Bulimia nervosa adalah salah satu gangguan makan yang biasanya ditandai oleh periode binge (makan makanan dalam jumlah yang sangat banyak) kemudian mengeluarkannya kembali. Hal ini dilakukan karena takut mengalami pertambahan berat badan. Namun tidak berarti semua orang yang bulimia memiliki berat badan kurang (underweight). Beberapa orang justru memiliki berat badan yang berlebihan atau obesitas.

Seseorang dengan bulimia mencoba untuk mengeluarkan kembali makanan yang dimakannya sebagai upaya untuk mengontrol berat badannya atau mencegah agar berat badannya tidak bertambah. Bulimia bukanlah sesuatu yang wajar, karena ini merupakan penyakit gangguan mental yang serius dan membutuhkan terapi intensif.

bulimia nervosa

Seseorang dengan bulimia bisa makan lebih dari 2000 kalori dalam satu kali makan dan kemudian memuntahkannya kembali. Muntah sebenarnya bukan satu – satunya cara untuk mengeluarkan makanan yang telah ditelan. Olahraga berlebihan, penggunaan laksatif (obat untuk mengeluarkan tinja), puasa atau kombinasi metode – metode ini merupakan alternatif yang umum untuk menghilangkan makanan yang dimakan selain muntah.

Inti dari gangguan bulimia yaitu ketakutan akan bertambahnya berat badan, namun sebenarnya ia doyan makan. Oleh sebab itu, dengan segala cara ia akan mengeluarkan makanan tersebut.

Ciri-Ciri dan Gejala Bulimia Nervosa

Ciri khas dari bulimia adalah didahului oleh periode binge atau makan dalam jumlah berlebihan. Ada dua jenis binge, yaitu:

  • Makan dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu yang relatif pendek misalnya dalam 2 jam.
  • Perasaan kehilangan kontrol saat makan misalnya ketidakmampuan untuk menghentikan diri sendiri dari keinginan untuk makan.

Setelah makan banyak, timbul rasa takut akan bertambahnya berat badan. Perilaku kompensasi yang digunakan untuk mengontrol berat badan pasca episode binge (makan berlebihan) antara lain:

  • Muntah.
  • Penggunaan laksatif (obat untuk merangsang BAB) atau diuretik (obat untuk merangsang kencing)
  • Puasa.
  • Olahraga berlebihan.
  • Penggunaan obat – obatan pengontrol berat badan.

Seseorang dengan bulimia bisa mengalami siklus makan yang sangat berlebihan di luar kontrol dan kemudian berusaha mengkompensasinya sehingga membuatnya ke dalam perasaan malu, bersalah dan juga jijik. Perilaku ini kemudian menjadi makin kompulsif dan tidak terkontrol dari waktu ke waktu dan menjurus kepada perasaan obsesi terhadap makanan, pikiran tentang makan (atau tidak makan), penurunan berat badan, diet dan juga bentuk tubuh.

Banyak dari penderita gangguan ini akan mengalami fluktuasi berat badan. Berat badannya bisa dalam rentang normal, underweight atau malah berat badannya makin meningkat.

Tanda dan gejala bulimia bisa dalam bentuk fisik, psikologi dan perilaku. Sangat mungkin seseorang mengalami kombinasi ketiga tanda dan gejala ini.

Ciri-ciri fisik bulimia nervosa:

  • Berat badan sering berubah (naik atau turun).
  • Tanda kerusakan karena muntah misalnya bengkak di pipi atau rahang, kerusakan gigi, bau napas yang tidak enak.
  • Kembung, konstipasi atau intoleransi terhadap makanan.
  • Gangguan periode menstruasi pada wanita.
  • Pusing atau sakit kepala.
  • Merasa lelah dan tidak bisa tidur dengan baik.

Ciri-Ciri Bulimia dari segi psikologis:

  • Obsesi terhadap makan, makanan, bentuk tubuh dan juga berat badan.
  • Sensitif terhadap komentar tentang makanan, bentuk tubuh, berat badan, dan olahraga.
  • Rendah diri dan perasaan malu, merasa bersalah terutama setelah makan.
  • Memiliki distorsi terhadap bentuk tubuh misalnya melihat dirinya gemuk meskipun sebenarnya berat badannya sesuai dengan tinggi dan usianya.
  • Obsesi terhadap makanan dan butuh untuk mengendalikannya.
  • Depresi, cemas atau sensitif.
  • Ketidakpuasan terhadap tubuhnya.

Tanda behavior (perilaku):

  • Perilaku makan berlebihan
  • Muntah atau penggunaan laksatif (pencahar), obat penekan nafsu makan atau diuretik
  • Biasanya ingin makan sendiri dan menghindari makan bersama orang lain
  • Anti sosial, menghabiskan waktu kebanyakan sendiri.
  • Perilaku memperhatikan bentuk dan berat badan secara berulang – ulang misalnya menimbang berulang – ulang, sering melihat kaca dan lainnya.
  • Merahasiakan kebiasaan makannya misal mengatakan mereka makan ketika tidak makan, menyembunyikan makanan yang tidak dimakan di ruangannya.
  • Olahraga berlebihan.
  • Bolak balik ke kamar mandi selama atau segera setelah makan bisa jadi bukti muntah atau penggunaan laksatif.

Apa bahaya bulimia bagi penderitanya?

Risiko yang berhubungan dengan bulimia cukup berat misalnya :

  • Sakit tenggorokan kronik, rasa panas di dada karena refluks asam lambung (naik ke atas kerongkongan).
  • Peradangan dan luka di esofagus (kerongkongan) dan lambung karena muntah yang berulang.
  • Ulkus (tukak) di lambung dan usus halus.
  • Pergerakan usus tidak teratur, konstipasi (sembelit) dan atau diare karena penyalahgunaan laksatif (pencahar).
  • Osteoporosis (tulang rapuh).
  • Gangguan menstruasi.
  • Meningkatnya risiko infertilitas pada pria dan wanita. Baca: Ciri-Ciri Wanita Mandul yang Perlu Diwaspadai
  • Denyut jantung irregular atau melambat sehingga meningkatkan risiko gagal jantung.

Faktor Risiko dan Penyebab

Wanita lebih banyak yang mengalami bulimia dibanding pria. Kondisi ini juga lebih banyak terjadi pada remaja dan wanita muda. Individu yang mengalaminya biasanya tahu bahwa pola makannya abnormal. Mereka sering merasa bersalah dengan episode makan banyak dan muntah yang dilakukannya.

Penyebab pasti bulimia tidak diketahui. Faktor genetik, psikologi, keluarga, sosial dan budaya menjadi faktor yang berkontribusi. Faktor-faktor tersebut biasanya saling berperan atau yang biasa disebut sebagai multifaktorial.

Penegakan Diagnosis

Selain gejala makan banyak (binge) dan mengeluarkannya kembali, ada beberapa gejala yang bisa ditemukan pada pasien bulimia. Pemeriksaan gigi menunjukkan adanya karies atau lubang pada gigi atau juga bisa terjadi infeksi gusi. Enamel gigi (lapisan terluar gigi) mengalami kerusakan karena terlalu banyak terpapar asam lambung saat muntah.

Tanda fisik yang juga bisa muncul antara lain:

  • Kerusakan pembuluh darah mata (karena tekanan saat muntah).
  • Mulut kering.
  • Rash (ruam kulit) dan jerawat.

Tes darah bisa menunjukkan adanya gangguan elektrolit (misalnya kadar kalium yang rendah) atau dehidrasi.

Pengobatan Bulimia Nervosa

Seseorang dengan bulimia jarang harus pergi ke rumah sakit kecuali:

  • Mengalami anoreksia.
  • Mengalami depresi berat.
  • Membutuhkan obat untuk membantunya menghentikan muntah.

Pengobatan bulimia kebanyakan butuh pendekatan bertahap. Pengobatan tergantung seberapa berat bulimia dan respon individu terhadap pengobatan:

  • Support dari keluarga atau teman-temannya bisa membantu untuk mengatasi bulimia ringan tanpa masalah kesehatan lainnya.
  • Konseling, misalnya terapi bicara dan terapi nutrisi sebagai terapi utama untuk bulimia yang tidak respon dengan support seperti di atas.
  • Obat – obatan untuk mengobati depresi misalnya selective serotonin-reuptake inhibitors (SSRIs) juga sering digunakan untuk mengobati bulimia.

Tak jarang, beberapa terpai sekaligus diterapkan (kombinasi) ketika terapi tunggal tidak dapat mengatasi bulimia.