Disuria adalah istilah medis yang berarti nyeri pada saat buang air kecil, terasa tidak nyaman atau terasa panas perih saat buang air kecil. Dalam bahasa masyarakat kita dikenal dengan istilah anyang-anyangan. Keluhan ini bisa terjadi pada anak-anak sampai orang tua, baik laki-laki ataupun perempuan.

Disuria bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu gejala dari penyakit lain, misalnya infeksi saluran kencing. Oleh karena itu, pengobatan yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk meredakan keluhan nyeri saat berkemih saja, melainkan untuk mengatasi penyebabnya.

Asal cepat ditangani dengan baik, maka disuria bukanlah suatu permasalahan yang serius dan jarang menimbulkan komplikasi yang membahayakan.

Ciri-ciri dan Gejala Disuria

Gejala Disuria yang paling umum adalah nyeri pada saat buang air kecil. Selain itu dapat juga muncul gejala penyerta lain yang terjadi bersamaan, namun berbeda-beda tergantung dari penyakit yang menyebabkannya.

disuria

Beberapa gejala yang bisa menyertai disuria antara lain:

  • Demam.
  • Nyeri pinggang, misalnya pada radang ginjal.
  • Keluar bercak nanah (pria) atau keputihan (wanita), misalnya pada gonore (GO).
  • Gejala iritasi kandung kemih, berupa sering buang air kecil (frekuensi) dan tidak tertahankan (urgensi), misalnya pada infeksi saluran kemih.
  • Obstruksi atau buang air kecil tidak lancar seolah-oleh tertahan dan tidak lampias, misalnya pada BPH atau pembesaran prostat.

Penyebab Disuria dan Faktor Resikonya

Disuria seringkali dikaitkan dengan adanya infeksi pada sistem kemih, namun sebenarnya dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit. Beberapa penyebab yang paling sering menimbulkan keluhan disuria antara lain :

Infeksi pada sistem kemih

Infeksi yang terjadi di sistem kemih merupakan penyebab utama yang paling sering terjadi pada disuria. Infeksi pada sistem kemih ini paling sering disebabkan oleh bakteri. Infeksi ini dapat terjadi pada bagian mana saja pada sistem kemih, mulai dari ginjal, ureter (saluran yang membawa air kencing dari ginjal menuju kandung kemih), kandung kemih, dan juga uretra (saluran yang membawa air kencing dari kandung kemih keluar dari tubuh). Akan tetapi paling sering disebabkan oleh infeksi pada kandung kemih.

Faktor resiko terjadinya infeksi pada saluran kemih, antara lain :

  • Jenis kelamin wanita
  • Memiliki riwayat penyakit diabetes
  • Usia lanjut
  • Pmbesaran kelenjar prostat pada pria
  • Adanya batu ginjal
  • Saat hamil
  • Terpasang selang kateter

Infeksi vagina

Infeksi pada vagina paling sering disebabkan oleh infeksi jamur. selain adanya nyeri saat buang air kecil, maka pada infeksi vagina juga disertai dengan keluhan lain seperti lendir keputihan dari vagina dan bau yang tidak sedap.

Penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual yang sering menyebabkan disuria adalah herpes genitalia, chlamydia, dan juga gonorrhoea. Selain dysuria, gejala lain yang dapat timbul dari penyakit menular seksual antara lain gatal, terasa panas perih, keluar keputihan yang tidak normal, adanya lepuhan atau benjolan-benjolan berisi cairan yang mudah pecah.

Adanya peradangan (inflamasi) dan juga iritasi

Proses peradangan ini dapat terjadi pada sistem kemih maupun daerah genitalia. Beberapa contoh hal yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan adalah:

  • Akivitas seksual yang menyebabkan iritasi pada uretra
  • Aktivitas tertentu yang menekan lubang keluar saluran uretra; seperti berkuda, berseda, mengendarai motor, dan sebagainya.
  • Daerah vagina yang sensitive terhadap bahan tertentu; seperti sabun, busa, tissue toilet, alat kontrasepsi, dan sebagainya.
  • Efek samping dari obat-obatan tertentu atau pengobatan tertentu

Trauma

Trauma pada sistem kemih dapat terjadi karena benturan, iritasi akibat pemasangan selang kateter yang terlalu lama, atau akibat hubungan seksual.

Sumbatan atau obstruksi saluran kemih

sumbatan yang terjadi dapat disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat, striktur uretra (terbentuknya jaringan parut pada saluran uretra, adanya batu saluran kemih, atau tumor pada sistem kemih.

Perubahan hormonal

Pada wanita yang sudah mengalami menopause (tidak mengalami menstruasi lagi), maka kemungkinan besar akan mengalami disuria karena daerah kewanitaannya cenderung menjadi lebih kering.

Penanganan dan Pengobatan Disuria

Penanganan disuria berbeda-beda, tergantung dari penyebab terjadinya. Karena dysuria paling sering disebabkan oleh adanya infeksi bakteri pada sistem kemih, maka penanganan yang paling sering dilakukan adalah dengan memberikan obat-obatan antibiotik. Apabila penyebab terjadinya dysuria bersifat non-infeksius, maka obat antibiotik tidak diberikan. Untuk membedakan apakah disuria disebabkan oleh infeksi atau non-infeksi maka dapat dilakukan pemeriksaan urinalisis, dimana sampel urin diperiksa di dalam laboratorium.

Oleh karena itu penting untuk memeriksakan diri ke dokter pada saat gejala disuria muncul agar dapat ditangani secara tepat.

Sedangkan pengobatan lain yang diberikan dapat bertujuan untuk meredakan keluhan atau bersifat simptomatis. Sebagai contoh, obat analgetik atau penghilang nyeri dapat diberikan untuk meredakan nyeri pada saat buang air kecil.

Langkah Pencegahan 

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya disuria, pada dasarnya langkah ini dilakukan juga untuk mencegah terjadinya infeksi pada sistem kemih, yaitu :

  • Minum air putih yang cukup, yaitu minimal 2 liter dalam sehari.
  • Buang air kecil setelah berhubungan seksual.
  • Jangan pernah menahan kencing dalam jangka waktu lama.
  • Menjaga kebersihan daerah genital.