Pengertian

Apa itu hernia?

Hernia adalah penonjolan isi rongga perut seperti usus, jaringan penyangga dan ovarium melalui pembukaan abnormal atau dinding perut yang melemah. Dibandingkan wanita, pria memiliki risiko lebih besar mengalami hernia dengan perbandingan 26:1.

Masyarakat kita kerap menyebut hernia dengan istilah ‘turun berok’, yang dalam dunia medis sebenarnya merujuk pada salah satu jenis hernia, yakni hernia inguinalis. Wajar saja, mengingat dari sekian banyak jenis hernia, hernia inguinalis lah yang paling sering dijumpai.

Jenis-Jenis Hernia 

jenis letak hernia

jenis-jenis hernia berdasaraan letaknya

Berdasarkan letaknya, hernia terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Hernia inguinalis. Jenis hernia yang paling umum, lebih dikenal dengan istilah ‘turun berok’. Terjadi ketika jaringan lemak atau bagian usus mencuat ke daerah sekitar lipat paha melalui kanal inguinalis. Menyebabkan benjolan pada lipat paha hingga pembengkakan skrotum (kantung pelir). Hernia jenis ini lebih sering menyerang pria daripada wanita, meski keduanya sama-sama memiliki kanal inguinalis.
  • Hernia femoralis. Terjadi ketika jaringan lemak atau bagian usus mencuat ke daerah sekitar lipat paha melalui anulus femoralis. Lebih jarang terjadi dibandingkan hernia inguinalis dan kebanyakan menyerang wanita, terutama yang berusia tua.
  • Hernia umbilikus. Terjadi ketika jaringan lemak atau bagian usus menonjol melalui pembukaan pusat di otot perut. Hernia jenis ini biasanya dialami oleh bayi dan umumnya dapat hilang dengan sendirinya ketika sudah berusia 1 tahun. Nama lainnya adalah udel bodong.
  • Hernia Hiatus. Terjadi ketika ada sebagian lambung yang mencuat ke dalam rongga dada melalui lubang (hiatus) di diafragma (otot penyekat rongga dada dan perut).
  • Hernia insisi. Terjadi ketika ada bagian usus yang mencuat atau menonjol melalui luka perut. Hernia jenis ini biasanya merupakan komplikasi dari operasi perut akibat jahitan bekas luka yang tidak terpasang dengan benar.
  • Hernia epigastrik. Terjadi ketika jaringan lemak memaksa keluar melalui dinding perut, di antara pusar dan bagian bawah sternum (tulang dada).
  • Hernia spigelian. Terjadi ketika jaringan lemak atau bagian usus mencuat melalui aponeurosis spigelian, yakni lapisan otot perut yang terletak di antara tepi lateral otot rektus dan garisa semilunaris. Jenis hernia ini lebih sering terjadi pada pria yang berusia di atas 50 tahun.
  • Hernia diafragma. Terjadi ketika satu atau beberapa organ perut bergerak ke rongga dada melalui defek (pembukaan) di diafragma.

Berapa angka kejadian hernia di Indonesia?

Berdasarakan data dari badan kesehatan dunia WHO, kurun waktu 2005-2010 tercatat ada sekitar 19 juta orang di dunia yang menderita hernia. Angka kejadian terbesar didominasi oleh negara-negara berkembang yang berada di Afrika juga Asia.

Di Indonesia sendiri, menurut Departemen Kesehatan RI, selama periode Januari 2010 hingga Februari 2011 saja, tercatat ada sekitar 1000-an kasus hernia. Angka ini pun diprediksi mengalami peningkatan setiap tahunnya, mengingat semakin buruknya lingkungan dan pola hidup manusia saat ini sehingga dapat menimbulkan kelelahan dan kelemahan beberapa organ tubuh.

Ikhtisar Penyakit Hernia

Organ terlibatOrgan perut, terutama usus.
PenyebabTekanan berlebih dan melemahnya otot dinding perut.
PenularanTidak menular.
GejalaBenjolan pada area yang terkena, terutama di lipatan paha dan perut.
PengobatanOperasi merupakan pengobatan yang paling tepat untuk hernia.

Tanda dan Gejala

Apa saja ciri-ciri dan gejala hernia?

Gejala hernia pada umumnya berupa benjolan nyata di daerah yang terkena, terutama di lipat paha dan perut. Benjolan tersebut dapat hilang ketika berbaring dan akan terlihat jelas ketika tertawa keras, batuk, bersin-bersin, mengedan dan beberapa aktivitas fisik lainnya yang cenderung menimbulkan tekanan.

hernia ingunilasi

hernia ingunilasi pada bayi

Pada bayi, benjolan dapat terlihat jelas ketika ia menangis. Selain itu, bayi juga akan sering mengalami regurgitasi atau gumoh.

Gejala hernia lainnya meliputi:

  • Benjolan/pembengkakan di skrotum (kantung pelir).
  • Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan.
  • Ukuran benjolan yang dapat membesar perlahan dari waktu ke waktu.
  • Bila telah terjadi komplikasi, penderita akan mengalami mual, muntah, susah buang angin atau air besar hingga distensi (perut membesar).
  • Buang air kecil terasa sakit (disuria) pada hernia femoralis yang berisi kandung kencing.
  • Gangguan pencernaan, kesulitan menelan, nyeri dada dan heartburn pada hernia hiatus.

Kapan harus periksa ke dokter?

Apabila timbul benjolan di daerah sekitar lipat paha, perut atau pun dada segera periksakan diri ke dokter guna menghindari komplikasi lanjutan berupa pembesaran skrotum dan usus terjepit.

Penyebab dan Faktor Risiko

Apa penyebab hernia?

Prinsip terjadinya hernia adalah akibat kombinasi peningkatan tekanan di dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut. Penyebab kelemahan otot bisa terjadi karena kelainan bawaan, bertambahnya usia (penuaan), trauma atau bekas luka operasi.

Sedangkan peningkatan tekanan di dalam rongga perut dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kehamilan, batuk kronis atau bersin yang berlangsung lama, sembelit, sering mengangkat beban berat, asites (penumpukan cairan di dalam rongga perut), kegemukan dan aktivitas fisik yang berlebihan.

Siapa yang lebih berisiko terjangkit hernia?

Seseorang dengan kondisi berikut ini berisiko besar mengalami hernia:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan hernia.
  • Kelebihan berat badan.
  • Perokok, karena merokok dapat memicu batuk kronis.
  • Sering mengalami sembelit.
  • Mengalami bersin menahun akibat alergi atau faktor lainnya.

Penyakit fibrosis kistik (cystic fibrosis) juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hernia secara tidak langsung, karena penyakit ini dapat mengganggu fungsi paru-paru sehingga dapat menyebabkan batuk kronis.

Pemeriksaan dan Diagnosis

Bagaimana memastikan diagnosis hernia?

Diagnosa hernia dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dengan melihat benjolan di lipat paha, perut atau dada serta melalui pemeriksaan khusus atau penunjang melalui foto rontgen, foto abdomen PA dan posisi supine, CT-scan atau USG.

Obat dan Pengobatan

Bagaimana cara mengobati hernia di rumah?

Hernia tidak dapat sembuh dengan sendirinya, kecuali dalam kasus hernia umbilikus pada bayi yang umumnya dapat hilang dengan sendirinya ketika telah berusia 1 tahun. Oleh karena itu, pengobatan hernia di rumah hanya bertujuan untuk meminimalisir ketidaknyamanan atau rasa sakit yang dirasakan, tidak untuk menyembuhkan.

Pengobatan hernia di rumah dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup dengan mengurangi porsi makan, melakukan beberapa gerakan yang dapat membantu memperkuat otot perut, menghindari konsumsi makanan yang memicu naiknya asam lambung, menjauhi rokok dan meninggalkan kebiasaan buruk berbaring atau tidur langsung setelah makan.

Jika diperlukan, penderita hernia dapat mengonsumsi obat pereda rasa sakit dan obat pengurang produksi asam lambung seperti antasida, antagonis reseptor H-2 atau penghambat pompa proton.

Apa saja penanganan dan obat hernia di layanan kesehatan?

Penanganan hernia terdiri dari dua macam, yakni pengobatan konservatif dan operatif. Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi secara bimanual dengan mengembalikan isi hernia ke dalam cavum peritonei atau abdomen. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan bantalan penyangga guna mempertahankan isi hernia yang telah di reposisi.

Pemasangan bantalan penyangga hanya bertujuan untuk tetap mempertahankan hernia yang telah direposisi, bukan untuk menyembuhkan, sehingga harus dipakai seumur hidup. Penanganan secara konservatif ini biasanya diberikan pada pasien yang menolak perbaikan secara operasi atau terdapat kontraindikasi terhadap operasi.

Pengobatan operatif melalui jalan operasi merupakan penatalaksanaan yang lebih tepat untuk hernia. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Ada dua macam prosedur operasi atau bedah yang tersedia saat ini, yakni bedah konvensional dan bedah minimal invasif atau laparaskopi dengan mesh graft.

Mesh graft sendiri merupakan jaring sintetis berbahan polipropilen atau poliester yang berfungsi untuk memperkuat dinding perut di bagian titik lemah (defek), sehingga dapat menurunkan angka kekambuhan. Biasanya, kekuatan mesh baru akan terbentuk setelah 3 bulan pasca operasi. Oleh karena itu, disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat yang dapat memberi tekanan berlebih pada otot perut.

Metode bedah minimal invasif atau laparaskopi memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode konvensional. Diantaranya, bekas luka yang lebih kecil, rasa sakit yang minimal dan proses penyembuhan total lebih cepat sehingga pasien pun dapat segera kembali beraktivitas. Meski begitu, bedah konvensional lebih dianjurkan dalam kasus yang rumit, misalnya pada hernia yang disertai dengan infeksi atau skrotum yang sudah amat membesar.

Komplikasi

Apa bahaya komplikasi hernia yang mungkin timbul?

Apabila hernia tidak diobati dengan segera (khususnya pada hernia inguinal dan femoralis), maka akan timbul komplikasi seperti berikut:

  1. Inkarserasi, yakni bagian usus tersangkut di kanal inguinalis, menyebabkan timbulnya gejala mual, muntah, sembelit dan sakit perut yang parah.
  2. Strangulasi, yakni terputusnya aliran darah pada usus yang terperangkap sehingga dapat menyebabkan jaringan usus mati. Kondisi ini sangat mengancam keselamatan penderitanya, oleh karena itu dibutuhkan penanganan medis melalui operasi sesegera mungkin.

Pencegahan

Bagaimana mencegah hernia?

  1. Pertahankan berat badan ideal dengan makan secukupnya dan berolahraga secara teratur.
  2. Makan cukup buah, sayuran dan biji-bijian yang kaya serat agar terhindar dari sembelit.
  3. Hindari mengangkat beban yang terlalu berat.
  4. Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami batuk dan bersin terus- menerus.
  5. Jauhi rokok, karena kebiasaan buruk tersebut dapat menyebabkan batuk kronis yang memicu hernia.