10 Tanda-Tanda Pubertas pada Laki-Laki

Tanda-tanda pubertas pada laki-laki yang pertama kali muncul biasanya adalah ukuran tdest1s yang membesar. Selain skr0tum jadi kehitaman, area kemaluan juga mulai ditumbuhi rambut/ bulu. Namun, kondisi ini barulah awalnya saja. Meski waktu terus berlalu, namun proses pubertas masih akan terus berjalan hingga beberapa tahun ke depan.

Memang tidak ada patokan pasti mengenai pada usia berapa seorang laki-laki akan mengalami masa pubertasnya. Beberapa sudah mengalaminya ketika menginjak umur 9 tahun, namun ada pula yang menunggu hingga usianya mencapai 14 tahun. Semua itu tergantung dari siap-tidaknya tubuh masing-masing anak. Berbeda dengan anak perempuan yang lebih jelas, yaitu ketika mendapatkan menstruasi, selengkapnya silahkan baca: 8 Tanda-Tanda Pubertas pada Perempuan

tanda pubertas pada laki-laki

Tanda-Tanda Pubertas Pada Anak Laki-Laki

Beberapa pertanda berikut merupakan sinyal kalau seorang bocah sedang berada dalam masa pubertasnya.

  1. Organ kemaluan mulai berkembang
  2. Rambut/ bulu halus menjadi lebih tebal dan mengeriting
  3. Area ketiak juga mulai dipadati rambut/ bulu
  4. Keringat berlebih dan bau badan
  5. Sementara waktu buah dada akan membengkak
  6. Mimpi basah
  7. Suara menjadi lebih besar
  8. Jerawat mulai muncul
  9. Tumbuh tinggi
  10. Mood labil

Baca penjelasan masing-masing poin berikut ini.

  1. Organ kemaluan mulai berkembang

Selama masa pubertas, ukuran test1s dan skr0tum dapat berkembang hingga 2x lebih besar. Sementara testis terus tumbuh, kulit skrotum yang tadinya kemerahan mulai berubah menjadi lebih gelap dan dipadati dengan folikel rambut.

Tak hanya itu, ukuran pen1s akan ikut memanjang kemudian melebar. Pertumbuhan ini tentu berbeda-beda antara tiap anak. Seorang bocah mungkin saja sudah memiliki organ kemaluan layaknya pria dewasa pada usia 13 tahun, namun ada pula yang mesti menunggu hingga umur 18 tahun.

Yang perlu diperhatikan adalah, setiap anak perlu diberi penjelasan bahwa fungsi seksual sama sekali tak ada kaitannya dengan ukuran pen1s. Jadi kalau ukuran organ kemaluan mereka tak berkembang sesuai yang diharapkan, maka ia takkan sampai merasa minder.

  1. Rambut/ bulu halus menjadi lebih tebal dan mengeriting

Berkat testosteron, tekstur rambut atau bulu halus yang ada pada area kemaluan berangsur-angsur menjadi lebih tebal dan mengeriting. Beberapa tahun ke depan, selain menutupi area kemaluan, bulu-bulu tersebut juga akan menyebar ke area paha maupun bawah pusar.

Menyusul tumbuhnya rambut di area pinggang dan sekitarnya, maka bagian wajah, kaki, lengan, bahkan dada juga besar kemungkinan ditumbuhi bulu. Kuantitas lebat atau tidaknya bulu yang tumbuh juga dipengaruhi faktor genetik.

  1. Area ketiak juga mulai dipadati rambut/ bulu

Lipatan ketiak pun tak luput dari tumbuhnya rambut/ bulu. Dan inilah yang kerap kali menjadi sumber bau badan bila kebersihannya kurang diperhatikan.

  1. Keringat berlebih dan bau badan

Tanda-tanda pubertas pada laki-laki berikutnya adalah munculnya keringat berlebih yang biasanya disertai dengan bau badan. Ketika ini terjadi, maka seorang anak mungkin akan mempertanyakan soal bau badannya. Ia juga bakal mulai belajar memakai deodoran dan mandi lebih sering untuk menghindari aroma tak sedap.

  1. Sementara waktu buah dada akan membengkak

Beberapa anak laki-laki mengalami pembengkakan di area dadanya, terutama di bagian bawah puting. Namun tak perlu khawatir bakal memiliki payudara seperti yang ada pada perempuan, karena hal ini adalah normal dan bersifat sementara saja. Bagian yang membesar tersebutpun hanyalah berisi jaringan lemak belaka.

  1. Mimpi basah

Mimpi basah biasanya muncul ketika tubuh mulai memproduksi lebih banyak hormon testosteron. Ketika terlelap, ia mungkin akan melakukan ejakulasi tanpa sadar. Ini merupakan pertanda bahwa seorang bocah sedang tumbuh dan tubuhnya sedang mempersiapkan kejantanannya.

Selain mimpi basah, seorang bocah bahkan dapat mengalami ereksi. Hal ini mungkin terjadi apalagi kalau penisnya dipadati dengan darah, lalu mengeras. Beberapa anak akan merasa bersalah dan malu saat mengalami semua gejala tersebut. Namun sebenarnya tak perlu demikian, karena hal yang normal ini bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan. Oleh sebab itu, para orang tua atau dewasa diharapkan bisa memberi pengertian pada anak-anak akan masalah ini.

  1. Suara menjadi lebih besar

Suara bocah yang sedang dalam tahap pubertas akan terdengar lebih besar, gagah, bahkan terkadang kala ‘pecah’. Penyebabnya adalah ukuran laring atau kotak suara yang membesar. Begitu ukuran laring sudah maksimal, maka pecahnya suara akan berhenti.

  1. Jerawat mulai muncul

Sama seperti para gadis, munculnya jerawat menjadi salah satu tanda-tanda pubertas pada laki-laki. Anak laki-laki juga akan mengalami pusingnya menghilangkan jerawat yang bermunculan di wajah.

  1. Tumbuh tinggi

Kebanyakan anak laki-laki mengalami rasa sakit pada bagian lengan dan kakinya dikarenakan tulangnya bertumbuh lebih cepat ketimbang otot.

  1. Mood labil

Tak cuma untuk para gadis, pubertas juga memberikan tantangan tersendiri kepada kaum laki-laki. Di samping mengalami perubahan signifikan secara fisik, ia juga harus berhadapan dengan masalah baru yang menggoyahkan rasa percaya diri yaitu jerawat dan bau badan. Oleh karenanya agar seorang laki-laki yang sedang mengalami pubertas tak sampai depresi atau minder, maka ia perlu bimbingan dari orang tua/ dewasa.

Uniknya, butuh waktu berbeda bagi setiap bocah untuk terlihat seperti pria dewasa. Ada yang hanya 2 tahun, namun tak sedikit pula yang memakan waktu lebih lama hingga 6 tahun. Pada masa itu, alat kemaluannya sudah tampak seperti yang dimiliki laki-laki dewasa. Wajahnya juga akan ditumbuhi kumis atau jenggot sehingga ia harus belajar bercukur.

Dan walau membingungkan bagi beberapa anak, namun masa perubahan ini bisa terasa menyenangkan kalau ia mendapatkan arahan dan bimbingan yang tepat dari orang tua/ dewasa. Dengan demikian tanda-tanda pubertas pada laki-laki yang sudah disebutkan di atas dapat ia terima dan lalui dengan baik.

 

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer