Diltiazem obat apa?

Diltiazem adalah obat dari jenis antagonis kalsium yang dapat merelaksasi otot polos pada dinding arteri sehingga terjadi pelebaran dan memperlancar aliran darah dari dan ke jantung. Dengan begitu, terjadi penurunan tekanan pada jantung dan meringankan gejala hipertensi. Meskipun begitu, obat ini hanya mengurangi tekanan darah namun tidak mengobati hipertensi secara keseluruhan.

Diltiazem juga diresepkan untuk mengatasi angina pektoris atau yang lebih dikenal sebagai ‘angin duduk’. Kondisi ini terjadi akibat berkurangnya oksigen dan aliran darah pada jaringan miokardium (otot jantung) yang menyebabkan nyeri pada area jantung atau dada.

Ikhtisar Obat Diltiazem

Jenis obatAntagonis kalsium
KategoriObat resep
Kegunaan– Perawatan hipertensi

– Penanganan angina (nyeri dada)

KonsumenDewasa dan lansia
KehamilanKategori C
SediaanOral dan parenteral
MerekCordila SR, Dilbres, Dilmen, Farmabes, Cardyne, Dilso, Diltiazem Indo Farma
sediaan diltiazem hcl 30 mg dalam obat merek farmabes 30

Sediaan diltiazem hcl 30 mg dalam obat merek farmabes 30

Mekanisme Kerja

Diltiazem bekerja dengan cara merelaksasi otot vaskular koroner yang menyebabkan efek vasodilatasi (pelebaran) pada pembuluh darah. Hal ini dilakukan dengan cara menghambat masuknya ion kalsium (Ca) selama depolarisasi otot polos pada pembuluh darah dan miokardium. Senyawa ini juga dapat menghambat konduksi jantung, terutama pada nodus SA dan AV serta meningkatkan suplai oksigen ke jaringan miokardial.

Indikasi atau Kegunaan Diltiazem

Diltiezam dapat digunakan untuk pengobatan, pencegahan atau perawatan kondisi kesehatan berikut:

  • Hipertensi.
  • Angina pektoris (angin duduk).
  • Aritmia jantung (gangguan irama jantung).

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakannya:

  • Memiliki riwayat hipersensitif/ alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Mengalami sindrom sick-sinus (ketidaknormalan detak jantung akibat tidak berfungsi dengan baiknya nodus sinus).
  • Orang dengan kondisi AV block tingkat 2 atau 3.
  • Menderita hipotensi berat (kurang dari 90 mm Hg sistolik).
  • Mengalami infark miokard akut dan kongesti paru-paru.

Dosis diltiazem dan Cara Penggunaan

diltiazem hcl injeksi dalam beberapa sediaan

Diltiazem hcl injeksi dalam beberapa sediaan

Diltiazem tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis

  • Tablet: 30 mg, 60 mg, 120 mg, 180 mg
  • Injeksi: 50 mg/10 ml, 125 mg/25 ml, 25 mg/5ml.

Dosis yang tepat untuk kondisi penyakit yang Anda derita adalah yang diresepkan oleh dokter Anda. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Aritmia Jantung

  • Dewasa: dosis awal, 250 mcg/kg melalui intravena dengan injeksi bolus selama 2 menit, dapat diberikan dosis tambahan 350 mcg/kg setelah 15 menit jika dibutuhkan. Untuk pasien dengan fibrilasi atrium dosisnya: 5-10 mg/jam menggunakan infus, dapat ditingkatkan secara bertahap dari 5 mg/jam hingga 15 mg/jam dijalnjutkan hingga 24 jam.

Angina pektoris (angin duduk)

  • Dewasa: 60 mg 3 kali sehari, dapat ditingkatkan menjadi 360 mg per hari hingga 480 mg per hari jika dibutuhkan.
  • Lansia: 120 mg per hari dalam 1 atau 2 dosis. Dapat ditingkatkan secara perlahan jika detak jantung masih >50 detak/menit.

Hipertensi

  • Dewasa: 90-120 mg tiga kali sehari, dapat ditingkatkan hingga maksimum 360 mg per hari jika dibutuhkan.
  • Lansia: 120 mg per hari dalam 1 atau 2 dosis. Dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit jika detak jantung masih > 50 detak/menit.

Petunjuk Penggunaan:

  • Untuk jenis tablet standar release, obat ini dapat digunakan sebelum atau sesudah makan. Dianjurkan untuk banyak minum air putih setelahnya.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis diltiazem  pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Diltiazem

Seperti halnya obat-obatan lainnya, diltiazem juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Pusing.
  • Kepala terasa ringan.
  • Mual.
  • Konstipasi.

Beberapa efek yang jarang terjadi:

  • Pingsan.
  • Detak jantung lambat dan tidak teratur.
  • Pergelangan kaki bengkak.
  • Sesak nafas.
  • Kenaikan berat badan.
  • Perubahan mood.
  • Urin gelap.
  • Muntah terus menerus.
  • Kulit menguning.

Efek Overdosis Diltiazem

Jika terjadi penggunaan berlebihan dan muncul gejala seperti hipotensi parah, bradikardia, gagal jantung, artimia dan shock, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan segera. Umumnya akan dilakukan pengobatan berdasarkan gejala yang timbul.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Pastikan Anda tidak memiliki riwayat alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Sampaikan pada dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit ritme jantung seperti sindrom sick-sinus, penyakit hati dan ginjal.
  • Obat ini dapat menyebabkan pusing, jangan mengendarai kendaraan atau menggunakan alat berat yang membutuhkan konsentrasi tinggi saat menggunakan obat ini.
  • Efek samping obat ini akan lebih sensitif terhadap lansia, perawatan terhadap efek samping yang timbul mungkin diperlukan.

Kehamilan dan Menyusui

Apakah obat diltiazem boleh dikonsumsi oleh ibu hamil dan ibu menyusui?

  • Diltiazem masuk dalam kategori C menurut FDA. Hal ini berarti studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu penggunaannya sebaiknya dihindari atau jika sangat dibutuhkan saja.
  • Diltiazem diketahui dapat terekskresi dalam ASI ibu menyusui. Penggunaannya pada ibu menyusui kemungkinan dapat mempengaruhi bayinya, untuk itu sebaiknya dihindari atau jika efeknya dirasa lebih baik dari risiko yang ditimbulkan.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan diltiazem jika digunakan bersamaan, diantaranya adalah:

  • Colidine dapat meningkatkan efek AV block.
  • Penggunaan diltiazem dengan carbamazepine, phenytoin, atorvastatin dan lovastatin dapat meningkatkan level konsentrasinya dalam darah sehingga perlu penyesuaian dosis atau penggantian jenis obat.
  • Dapat meningkatkan risiko munculnya kondisi bradikardia jika digunakan bersama amiodarone, digoxin, mefloquine.
  • Dapat menimbulkan efek antihipertensi jika digunakan bersamaan dengan aldeslekuin.
  • Penggunaan bersamaan dengan rifampicin dan phenobarbital dapat menurunkan level serumnya dalam aliran darah sehingga mungkin perlu penyesuaian dosis.
  • Berpotensi menyebabkan hipotensi yang fatal jika digunakan secara IV dengan obat jenis beta blocker.

Daftar obat di atas belum mencakup keseluruhan obat yang dapat berinteraksi dengan diltiazem. Oleh karena itu, sebaiknya sebelum menggunakan dua obat secara bersamaan konsultasikan dahulu dengan dokter Anda untuk mengetahui kemungkinan interaksinya.