Pengertian

Apa itu Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar gula darah di dalam tubuh terlampau tinggi yang terjadi akibat kekurangan hormon insulin, atau hormon insulin sudah cukup namun tubuh tidak dapat menggunakannya secara optimal (resistensi insulin). Kedua hal itu dapat terjadi secara tunggal atau kombinasi.

diabetes melitus

Saat kita mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, tubuh mencernanya menjadi gula sederhana yang disebut glukosa. Glukosa yang dialirkan melalui darah ini kemudian mengisi sel-sel di setiap sudut tubuh kita. Hormon insulin berperan dalam memasukkan glukosa tersebut ke dalam sel sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi.

Saat kadar insulin atau kerjanya menurun, maka gula darah banyak menumpuk dalam aliran darah. Celakanya, kadar glukosa darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, jantung, mata, atau sistem saraf. Hal ini yang menyebabkan diabetes melitus (terutama jika tidak tertangani dengan baik) pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya penyakit jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan saraf pada saraf.

Secara umum terdapat tiga jenis utama diabetes melitus yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional.

  • Pada diabetes melitus tipe 1 atau disebut juga diabetes melitus tergantung insulin, sistem imun tubuh menyerang sel beta pankreas yang berperan untuk menghasilkan hormon insulin dan lebih dari 90% mengalami kerusakan permanen. Kebanyakan pasien dengan diabetes melitus tipe 1 mulai mengalami penyakit ini sebelum usia 30 tahun meskipun beberapa pasien ada juga yang mengalaminya setelah usia tersebut.
  • Pada diabetes melitus tipe 2 atau disebut juga diabetes melitus tidak tergantung insulin, sel beta pankreas tetap dapat menghasilkan insulin bahkan kadang lebih tinggi dari kadar normal namun tubuh tidak dapat menggunakan hormon insulin  tersebut akibat terjadi resistensi insulin. Diabetes melitus tipe 2 biasanya mulai terjadi pada masa dewasa, jarang terjadi pada masa kanak – kanak.
  • Pada diabetes gestational, diabetes melitus terjadi pada masa kehamilan.

Berapa angka kejadian diabetes melitus di Indonesia?

Berdasarkan data International Diabates Federation (IDF) diketahui bahwa jumlah penyandang diabetes melitus di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta. Prevalensi diabetes melitus di Indonesia cenderung meningkat, yaitu dari 5,7% tahun 2007, menjadi 6,9% tahun 2013. Sayangnya berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes), 2/3 diabetesi (sebutan untuk penderita diabates) di Indonesia tidak mengetahui dirinya memiliki diabetes.

Penyakit diabetes melitus menjadi persoalan serius dunia, termasuk Indonesia. Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai negara dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Bahkan jumlah pengidap diabetes terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data WHO memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus (DM) tipe 2 di Indonesia akan meningkat signifikan hingga 21,3 juta jiwa pada 2030 mendatang.

Ikhtisar Penyakit Diabetes Melitus

Organ terlibat organ endokrin. Bisa terjadi komplikasi hingga ke mata, ginjal, jantung, saraf, dan organ lainnya
Penyebab tubuh tidak dapat menghasilkan hormon insulin, terjadi resistensi insulin (tidak dapat  menggunakan insulin yang dihasilkannya), atau karena kombinasi keduanya
Penularan tidak menular
Gejala sering kencing, sering haus, mudah lapar
Pengobatan obat anti diabetik oral ataupun suntikan insulin

Tanda dan Gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala diabetes melitus?

Diabetes melitus dapat memiliki gejala yang sangat mirip pada masing – masing tipe jika glukosa darah meningkat secara signifikan. Gejala kadar glukosa darah tinggi antara lain: rasa haus meningkat (polidipsia), peningkatan buang air kecil (poliuria), dan meningkatnya rasa lapar (polifagia).

3P (polidipsia, poliuria, dan polifagia) adalah gejala khas diabetes melitus.

Ketika kadar glukosa darah naik di atas 160 hingga 180 mg/dL, glukosa akan bocor hingga ke urin karena ginjal tidak sanggup menyaringnya lagi. Ketika kadar glukosa dalam urin meningkat bahkan lebih tinggi, ginjal akan mengeluarkan air tambahan untuk mengencerkan glukosa yang berlebihan tersebut. Hal inilah yang membuat penderita diabetes melitus sering buang air kecil dalam jumlah besar (poliuria).

Terlalu banyak buang air kecil menciptakan haus yang abnormal (polidipsia). Karena kalori yang berlebihan hilang dalam urin, berat badan menurun. Untuk mengimbanginya, maka pasien dengan diabetes melitus akan sering merasa lapar berlebihan (polifagia).

Gejala lain diabetes melitus termasuk penglihatan kabur, mudah mengantuk, mual, hingga daya tahan menurun terutama saat berolahraga. Baca lebih lanjut: 15 Gejala Diabetes yang Wajib Dikenali

Kapan harus periksa ke dokter?

cek gula darah diabetes

ilustrasi cek gula darah untuk diabetes

Seseorang yang mengalami trias gejala poliuri, polifagi, dan polidipsi sebaiknya memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah dirinya mengalami diabetes melitus atau tidak. Pasien berusia 17 tahun dengan riwayat keluarga memiliki penyakit diabetes melitus juga disarankan memeriksakan diri ke dokter untuk melakukan skrining diabetes. Pasien berusia 40 tahun ke atas juga disarankan untuk melakukan skrining diabetes melitus.

Penyebab dan Faktor Risiko

Apa penyebab diabetes melitus ?

Penyebab diabetes melitus tipe 1

Penyebab pasti diabetes melitus tipe 1 tidak diketahui. Yang diketahui hanyalah adanya peran sistem imun tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang biasanya melawan bakteri atau virus berbahaya malah menyerang dan menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas. Hal ini membuat tubuh memiliki sedikit atau bahkan tanpa insulin. Akibatnya gula menumpuk di aliran darah.

Tipe 1 diduga disebabkan oleh kombinasi kerentanan genetik dan faktor lingkungan, meskipun faktanya faktor-faktor tersebut masih belum jelas.

Penyebab diabetes melitus tipe 2

Pada diabetes melitus tipe 2, sel-sel tubuh mengalami resistensi terhadap aksi insulin, dan pankreas tidak dapat membuat insulin yang cukup untuk mengatasi resistensi ini. Penyebab pasti tipe ini tidak diketahui, meskipun faktor genetik dan lingkungan seperti gaya hidup tak sehat diyakini berperan dalam terjadinya diabetes melitus tipe 2. Kelebihan berat badan juga diketahui sangat terkait dengan perkembangan diabetes melitus tipe 2, tetapi tidak semua orang dengan diabetes melitus tipe 2 mengalami kelebihan berat badan.

Penyebab diabetes gestasional

Selama kehamilan, plasenta menghasilkan hormon untuk mempertahankan kehamilan. Hormon-hormon ini membuat sel-sel menjadi lebih tahan (resisten) terhadap insulin. Biasanya, pankreas akan merespons dengan memproduksi cukup insulin tambahan untuk mengatasi resistensi ini.

Tetapi terkadang pankreas tidak dapat melakukannya. Ketika hal ini terjadi, maka jumlah glukosa yang bisa masuk ke sel-sel tubuh menjadi terlalu sedikit dan kebanyakan yang tinggal di darah sehingga mengakibatkan terjadinya diabetes gestasional.

Siapa yang lebih berisiko terjangkit diabetes melitus ?

Faktor risiko diabetes melitus tergantung dari tipenya.

Pada diabetes melitus tipe 1, faktor risikonya adalah riwayat keluarga, faktor lingkungan, adanya kerusakan sistem imun, dan faktor geografi ( beberapa negara seperti Finlandia dan Swedia memiliki angka kejadian diabetes melitus tipe 1 lebih tinggi).

Faktor risiko diabetes melitus tipe 2 antara lain berat badan berlebih, inaktivitas fisik, riwayat keluarga, ras, penyakit tertentu seperti sindrom polikistik ovarium, tekanan darah tinggi dan dislipidemia.

Faktor risiko diabetes gestasional adalah usia kehamilan lebih dari 25, berat badan berlebih sebelum hamil, riwayat keluarga, hingga ras.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Bagaimana memastikan diagnosis diabetes melitus?

Untuk memastikan diabetes melitus perlu dilakukan anamnesis (tanya jawab) secara detail pada pasien terkait keluhan yang dialami, riwayat penyakit diri dan keluarga, riwayat penyakit dahulu yang pernah dialami hingga riwayat kebiasaan sehari – hari. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya gangguan fisik yang dialami meskipun pada beberapa pasien hal ini tidak ditemukan.

Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan antara lain:

  • pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (GDS)
  • pemeriksaan kadar gula darah puasa (GDP)
  • pemeriksaan kadar gula darah 2 jam post prandial (GDPP)
  • pemeriksaan kadar HbA1C

Obat dan Pengobatan

Bagaimana cara mengobati diabetes melitus di rumah?

Untuk mengatasi diabetes melitus perlu dilakukan terapi non farmakologi berupa pengaturan diet dan juga peningkatan aktivitas fisik.

Diet yang bisa dilakukan adalah pembatasan makanan tinggi karbohidrat terutama karbohidrat sederhana seperti gula, coklat, roti, dan sebagainya serta membatasi makanan tinggi kolesterol seperti santan, gorengan, jeroan, telur puyuh dan lainnya. Makanan yang perlu ditingkatkan konsumsinya adalah makanan tinggi serat seperti sayur dan buah. Namun beberapa buah yang tinggi gula dan lemak juga sebaiknya dibatasi seperti mangga, pisang dan durian. Apel adalah contoh buah yang baik dikonsumsi.

Peningkatan aktivitas fisik terutama dengan olahraga teratur sangat disarankan misalnya berenang, jalan cepat, dan bersepeda. Olahraga sebaiknya dilakukan teratur 30 -45 menit tiap sesinya sebanyak 3 – 5 kali tiap minggu.

Apa saja penanganan dan obat diabetes melitus di layanan kesehatan?

Terapi farmakologi yang diberikan untuk mengobati diabetes melitus antara lain berupa:

  • Obat anti diabetes oral seperti metformin, glibenklamid, glimepirid.
  • Insulin diberikan pada pasien diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan obat anti diabetes oral.

Komplikasi

Apa bahaya komplikasi  diabetes melitus yang mungkin timbul?

Beberapa komplikasi diabetes melitus yang bisa terjadi antara lain penyakit kardiovaskular, kerusakan saraf (neuropati), kerusakan ginjal (nefropati), kerusakan mata (retinopati), ulkus diabetik, hingga terjadi depresi.

Pada diabetes gestasional juga bisa menimbulkan komplikasi pada bayi berupa giant baby (bayi lahir dengan berat badan berlebih yakni >4kg), terjadi hipoglikemia (gula darah rendah) segera setelah lahir, meningkatkan risiko terjadinya diabetes melitus tipe 2 pada kehidupannya kelak, hingga terjadi kematian.

Pencegahan

Bagaimana mencegah diabetes melitus ?

Untuk diabetes melitus tipe 1 tidak bisa dicegah. Namun untuk diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah dengan cara menjaga pola hidup sehat berupa mengurangi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, meningkatkan asupan makanan tinggi serat, meningkatkan aktivitas fisik misalnya dengan melakukan olahraga teratur 30 – 45 menit sehari sebanyak 3-5 kali per minggu, serta menurunkan berat badan berlebih.