Mengenal Jenis-Jenis Vaksin Difteri (DPT, DTaP, DT, Tdap, Td)

Pemberian vaksin difteri menjadi satu-satunya cara yang paling efektif dalam menangkal difteri. Pasalnya, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae ini begitu cepat menular. Terlebih, pada mereka yang memiliki sistem imun tubuh yang lemah dan belum pernah melakukan imunisasi difteri.

Kenali lebih jauh mengenai jenis-jenis vaksin difteri, indikasi dan efek sampingnya berikut ini.

Jenis-Jenis Vaksin Difteri

Tidak seperti penyakit hepatitis B yang vaksinnya dapat berdiri sendiri, vaksin difteri tersedia dalam bentuk kombinasi dengan tetanus, dan/atau pertusis (batuk rejan).

Secara internasional vaksin difteri dalam bentuk kombinasi di atas terdiri dari 4 jenis, yakni DTaP, DT, Tdap dan Td. Vaksin DTaP dan DT ditujukan untuk anak berusia 2 bulan hingga 7 tahun. Sedangkan Tdap dan Td, ditujukan untuk anak usia 7 tahun ke atas dan orang dewasa hingga usia 64 tahun.

vaksin difteri

ilustrasi vaksin difteri

Berikut penjelasan selengkapnya:

Vaksin Difteri DTaP dan DT

Sesuai dengan nama singkatannya, Vaksin DTaP terdiri dari tiga komponen, yakni toksoid difteri (D), toksoid tetanus (T) dan komponen antigen bakteri pertusis (aP, acellular pertusis). Di Indonesia lebih banyak dijumpai vaksin DPT atau DTP, letak perbedaannya pada komponen antigen untuk pertusis.

Vaksin DTP berisi sel bakteri Pertusis utuh dengan ribuan antigen di dalamnya, termasuk antigen yang tidak diperlukan, disingkat juga dengan DTwP, w untuk whole. Karena banyak mengandung antigen, maka jenis vaksin ini sering menimbulkan reaksi panas tinggi, bengkak, merah, nyeri ditempat suntikan. Sedangkan vaksin DTaP berisi bagian bakteri pertusis yang tidak utuh, hanya mengandung sedikit antigen yang dibutuhkan saja sehingga minim efek di atas.

Vaksin DT hanya terdiri dari toksoid difteri (D) dan tetanus (T) yang khusus ditujukan untuk anak yang memiliki reaksi alergi terhadap vaksin pertusis. Dengan kata lain, menjadi pengganti vaksin DTaP pada kondisi tersebut.

DTaP atau DPT dan DT, keduanya ditujukan untuk anak yang berusia 2 bulan hingga 7 tahun. Pemberiannya dilakukan secara bertahap. Dimulai ketika anak berusia 2 bulan (DTap I), 3 bulan (DTap II) dan 4 bulan (DTap III). Kemudian vaksin DTap ulang akan diberikan 1 tahun setelah DTaP III dan pada usia pra-sekolah, yakni 5-6 tahun.

Vaksin difteri ini tidak dapat diberikan pada anak yang berusia di atas 7 tahun dan yang sedang menderita sakit, baik ringan atau lebih serius. Efek samping ringan yang mungkin timbul setelah pemberian vaksin, berupa demam ringan, nyeri, kemerahan dan pembengkakan lokal di daerah penyuntikan. Biasanya efek samping ini hanya berlangsung selama 1-2 hari.

Untuk mengatasi demam ringan dan nyeri, anak dapat diberikan obat pereda nyeri atau analgesik seperti paracetamol atau ibuprofen. Sementara untuk meredakan kemerahan juga pembengkakan, maka dapat diberikan kompres air hangat atau dingin dan berlatih untuk terus menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai.

Vaksin Difteri Tdap dan Td

Vaksin difteri jenis Tdap (tetanus, difteri dan aselular pertusis) dan Td (tetanus dan difteri) merupakan jenis vaksin lanjutan yang diberikan setelah anak mendapat serangkaian vaksinasi awal (DTaP atau DT) secara lengkap. Umumnya diberikan ketika anak sudah berusia 10-16 tahun. Setelah itu, diulangi lagi setiap 10 tahun sebagai booster atau penguat.

Selain itu, vaksin jenis ini juga ditujukan untuk orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin difteri ketika anak-anak, petugas medis di rumah sakit dan wanita hamil terutama ketika memasuki usia kandungan 27-36 minggu. Pemberian vaksin Tdap atau Td direkomendasikan untuk di ulang setiap 10 tahun sekali. Mengingat, kekebalan tubuh yang bisa saja menurun seiring berjalannya waktu.

Seseorang yang sedang mengalami sakit ringan, masih bisa melakukan vaksin difteri jenis ini. Namun, untuk penyakit yang cukup serius, pemberian vaksin harus dilakukan setelah sembuh atau hingga dokter atau petugas medis mengizinkan.

Efek samping ringan vaksin Tdap dan Td serupa dengan efek samping vaksin DTaP atau DT. Diantaranya seperti demam ringan, rasa nyeri, kemerahan dan pembengkakan di area penyuntikkan. Efek samping serius seperti reaksi anafilaksis jarang terjadi.

Lantas, apa perbedaan DTaP dengan Tdap, dan DT dengan Td?

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa kedua kelompok vaksin di atas memiliki kandungan yang sama. Lantas, apa yang membedakan keduanya sehingga singkatan dan kegunaannya dapat berbeda?

Huruf besar “T” berarti dalam vaksin tersebut mengandung tetanus toksoid dalam jumlah atau kadar yang sama besarnya. Kita perhatikan bahwa setiap vaksin mengandung T besar (DTaP, DT, Tdap dan Td). Berbeda dengan kandungan lainnya, D dan P ada yang ditulis besar dan kecil.

Huruf besar “D” dan “P” berarti pada vaksin tersebut mengandung toksoid difteri (D) dan antigen pertusis (P) dengan jumlah atau kadar yang tinggi.  Sedangkan pada vaksin berhuruf kecil (“d” “p”) berarti memiliki kadar yang rendah. 

Kemudian, aturan penulisan untuk huruf D besar selalu di letakkan di awal. Contohnya pada vaksin DT yang menjadi Td ketika kandungan toksoid difterinya rendah, bukan ditulis dT.

Semua jenis vaksin berkadar rendah (“d” “p”) digunakan hanya sebagai tambahan atau penguat (Booster) untuk usia di atas 7 tahun.

Tingkat keberhasilan vaksin difteri terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus apabila diberikan secara lengkap dan berulang mencapai 90%. Oleh karena itu, setiap individu baik yang masih berusia di bawah 7 tahun hingga orang dewasa diatas 40 tahun disarankan  untuk melakukan vaksin difteri guna mencegah penyebaran penyakit berbahaya ini.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT