingga awal musim semi. Penyakit ini terjadi ketika virus menginfeksi bronkiolus yang merupakan saluran napas terkecil di paru – paru. Infeksi menyebabkan bronkiolus membengkak dan menjadi meradang. Mukus (lendir) terkumpul di dalam saluran napas ini sehingga membuat udara sulit untuk keluar masuk dengan bebas di paru – paru.

Kebanyakan kasus bronkiolitis disebabkan oleh RSV yang merupakan virus yang banyak menginfeksi anak usia hingga 2 tahun. Penyakit infeksi paru ini juga bisa disebabkan oleh virus lainnya termasuk virus penyebab flu atau common cold. Virus penyebabnya sangat mudah menyebar melalui droplet (kontak udara) ketika orang yang terinfeksi bronkiolitis sedang batuk, bersin atau berbicara. Anda juga bisa terinfeksi dengan menyentuh benda yang digunakan secara bersamaan misalnya handuk atau mainan dan kemudian menyentuh mata, mulut maupun hidung Anda.

Beberapa anak lebih berisiko…

 

Bayi berusia kurang dari 3 bulan memiliki risiko yang lebih besar mengalami infeksi paru ini dibanding anak-anak atau orang dewasa. Karena bayi-bayi ini memiliki paru – paru dan sistem imunnya yang belum berkembang sempurna.

Adapun faktor-faktor lainnya yang juga meningkatkan risiko penyakit ini meliputi:

bayi prematur rentan terkena bronkiolitis

  • Lahir prematur
  • Memiliki penyakit jantung atau paru lain yang mendasarinya
  • Sistem imun yang rendah
  • Adanya paparan dengan rokok tembakau
  • Tidak mendapatkan ASI. Bayi yang mendapatkan ASI memiliki sistem imun yang lebih tinggi.
  • Kontak dengan banyak anak – anak lainnya seperti di tempat penitipan anak
  • Tinggal di lingkungan padat penduduk
  • Memiliki saudara yang sekolah dan membawa infeksi yang didapatnya dari sekolah saat pulang ke rumah

Upaya Mengobati Bronkiolitis

Pengobatan di rumah untuk mengontrol gejala bronkiolitis biasanya dibutuhkan. Anak yang terkena infeksi penyakit ini harus diminta untuk minum dalam jumlah cukup guna menghindari dehidrasi. Jika bayi mengalami hidung tersumbat, gunakan suction untuk menghilangkan lendir (mukus) dari dalam hidung. Obat demam (seperti paracetamol atau ibuprofen) bisa menurunkan demam. Jangan memberikan aspirin untuk anak karena risiko mengalami sindrom Reye. Obat batuk dan pilek yang dijual bebas tidak disarankan untuk diminum sembarangan. Harap berhati – hati saat memberikan obat untuk dikonsumsi anak.

Dokter bisa menyarankan pemberian obat bronkodilator jika anak memiliki kecendrungan mengalami reaksi alergi (atopi). Pada kasus berat, anak perlu dirawat di rumah sakit atau perlu mendapat tambahan terapi oksigen.

Bagaimana cara mencegahnya?

Banyak anak yang mengalami gangguan pernapasan seperti bronkiolitis yang disebabkan oleh infeksi virus. Hal ini terjadi karena seringnya anak terpapar dengan orang yang terinfeksi. Padahal sistem imun anak belum berkembang sempurna. Bronkiolitis mudah menyebar seperti flu. Untuk mencegahnya antara lain dengan:

  • Menghindari kontak dengan anak lainnya yang mengalami bronkiolitis atau infeksi saluran napas atas. Jika ada anak yang sedang sakit di rumah, maka pisahkan dari anak lainnya jika memungkinkan. Anak yang sedang sakit usahakan untuk tidur di ruangan tersendiri. Jika anak terinfeksi penyakit ini, anak harus istirahat di rumah dan tak boleh sekolah hingga benar – benar membaik.
  • Cuci tangan untuk menghindari penyebaran penyakit. Mencuci tangan bisa menghilangkan kuman dari tangan dan membantu menghentikan penyebaran ketika anda memegang anak atau menyentuh benda yang mungkin dipegang anak.
  • Jangan merokok di sekitar anak.

Jika anak lahir prematur, memiliki penyakit paru atau jantung, atau kondisi lainnya maka anak cenderung berisiko mengalami infeksi RSV. Oleh karena itu konsultasi dengan dokter perlunya pemberian obat untuk mencegah bronkiolitis dan masalah kesehatan lainnya yang mungkin ditimbulkan oleh RSV.

Adakah bahaya komplikasi yang perlu dikhawatirkan?

Mengingat penyakit ini menyerang saluran nafas, maka potensi komplikasi berbahaya dapat terjadi, meliputi:

  • Sianosis (kulit dan bibir kebiruan). Sianosis disebabkan karena kekurangan oksigen.
  • Berhenti bernapas (apnea). Apnea banyak terjadi pada bayi prematur dan bayi dalam dua bulan pertama kehidupan.
  • Dehidrasi (kekurangan cairan).
  • Kadar oksigen yang rendah dan gagal napas.

Jika hal – hal ini terjadi maka anak perlu dirawat di rumah sakit. Gagal napas berat membutuhkan tabung yang dimasukkan ke dalam trakea untuk membantu anak bernapas sampai infeksi bisa diatasi.

Jika bayi lahir prematur, memiliki penyakit paru atau jantung, atau sistem imunnya menurun maka hari – hati terhadap tanda awal dari penyakit ini. Infeksi bisa menyebar dengan cepat dan memberat. Pada kasus ini anak perlu dirawat inap di rumah sakit.