Delusi adalah waham atau suatu keyakinan yang tidak benar karena bertentangan dengan kenyataan. Meskipun begitu ia sangat yakin, tidak peduli apapun pendapat orang dan tidak peduli meskipun ada bukti-bukti yang membantahnya. Delusi merupakan salah satu gejala dari beberapa gangguan jiwa psikotik seperti skizofrenia, gangguan bipolar dan parafrenia.

Delusi biasanya hanya disebabkan oleh gangguan mental atau kejiwaan dan tidak berhubungan dengan penyakit fisik tertentu. Namun bisa ditemukan sebagai manifestasi klinik dari berbagai penyakit fisik dan mental yang berbeda.

delusi

Orang yang mengalami delusi akan menceritakan suatu hal dengan penuh keyakinan meskipun sebenarnya ceritanya itu tidak pernah terjadi alias hanya dalam khayalannya. Keyakinannya tersebut terus ia percayai meskipun tidak memiliki dasar dan bukti yang konkrit.

 

Orang yang mengalami waham kebanyakan dapat bersosialisasi dan menjalankan fungsinya dengan normal, terpisah dari ketika ia mengalami fase delusi, dan umumnya tidak menunjukkan perilaku ganjil secara jelas. Hal ini berbeda dengan orang yang mengalami gangguan psikotik lainnya, dimana delusi merupakan salah satu gejalanya.

Pada beberapa kasus, orang dengan gangguan delusi bisa mengalami delusinya terus menerus sehingga kehidupannya menjadi kacau. Walaupun waham merupakan gejala dari banyak penyakit mental misalnya skizofrenia, namun ada yang berdiri sendiri meskipun jarang terjadi.

Gangguan delusi sering terjadi di usia pertengahan hingga akhir kehidupan dan lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria.

Gejala Delusi Sesuai Jenisnya

Jika dilihat dari sudut pandang “kelaziman”, delusi/waham dapat dikategorikan dalam dua jenis, bizarre delusion (waham yang tidak masuk akal, tidak mungkin terjadi) dan non-bizarre delusion (waham yang masih masuk akal, masih mungkin terjadi di dunia nyata).

  • Delusi non-bizzare. Meliputi situasi yang dapat terjadi di dunia nyata seperti merasa diikuti, diracuni, dibohongi, atau adanya konspirasi untuk melawannya. Biasanya meliputi kesalahpahaman terhadap situasi atau kejadian yang terjadi.
  • Delusi bizarre. Percaya penuh terhadap sesuatu yang ganjil atau tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata seperti adanya alien, adanya telepati dan lain sebagainya.
Secara tematis, delusi terdiri dari berbagai macam dan kondisi sebagai berikut:
  • Waham Persekusi. Begitu yakin bahwa dirinya sedang terancam, diawasi, atau diracuni sehingga ia selalu merasa curiga dengan lingkunagn sekitarnya.
  • Waham Referensi. Keyakinan yang penuh bahwa tanda, kejadian, atau obyek tertentu yang di sekitarnya menyampaikan pesan rahasia kepada dirinya yang dikirim oleh seseorang.
  • Waham Kebesaran. Percaya penuh bahwa dirinya adalah orang hebat dan terkenal (seperti Nabi, presiden atau artis), atau yakin bahwa dirinya memiliki pengetahuan, kemampuan, atau kelebihan istimewa yang tidak dimiliki orang lain.
  • Waham Kendali. Begitu yakin bahwa pikiran dan perilakunya dikendalikan oleh orang lain.
  • Waham Nihilistik: Meyakini bahwa dirinya sendiri, seseorang, benda tertentu atau apa saja di dunia ini tidak ada lagi, sudah berakhir, atau tidak nyata.
  • Waham Cemburu. Begitu yakin bahwa pasangannya tidak setia atau berselingkuh tanpa adanya bukti.
  • Waham Dosa. Begitu yakin bahwa dirinya telah melakukan dosa atau kesalahan besar seolah tak akan diampuni.
  • Sisip Pikir (Thought Insertion). Meyakini bahwa ada yang merasuki pikirannya.
  • Sedot Pikir (Thought Withdrawal). Meyakini bahwa pikirannya dicuri atau direbut oleh pihak lain, sehingga ia tidak bisa mengingatnya.
  • Siar Pikir (Thought Broadcasting). Meyakini bahwa pikirannya sedang disiarkan kepada semua orang.
  • Waham Baca Pikiran. Begitu yakin bahwa pikirannya sedang dibaca oleh orang lain.
  • Erotomania. Terlalu percaya diri bahwa seseorang, biasanya yang berstatus lebih tinggi, sedang jatuh cinta kepadanya.
  • Waham Keagamaan. Waham yang berhubungan dengan hal-hal spiritual, sehingga membuat dirinya wajib melakukan sesuatu hal yang tidak lazim.
  • Waham Somatik. Meyakini bahwa tubuhnya telah berubah, sakit, ataupun tidak normal.

Ada beberapa tipe gangguan delusi menurut American Psychiatry Association yakni sebagai berikut:

  • Erotomanic. Individu dengan tipe delusi ini percaya bahwa orang lain (seringnya adalah orang penting atau orang yang terkenal) jatuh cinta padanya. Individu ini berusaha untuk kontak atau berhubungan dengan objek delusinya atau bahkan menjadi stalker (penguntit) meskipun hal ini tidak banyak terjadi.
  • Waham Kebesaran (Grandiose). Seseorang yang mengalami tipe delusi ini memiliki perasaan berharga, memiliki kekuatan, atau berpengetahuan yang sangat berlebihan. Individu ini percaya bahwa ia memiliki talenta yang sangat besar atau bisa melakukan penemuan yang sangat hebat dan penting.
  • Waham Cemburu. Begitu yakin bahwa pasangannya selingkuh.
  • Waham Kejar (Persecutory). Begitu yakin bahwa dirinya (atau orang yang dekat dengannya) diperlakukan tidak adil atau seseorang sedang memata-matai mereka atau berencana untuk mencelakakannya.
  • Waham Somatik. Begitu yakin bahwa ia mengalami gangguan kesehatan, padahal nyatanya tidak setelah dibuktikan dengan pemeriksaan.
  • Tipe campuran. Seseorang memiliki dua atau lebih gangguan waham seperti di atas.

Gejala lain yang bisa muncul saat seseorang mengalami delusi antara lain:

  • Mood yang buruk, mudah marah, mudah tersinggung.
  • Halusinasi (perasaan bias melihat, mendengarm atau merasakan sesuatu yan sebenarnya tak ada) yang berhubungan dengan delusi. Misalnya seseorang yang percaya bahwa dia memiliki masalah penciuman bisa mencium bau yang tak sedap.

Penyebab Delusi dan Faktor Risiko

Sama halnya dengan gangguan psikotik lainnya, penyebab pasti delusi tidak diketahui dengan pasti. Para peneliti melihat adanya berbagai macam faktor yang ikut andil dalam terjadinya delusi seperti genetik, biologi, lingkungan dan juga faktor psikologi.

  • Genetik. Delusi kebanyakan terjadi pada individu dengan riwayat keluarga yang juga mengalami delusi atau skizofrenia.
  • Biologi. Peneliti mempelahari adanya ketidaknormalan pada area tertentu di otak yang menyebabkan berkembangnya delusi.
  • Lingkungan/psikologi. Adanya bukti yang menunjukkan delusi dicetuskan oleh stress. Alkohol dan juga penggunaan obat terlarang juga memberikan kontribusi terjadinya delusi.

Penegakan Diagnosis

Delusi dapat dipastikan keberadaannya setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan oleh dokter. Jika gejala delusi seperti yang telah dijelaskan di atas muncul pada pasien, maka dokter akan melakukan pemeriksaan riwayat medis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang secara spesifik dapat mendiagnosis gangguan delusi ini. Dokter mungkin melakukan berbagai macam pemeriksaan seperti tes darah dengan tujuan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit fisik sebagai penyebabnya.

Jika dokter tidak menemukan adanya gangguan fisik sebagai alasan terjadinya waham, maka dokter akan merujuk pasien ke psikiatrik (dokter spesialis kesehatan jiwa atau Sp.KJ) untuk mengevaluasi adanya kemungkinan terjadinya gangguan psikotik. Diagnosis delusi ditegakkan jika pasien mengalami gejala delusi non bizzare selama paling tidak 1 bulan dan tidak ada gejala khas lain dari penyakit psikotik lainnya seperti skizofrenia yang menyertai.

Pengobatan Waham

Pengobatan untuk gangguan delusi kebanyakan meliputi medikasi dengan obat – obatan dan juga psikoterapi (sejenis konseling). Gangguan waham bisa cukup sulit untuk diobati karena adanya insight (pandangan) yang buruk dari diri si pasien itu sendiri bahwa ia sakit dan pasien tidak mengenali bahwa ada masalah psikis yang terjadi dalam dirinya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian pasien bisa diobati dengan obat antipsikosis seperti haloperidol, loxapine dan lain sebagainya.

Antipsikosis adalah terapi utama untuk gangguan delusi namun terkadang psikoterapi juga bisa menjadi pengobatan tambahan untuk membantu pasien mengontrol rasa stressnya. Psikoterapi yang berperan dalam terapi delusi antara lain:

  • Psikoterapi individual. Tindakan ini bisa membantu pasien mengenali dan memperbaiki pola pikirnya.
  • Cognitive-behavioral therapy (CBT). Terapi ini juga bisa membantu pasien mengenali dan mengubah pola pikirnya yang salah.
  • Terapi keluarga. Terapi ini membantu keluarga untuk dapat berdamai dan menunjukkan rasa cinta pada keluarganya yang mengalami gangguan delusi. Hal ini berkontribusi pada perbaikan psikis pasien.