hidroklorotiazid (HCT) generik

Hidroklorotiazid (HCT) obat apa?

Hidroklorotiazid atau juga dikenal sebagai HCT adalah obat jenis diuretik tiazide yang sering digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi atau hipertensi serta untuk mengurangi edema. Obat ini bekerja seperti layaknya obat diuretik lainnya yang meningkatkan keluaran air dalam bentuk urin dari tubuh.

Hidroklorotiazid merupakan bentuk generik dari obat merek Lodoz atau Lorinid yang dijual di apotik untuk mengatasi hipertensi. Senyawa obat ini juga kerap dikombinasikan dengan obat lainnya untuk meningkatkan efek antihipertensinya. Obat ini termasuk golongan obat resep yang penggunaannya harus dengan resep dokter, sehingga harus hati-hati menggunakannya.

Sebagai tambahan informasi, berikut kami ulas kegunaan, dosis lazim, efek samping, kontraindikasi, kemungkinan interaksi dengan obat lain serta informasi keamanan Hidroklorotiazid untuk ibu hamil dan menyusui.

Ikhtisar Obat Hidroklorotiazid

Jenis obatDiuretik tipe tiazide
KategoriObat resep
KegunaanMengurangi tekanan darah tinggi (hipertensi) dan edema
KonsumenDewasa, anak-anak dan lansia
KehamilanKategori B
SediaanTablet salut selaput
MerekBiscor Plus, Fortzaar, Hyzaar, Hydrochlorotiazide, Lodoz, Lorinid, Irtan Plus, Micardis Plus, Olmetec Plus, Co Aprovel, Co Diovan

Mekanisme Kerja

Hirdoklorotiazid merupakan obat yang menstimulasi keluarnya cairan dari tubuh atau disebut obat diuretik. Senyawa obat ini bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi elektrolit berupa Na+ dan Cl dari tubulus distal di ginjal. Sehingga terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit, termasuk juga sodium, potasium dan magnesium yang keluar dalam bentuk urin.

Hidroklorotiazid merupakan bentuk hidroklorida dari tiazide sehingga digolongkan dalam jenis diuretik tiazide. Senyawa ini sudah terbukti mencegah mordibitas dan mortalitas akibat hipertensi meskipun mekanismenya tidak sepenuhnya diketahui.

Indikasi atau Kegunaan Hidroklorotiazid (HCT)

Hirdoklorotiazid atau HCT merupakan obat diuretik yang digunakan untuk mengobati hipertensi atau tekanan darah berlebih serta untuk mengobati edema atau penumpukan cairan pada area tertentu di tubuh.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap Hidroklortizid atau jenis obat turunan sulfonamida lainnya.
  • Orang yang menderita anuria atau kesulitan berkemih akibat adanya masalah pada ginjal.
  • Orang yang menderita gangguan fungsi ginjal parah.

Dosis Hidroklorotiazid dan Cara Penggunaan

HCT tersedia dalam bentuk sediaan tablet salut selaput dengan kekuatan dosis bervariasi mulai dari 2,5 gr per tablet, 25 mg, 50 mg, 100 mg, hingga 300 mg.

Ingat! Dosis tepat berdasarkan anjuran dari dokter setelah memeriksa keparahan penyakit, umur, jenis kelamin, dll. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis HCT untuk mengobati hipertensi

  • Dosis dewasa: 12,5 – 100 mg dan dapat ditingkatkan hingga 25 – 50 mg per hari. Obat ini juga dapat digunakan bersamaan dengan obat antihipertensi lainnya.
  • Dosis anak-anak:
    • Kecil dari 6 bulan: 1-3 mg/kg berat badan per hari. Maksimal 37,5 mg per hari.
    • Umur 6 bulan – 2 tahun: 1 – 2 mg/kg berat badan/hari dalam 1-2 dosis.
    • Umur 2  tahun – 12 tahun: 1-2 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis. Maksimal 100 mg per hari.
  • Dosis lansia: 12,5-25 mg sekali sehari.

Dosis Hidroklorotiazid untuk mengobati edema

  • Dosis dewasa: 25-100 mg per hari dibagi dalam 1-2 dosis, atau dapat diminum dalam hari yang berselang, 3-5 hari seminggu.
  • Dosis anak-anak:
    • Umur < 6 bulan: 1-3 mg/kgBB per hari dibagi dalam 1-2 dosis. Maksimal 37,5 mg per hari.
    • Umur 6 – 2 tahun: 1-2 mg/kgBB per hari dibagi dalam 1-2 dosis. Paling banyak 37,5 mg per hari.
    • Umur > 2-12 tahun: 1-2 mg/kgBB per hari dibagi dalam 1-2 dosis. Maksimal 100 mg per hari.
  • Dosis lansia: 12,5-25 mg sekali sehari.

Petunjuk Penggunaan:

  • Gunakanlah obat ini setelah makan atau bersamaan dengan makanan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis HCT  pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Hidroklorotiazid (HCT)

HCT umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, beberapa efek samping mungkin muncul mulai dari yang ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya atau efek samping yang parah yang perlu diperhatikan.

Konsultasikan dengan dokter Anda jika efek samping HCT berikut terjadi lebih intens:

  • Terlalu sering buang air kecil.
  • Diare.
  • Kehilangan selera makan.
  • Sakit kepala.
  • Rambut rontok.

Carilah bantuan medis jika muncul efek samping berikut:

  • Mulut kering, mual, muntah, tubuh terasa lemah, sering mengantuk.
  • Otot lemah, nyeri, kram, detak jantung lemah, dan tanda-tanda lain dehidrasi.
  • Kulit melepuh atau mengelupas.
  • Gatal dan ruam di kulit.
  • Kesulitan bernapas dan menelan.
  • Demam, sakit tenggorokan, menggigil, serta tanda infeksi lainnya.
  • Pendarahan atau memar yang tidak biasa.
  • Muncul rasa sakit di perut yang menyebar ke punggung.
  • Nyeri dan bengkak pada sendi.
  • Mata bengkak, kemerahan, penglihatan kabur.

Efek Overdosis Hidroklorotiazid

Penggunaan dosis tinggi obat HCT ini dapat menyebabkan efek overdosis. Gejalanya dapat berupa deplesi elektrolit tubuh (atau yang ditandai dengan kondisi hipokalemia, hipkloremia, hiponatremia) dan dehidrasi akibat diuresis berlebihan. Jika kondisi ini terjadi segeralah mencari pertolongan medis untuk mengatasi kondisi ini.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap obat ini.
  • Hati-hati menggunakan obat ini pada penderita gangguan elektrolit tubuh, memiliki riwayat gout, alergi atau asma bronkial.
  • Harus berhati-hati memberikan obat ini pada penderita diabetes militus, penyakit paratiroid, hiperkolesterolemia, serta gangguan fungsi hati dan ginjal yang ringan hingga sedang.
  • Penggunaan obat ini dapat memperparah penyakit lupus eritematosus sistemik.
  • Hati-hati penggunaan pada ibu hamil dan menyusui.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Hidroklorotiazid (HCT) untuk ibu hamil dan menyusui?

  • HCT digolongkan dalam obat kategori B untuk ibu hamil. Hal itu berarti studi obat ini pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penggunaanya sebaiknya dikonsultasikan dahulu dengan dokter Anda.
  • HCT diketahui dapat terekskresi dan mengontaminasi ASI ibu menyusui dan berpotensi memengaruhi kesehatan bayi yang menyusu serta menurunkan produksi ASI jika digunakan dalam dosis tinggi. Oleh karena itu sebaiknya tidak menggunakan obat ini selama masa menyusui atau menghentikan sementara proses menyusui jika obat ini sangat dibutuhkan oleh sang ibu.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat diketahui dapat berinteraksi dengan Hidroklorotiazid, diantaranya yaitu:

  • Lithium. Meningkatkan toksisitas lithium.
  • Barbiturat dan narkotik. Meningkatkan kemungkinan hipotensi ortostatik.
  • Kortikosteroid, kortikotropin, beta-2 agonis. Meningkatkan efek hipokalemia.