Hepatoma adalah salah satu jenis kanker yang berasal dari pertumbuhan sel-sel hati yang tidak normal dan tak terkendali, disebut juga sebagai kanker hepatoseluler. Hepatoma termasuk jenis kanker hati primer artinya kanker ini memang berasal dari sel-sel hati sendiri dan bukan berasal dari penyebaran oleh kanker di organ tubuh lainnya seperti paru, usus, dan lain-lain.

Kanker hati menjadi salah satu jenis kanker penyebab kematian tertinggi di dunia yakni menempati urutan ketiga dari seluruh jenis kanker di dunia yang menyebabkan kematian. Penderita hepatoma cukup banyak, yakni lebih dari setengah juta orang.  Insidensi kanker hati banyak dijumpai di kawasan Asia Tenggara dan Afrika.

Penyebab tingginya angka kejadian kanker hati di Afrika dan Asia berkaitan erat dengan insidensi penyakit hepatitis B dan C di kawasan ini. Di Inggris sekitar 3000 orang mengalami hepatoma tiap tahunnya dan angka ini berpotensi terus meningkat.

Jika diketahui lebih awal, hepatoma kadang bisa diobati dengan tindakan operatif atau transplantasi hati. Namun jika hepatoma berada dalam fase lanjut maka kanker ini tidak bisa diobati. Pengobatan yang dilakukan pada kasus lanjut hanya berupa terapi paliatif artinya terapi diberikan dengan tujuan untuk memperpanjang kehidupan dan mengurangi keluhan akibat kanker saja, tidak bisa menyembuhkan.

Penting bagi seorang pasien hepatoma untuk mengingat bahwa ia masih memiliki kendali terhadap tiap keputusan yang diambilnya terkait pengobatan dan kehidupannya. Yakinkan bahwa dirinya memiliki seseorang untuk diajak bicara terkait segala rencana, ketakutannya, dan perasaan yang dialaminya.

Penyebab Hepatoma

Penyebab hepatoma belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa hal yang meningkatkan risiko terjadinya kanker hati yang satu ini, yaitu:

  • Hepatitis B atau hepatitis C. Hepatoma bisa muncul beberapa tahun setelah pasien mengalami infeksi hati jenis ini. Kedua jenis hepatitis ini ditularkan melalui darah, misalnya ketika pengguna narkoba berbagi jarum suntuk yang sama. Tes darah bisa dilakukan untuk mengetahui bahwa seseorang mengalami hepatitis B atau C.
  • Sirosis hati. Penyakit serius ini terjadi ketika sel hati rusak dan berganti dengan jaringan parut. Beberapa hal yang menyebabkan sirosis antara lain hepatitis B atau C, peminum alkohol, obat – obatan tertentu, terlalu banyak zat besi yang tersimpan dalam hati.
  • Peminum alkohol berat. Jika seseorang minum alkohol lebih dari 2 gelas per hari selama bertahun – tahun maka dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hepatoseluler. Makin banyak konsumsi alkohol maka risiko terjadinya hepatoma akan makin tinggi.
  • Kegemukan (obesitas) dan diabetes (kencing manis). Kedua kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya hepatoma. Obesitas memacu terjadinya penyakit perlemakan hati non alkoholik yang bisa menyebabkan terjadinya hepatoma. Risiko tinggi dari diabetes terjadi karena pengaruh insulin yang abnormal pada pasien diabetes menyebabkan hepatoma.
  • Penyakit gangguan penyimpanan zat besi. Hal ini karena zat besi tersimpan terlalu banyak dalam hati dan organ lain. Orang dengan penyakit ini bisa berkembang menjadi hepatoma.
  • Aflatoksin. Substansi berbahaya ini (berasal dari beberapa jenis jamur di kacang, jagung, atau jenis kacang – kacangan lainnya) bisa menyebabkan hepatoma.

Ciri-ciri dan Gejala Hepatoma

Gejala kanker hati saat fase awal seringkali tidak disadari. Jika kanker berkembang, pasien baru akan mengalami satu atau lebih gejala hepatoma berikut ini:

  • Nyeri di bagian perut kanan atas.
  • Adanya benjolan pada perut atas.
  • Perasaan berat pada bagian perut atas.
  • Perut terasa kembung.
  • Hilang nafsu makan.
  • Berat badan menurun.
  • Kelelahan.
  • Mual dan muntah.
  • Kulit dan mata kuning.
  • Pucat, urin gelap.
  • Demam.

Pengakan Diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan melakukan pemerikaan penunjang untuk membantu mendiagnosis keluhan yang anda alami. Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa membantu mendiagnosis hepatoma:

  • Tes darah. Dokter akan memeriksa sampel darah pasien dan melihat apakah ada protein AFP pada darah pasien tersebut. Bayi baru lahir memiliki kadar AFP yang tinggi namun lama kelamaan akan menurun. Jika dalam darah pasien terdapat AFP dalam kadar yang tinggi, maka bisa menjadi tanda kanker hati.
  • Tes pencitraan (imaging). Dokter akan melakukan pemeriksaan USG, CT scan, atau MRI untuk melihat tumor pada hati pasien.
  • Biopsi hepar (hati). Dokter akan mengambil sampel dari jaringan hati pasien dan memeriksanya di bawah mikroskop untuk melihat adanya sel kanker..

Pengobatan Hepatoma

pengobatan hepatoma

Ada beberapa pengobatan untuk hepatoma, penggunaannya disesuaikan dengan derajat kanker dan juga kondisi pasien secara umum, antara lain:

Radiasi

Terapi ini menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Dua tipe radiasi yang bisa digunakan untuk mengobati hepatoma antara lain:

  • Eksternal: Pasien berbaring di meja sementara mesin besar memancarkan radiasi di spot spesifik di dada atau perut pasien.
  • Internal: Dokter akan menyuntikkan partikel radioaktif kecil ke pembuluh darah arteri yang mengirim darah ke hati.

Terapi radiasi bisa menyebabkan efek samping meliputi mual, muntah, kelelahan, namun gejala ini akan menghilang ketika pengobatan selesai.

Kemoterapi

Dalam kemoterapi untuk mengobati kanker, dokter akan memberikan obat kanker langsung ke hati pasien. Proses ini disebut kemoembolisasi. Dokter akan meletakkan tabung kecil dan fleksibel yang akan mengantarkan darah ke hati. Tabung ini mengantarkan obat kemo yang dikombinasikan dengan obat lain yang membantu untuk memblok arteri.

Tujuan dari pengobatan ini adalah untuk membunuh tumor dengan membiarkannya kelaparan karena tidak mendapat suplai darah. Hati pasien tetap butuh darah namun melalui pembuluh darah lainnya. Pasien yang mendapatkan kemoterapi tidak perlu dirawat inap di rumah sakit.

Kemoterapi bisa menimbulkan efek samping seperti mual dan muntah, hilang nafsu makan, demam dan meriang, sakit kepala dan kelemahan. Obat – obatan bisa mengurangi efek samping ini.

Injeksi alkohol

Terapi ini disebut injeksi etanol perkutaneus. Dalam melakukan tindakan ini, diperlukan ultrasonografi, alat yang menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur di tubuh, tujuannya untuk membantu dokter memasukkan jarum menuju ke tumor di hati.

Setelah posisinya tepat, kemudian dokter akan menyuntikkan ethanol (alkohol) untuk menghancurkan kanker. Pasien yang menjalani prosedur ini, biasanya diberikan anestesi lokal yang membuat pasien tidak merasa sakit meskipun pasien akan tetap sadar.

Krioablasi dan ablasi radiofrekuensi

Pada krioablasi, dokter akan menghancurkan tumor dengan membekukannya menggunakan probe logam.

Tindakan pembedahan

Pembedahan atau operasi dilakukan untuk mengambil massa tumor dari hati pasien.

Transplantasi hati

Jika dokter tidak bisa memindahkan kanker melalui tindakan hepatektomi parsial (operasi), maka akan menyarankan untuk melakukan transplantasi hati.

Tranplantasi hati merupakan tindakan operasi besar (mayor) yang memerlukan beberapa tahapan. Pertama, pasien akan menunggu donornya yang berasal dari seseorang yang telah mati dan memiliki tipe darah yang sama dan ukuran tubuh yang mirip dengan pasien. Karena pasien harus menunggu lama untuk hati barunya, maka dokter akan menyarankan untuk tetap melanjutkan terapi lainnya secara bersamaan.

Pasien perlu tinggal di rumah sakit selama 3 minggu setelah pembedahan dan perlu waktu selama 6 bulan hingga 1 tahun untuk kembali ke aktivitas regulernya.