Hemiparesis adalah istilah medis untuk menggambarkan suatu kondisi adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh atau ketidakmampuan untuk menggerakkan anggota tubuh pada satu sisi. Istilah ini berasal dari kata hemi yang berarti separuh, setengah, atau satu sisi dan paresis yang berarti kelemahan.

Hemiparesis juga sering disebut hemiparese. Anggota tubuh yang terkena dampak biasanya otot-otot wajah, otot-otot pernafasan di dada, lengan, tangan, tungkai bawah pada salah satu sisi. Bisa terjadi pada sebelah kanan saja atau sebelah kiri saja, apabila terjadi pada kedua sisi maka disebut dengan paresis total atau bilateral.

hemiparesis

Pasien paresis masih mampu menggerakkan sisi tubuh yang terkena dan belum benar-benar lumpuh. Hanya saja sisi tubuh yang menglami gangguan tersebut begitu lemah dan tidak bertenaga. Gerakan yang timbul sangat sedikit (kecil). Apabila pasien sudah tidak dapat menggerakan salah satu sisi anggota tubuhnya sama sekali atau lumpuh total, maka disebut dengan hemiplegia. Kondisi dapat diperiksa dengan prosedur pemeriksaan kekuatan otot.

( ! ) Hemiparesis berbeda dengan lumpuh, karena ini hanya kelemahan bukan kelumpuhan (plegia).

Therapist di rehabilitasi medik sangat berperan penting dalam proses kesembuhan pasien hemiparesis. Terapi yang diberikan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan gerak (motorik) otot, sehingga pasien tetap dapat melakukan aktivitas fisiknya sehari-hari dengan baik.

Apa Gejala Hemiparesis?

Gejala yang paling dapat dilihat dari pasien yang mengalami hemiparesis adalah tidak dapat menggerakan otot-otot wajah, otot-otot pernafasan di dada, lengan, tangan, tungkai bawah pada salah satu sisi. Pergerakan yang ada sangat kecil dan mungkin tidak terlihat jelas. Derajat kelemahan otot-otot tersebut tergantung dari seberapa parah gangguan yang terjadi di otak ataupun jalur saraf lainnya.

Akibat adanya kelemahan otot-otot pada salah satu sisi tubuh, maka gejala lain dapat menyertai hemiparasis seperti:

  • Hilang keseimbangan.
  • Tidak dapat berjalan.
  • Sulit untuk memegang benda.
  • Koordinasi gerak yang terganggu.
  • Gangguan berbicara.
  • Sulit melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Kelemahan otot.
  • Dan sebagainya.

Apa Penyebab Hemiparesis?

Penyebab utama terjadinya hemiparesis adalah adanya kerusakan otak pada salah satu sisi. Kerusakan otak pada sisi tertentu akan menyebabkan terjadinya kerusakan anggota tubuh pada sisi yang berlawanan.

Kerusakan otak yang paling utama disebabkan oleh stroke. Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak, bisa berupa perdarahan atau penyumbatan. Lokasi peredaran darah mana yang terganggu di otak menentukan bagian tubuh yang akan mengalami gangguan. Gangguan peredaran darah di otak sebelah kanan akan mengakibatkan gangguan pada tubuh sisi sebelah kiri, sedangkan gangguan peredaran darah di otak sebelah kiri akan mengakibatkan gangguan pada tubuh sisi sebelah kanan.

Selain stroke, terjadinya hemiparesis dapat juga disebabkan oleh :

  • Trauma hebat pada kepala yang menyebabkan kerusakan otak.
  • Infeksi pada otak dan juga selaput otak.
  • Cacat sejak lahir.
  • Cerebral palsy.
  • Multiple sclerosis.
  • Tumor otak.
  • Kerusakan korda spinalis (serabut saraf yang berada di dalam tulang belakang).
  • Atau berbagai penyakit lain yang dapat berpengaruh pada sistem saraf.

Bagaimana Penanganan Hemiparesis?

Mengatasi masalah dari hemiparesis harus dilakukan berdasarkan penyebabnya. Setelah penyebab utamanya teratasi, baru dilakukan terapi rehabilitasi atau fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan gerak otot pasien. Bagian ilmu kedokteran yang berperan dalam hal ini adalah rehabilitasi medik.

Kemampuan gerak otot yang dilatih dalam terapi rehabilitasi meliputi kemampuan motorik kasar dan kemampuan motorik halus. Kemampuan motorik kasar dapat berupa latihan ketahanan, kekuatan dan pergerakan otot secara umum. Sedangkan pada kemampuan motorik halus, pasien dilatih untuk melakukan aktivitas sehari-hari walaupun terbatas, seperti membuka dan memakai baju, menulis, makan, memegang benda, dan sebagainya.

Terapi yang dapat diberikan di fisioterapi tersebut dapat berupa :

  • Stimulasi elektrik. Memberikan aliran listrik dalam batas wajar langsung pada otot yang mengalami kelemahan untuk merangsang pergerakan otot-otot yang lemah, sehingga dapat memperbaiki pergerakan otot.
  • Stimulasi kortikal. Memberikan rangsangan listrik ke daerah otak yang mengalami kerusakan. Daerah otak yang diberikan rangsangan listrik ini terdapat pada bagian korteks.
  • Suntik botox. Suntik botox dapat membantu merelaksasi otot-otot pasien yang kaku atau mengalami spasme otot. Otot-otot yang kaku tersebut dapat menghambat pasien untuk bergerak.
  • Lain-lain

Selain membutuhkan terapi pada fisiknya, pasien yang sudah mengalami hemiparesis juga membutuhkan terapi psikis oleh psikiater agar tetap bersemangat dan tidak putus asa. Pasien yang sudah mengalami hemiparesis cenderung merasa sudah tidak berguna dan tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Terapi psikis ini dapat berupa layanan konseling, sharing group, dan sebagainya.

Untuk memulihkan kondisi pasien hemiparesis tidak hanya melalui therapist dan juga psikiater, melainkan butuh kerjasama dari seluruh anggota keluarga dan lingkungan. Sehingga dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari di rumah menjadi lebih mudah dan pasien masih tetap dapat melanjutkan terapinya sendiri.

Dengan melakukan terapi dengan baik, maka pasien yang mengalami hemiparesis dapat sembuh dengan baik. Ada yang mengalami perbaikan, ada juga yang sampai benar-benar sembuh total. Hal tersebut tergantung dari derajat keparahan sebelumnya dan intensitas terapi yang dilakukan.

Pasien hemiparesis harus tetap bersemangat dan aktif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga proses penyembuhan semakin cepat. Mereka harus lebih berhati-hati dalam melakukan setiap kegiatan agar tidak terjadi kecelakaan. Apabila pasien putus asa dan berhenti bergerak, maka otot yang lemah tersebut dapat benar-benar menjadi lumpuh.