Griseofulvin adalah obat antijamur yang digunakan untuk mengobati sejumlah infeksi jamur pada tubuh. Beberapa contoh infeksi jamur yang dapat diobati meliputi kurap, kutu air, jamur kuku, dan lain-lain pada tingkat keparahan tertentu.

Obat griseofulvin masuk dalam golongan obat keras, Anda tidak boleh menggunakannya tanpa rekomendasi dari dokter. Dokter akan mempertimbangkan apakah infeksi jamur yang dialami pasien memerlukan obat oral atau hanya cukup menggunakan obat luar berupa krim/salep.

Mengenal Obat Griseofulvin

Di apotek, griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet oral dan suspensi  oral atau syrup. Suspensi hanya tersedia sebagai obat generik. Sedangkan tablet oral tersedia dalam berbagai merek dagang.

  • Suspensi oral: 125mg / 5 mL
  • Tablet: 125mg, 250mg, 500mg
griseofulvin

obat griseofulvin 125mg tablet

Secara invitro obat ini dapat menghambat pertumbuhan berbagai spesies jamur sepertu Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton. Obat griseofulvin bekerja dengan cara mengikat tubulin jamur, mengganggu fungsi mikrotubulus, sehingga menghambat mitosis. Zat dalam obat juga mengikat keratin dalam sel prekursor keratin pada tubuh sehingga membuat tahan terhadap infeksi jamur.

Obat mencapai tempat kerjanya hanya ketika rambut atau kulit digantikan oleh kompleks keratin-griseofulvin. Griseofulvin kemudian memasuki dermatofit (jamur kulit) melalui proses transport aktif dan mengikat mikrotubulus jamur. Dengan demikian pertumbuhan jamur dapat dihentikan.

Indikasi dan Kegunaan

Griseofulvin obat apa? Berdasarkan mekanisme kerja di atas, maka obat ini dapat digunakan untuk mengobati infeksi jamur (ring-worm) pada kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh Epidermophyton, Microsporum, dan Trichophyton, seperti:

  • Tinea capitis: jamur di kulit kepala dan wajah
  • Tinea corporis: jamur kurap di badan
  • Tinea cruris: jamur pada tungkai atau selangkangan
  • Tinea pedis: kutu air
  • Tinea unguium: jamur kuku

Baca juga: Obat Jamur Kulit di Apotik Paling Ampuh (Krim & Tablet)

Kontraindikasi

Tidak senua orang boleh menggunakan obat ini. Griseofulvin tidak boleh digunakan oleh orang dengan kondisi di bawah ini:

  • Orang yang hipersensitif atau alergi terhadap zat aktif dan komponen lain dari obat
  • Memiliki penyakit porfiria
  • Memiliki gangguan fungsi sel hati
  • Wanita hamil dan menyusui
  • Penderita lupus erythematosus sistemik.

Dosis Griseofulvin dan Cara Pemakaian

Dosis yang tepat akan dokter tentukan sesuai dengan kondisi pasien. Adapun dosis lazim yang direkomendasikan yaitu:

  • Dewasa : 4 kali sehari 125 mg.
  • Anak-anak : 10 mg/kg berat badan/hari dibagi menjadi beberapa kali pemberian.

Dosis dewasa untuk tablet (microsize) pada kondisi tertentu:

  • Tinea corporis, cruris, atau capitis: 500 mg / hari
  • Tinea pedis atau unguium: 1000 mg / hari sebagai dosis tunggal atau dua kali sehari

Durasi pengobatan

  • Tergantung pada situs infeksi
  • Tinea corporis: 2-4 minggu
  • Tinea capitis: 4-6 minggu; mungkin sampai 8-12 minggu
  • pedis Tinea: 4-8 minggu
  • Tinea unguium: 4-6 bulan

Terapi antijamur dengan griseofulvin dihentikan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah infeksi hilang.

Efek Samping Griseofulvin

Seperti halnya dengan obat-obat lainnya, griseofulvin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Efek samping yang umum terjadi diantaranya:

  • Bersifat ringan dan sementara, misalnya: sakit kepala, mulut kering, nyeri ulu hati, mual, dan ruam kulit.
  • Reaksi alergi (pada orang tertentu yang hipersensitif): kulit kemrahan, bentol, dan gatal seperti biduran (urtikaria), pembengkakan pada wajah, dan sesak nafas.
  • Proteinuria
  • Hepatotoksisitas.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat griseofulvin ini, perhatikan hal-hal berikut:

  • Minumlah sesuai aturan pakai dan aturan dosis yang diberikan oleh dokter.
  • Sebaiknya dikonsumsi setelah makan dengan air putih secukupnya.
  • Usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Hindari alkohol selama mengkonsumsi Griseofulvin agar terhindar dari efek samping yang serius.
  • Reaksi kulit yang parah (misalnya, sindrom Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksik) dan eritema multiforme pernah dilaporkan. Oleh sebab itu hentikan pengobatan jika reaksi kulit yang parah terjadi.
  • Gangguan fungsi hati yang ditandai dengan meningkatnya kadar SGOT, SGPT, bilirubin, juga pernah dilaporkan. Oleh sebab itu hentikan pengunaan jika penyakit kuning terjadi (air seni kuning kecoklatan, mata dan kulit menguning).
  • Pengobatan jangka panjang harus dibawah pengawasan dokter. Diperlukan monitor secara periodik terhadao fungsi-fungsi organ termasuk fungsi ginjal, hati dan hematopoietik.