Imunisasi PCV : Jadwal, Manfaat, Efek Samping

Imunisasi PCV atau imunisasi dengan Pneumococcal Vaccine merupakan imunisasi yang tergolong baru di Indonesia. Sejak ditentukannya jadwal imunisasi pada tahun 2007, imunisasi PCV dimasukkan ke dalam kelompok imunisasi yang dianjurkan sesuai dengan yang direkomendasikan oleh IDAI pada tahun 2006.

Di Indonesia pada saat ini terdapat 2 jenis vaksin pneumokokus yaitu vaksin pneumokokus polisakarida murni 23 serotipe yang disebut PPV23 dan vaksin pneumokokus polisakarida konjugasi 7 serotipe yang disebut PCV7.

imunisasi PCV

Tujuan dan Manfaat Imunisasi PCV

Tujuan pemberian imunisasi PCV adalah untuk merangsang pembentukan imunitas atau kekebalan terhadap infeksi kuman Streptococcus Pneumoniae atau kuman Pneumokokus yang dapat menular melalui udara. Manfaat pemberian imunisasi PCV adalah untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit Invasive Peumococcal Diseases (IPD) yang dapat berupa meningitis atau peradangan pada selaput otak, bakteremia atau infeksi bakteri dalam darah, dan pneumonia atau peradangan pada paru – paru. Penyakit IPD ini sangat berbahaya karena kuman kuman Streptococcus Pneumoniae dapat menyebar melalui peredaran darah sehingga dapat memperluas jangkauan infeksi. Gejala yang dtimbulkan umumnya berupa demam yang tinggi, menggigil, hipotensi, mengigau, penurunan kesadaran hingga koma.

Jadwal Imunisasi PCV

Jadwal pemberian imunisasi PCV dilakukan sebanyak empat kali pemberian yaitu :

  • Dosis I sudah dapat diberikan sejak seorang anak berusia 2 bulan
  • Dosis II pemberiannya dilakukan pada saat anak berusia 4 bulan
  • Dosis III pemberiannya dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan
  • Dosis IV pemberiannya dilakukan pada saat anak berusia 12 – 15 bulan atau 2 tahun.

Apabila hingga anak berusia 6 bulan belum menerima vaksin PCV, Dosis I dan II pemberiannya dapat dilakukan pada usia 7 – 11 bulan dengan interval antara dosis minimal 1 bulan. Apabila hingga anak berusia 12 bulan belum menerima vaksin PCV, Dosis I dan II pemberiannya dapat dilakukan pada usia 12 – 23 bulan dengan interval antara dosis minimal 2 bulan

Cara Pemberian dan Dosis

Vaksin PCV dikemas dalam bentuk prefilled syringe dengan dosis 5 ml. Cara pemberian imuniasai PCV adalah dengan menyuntikkannya secara intramuskular. Pemberian Dosis pertama tidak dilakukan sebelum umur 6 minggu. Pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang kurag dari 1500 gram vaksin baru boleh diberikan setelah bayi memiliki umur kronologik 6 – 8 minggu, atau dapat diberikan tanpa memperhatikan umur apabila berat badan bayi telah mencapai lebih dari 2000 gram. Vaksin PCV dapat diberikan secara bersamaan dengan vaksin lain seperti DPT, TT, HepB, HiB, MMR, atau varisela, dengan syarat harus menggunakan spuit yang terpisah dengan masing – masing vaksin disuntikkan pada sisi badan yang berlainan.

Efek Samping

Efek samping imunisasi PCV yang muncul bervariasi namun secara umum sifatnya ringan dan dapat hilang dengan sendirinya. Efek samping tersebut antara lain demam ringan dengan suhu rata – rata kurang dari 38 derajat celcius, mengantuk, nafsu makan yang berkurang, muntah, mencret, reewel, dan muncul bercak kemerahan pada kulit.

Pada kelompok anak dengan risiko tinggi yang berumur antara 2 tahun sampai 5 tahun, Imunisasi PCV harus menggunakan vaksin PCV7 diberikan secara kombinasi bersamaan dengan vaksin PPV23 karena anak – anak pada kelompok ini lebih rentan terhadap infeksi semua serotipe pneumokokus. Kelompok anak dengan risiko tinggi tersebut antara lain anak – anak yang memiliki penyakit kronik seperti penyakit infeksi HIV, defisiensi imun bawaan, penyakit paru kronik, penyakit asma yang mendapat terapi kortikosteroid oral dosis tinggi, penyakit jantung bawaan, penyakit gagal jantung, peyakit ginjal kronik, sindrom nefrotik, anemia sickle cell, aslenia kongenital / didapat, disfungsi limpa, penyakit yang mendapat terapi imunosupresif atau radiasi termasuk keganasan dan transplantasi organ, serta penyakit diabetes melitus.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer