Isoniazid obat apa?

Isoniazid adalah salah satu jenis antibotik yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis (TBC atau TB). Obat yang juga dikenal dengan isonicotinylhydrazide (INH) ini biasanya dikombinasikan dengan obat TBC lain seperti ethambutol, pyrazinamide, dan rifampin untuk membasmi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada penyakit TBC paru ataupun ekstra paru.

Pemberian obat-obat TBC tersebut harus dengan resep dokter dan harus dikonsumsi secara rutin selama jangka waktu tertentu. Hal ini bertujuan agar bakteri dapat dibasmi dengan tuntas tanpa kekambuhan ataupun resistensi.

Pengunaan Isoniazid umumnya disertai dengan suplemen vitamin B6 (piridoksin) untuk menangkal efek sampingnya yang berpotensi merusak jaringan saraf perifer.

Ikhtisar Obat Isoniazid (INH)

Jenis obatAnti-TB
KategoriObat resep
KegunaanMengatasi tuberkulosis aktif
KonsumenDewasa dan anak-anak
KehamilanKategori C
SediaanTablet oral
MerekBeniazide, Decadoxin, Pyrafvit, Erabutol Plus, Restibi Z, INH 400 Ciba, Rifazid, Rifastar, Suprazid, Pulmolin, Pulna, TB Vit 6
Isoniazid

Kemasan Isoniazid 300 mg tablet

Mekanisme Kerja

Isoniazid bekerja dengan cara aktif membasmi bakteri dari jenis Mycobacterium terutama jenis M. tuberculosis, M. bovis, M. Kansasii. Dengan menghambat asam mycoloic pada jenis bakteri tadi yang kemudian membuatnya kehilangan asam penting dalam proses replikasi dan mengganggu pembentukan dinding sel sehingga menyebabkan kematian bakteri.

Senyawa ini bersifat bakterisidal pada bakteri yang aktif membelah diri dan bersifat bakteriostatik pada bakteri yang lambat membelah diri.

Indikasi atau Kegunaan Isoniazid

Isoniazid digunakan untuk mengobati penyakit tuberkulosis baik pada paru-paru atau ekstra paru (terjadi di organ lain selain paru) yang disebabkan oleh infeksi bakteri jenis Mycobacterium.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakannya:

  • Memiliki riwayat hipersensitif/alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Menderita masalah ginjal akut.
  • Memiliki riwayat penyakit hati yang disebabkan oleh konsumsi isoniazid.

Dosis Isoniazid dan Cara Penggunaan

Isoniazid tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis:

  • Tablet: 100 mg, 300 mg dan 400 mg.
  • Syrup: 100 mg/5 ml.
  • Injeksi: 1000 mg/10 ml.

Dosis yang paling baik untuk Anda adalah yang diresepkan dokter setelah memeriksa kondisi penyakit yang Anda derita. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Tuberkulosis

  • Intramuskular
    • Dosis dewasa: 5 mg/kg hingga 300 mg per hari dalam dosis tunggal atau 15 mg/kg hingga 900 mg/hari, 2 atau 3 kali dalam seminggu.
    • Dosis anak-anak: 10-15 mg hingga 300 mg dalam dosis tunggal atau 20-40 mg/kg hingga 900 mg/hari, 2 atau 3 kali seminggu.
  • Obat oral
    • Dosis dewasa: 5 mg/kg hingga 300 mg per hari dalam dosis tunggal atau 15 mg/kg hingga 900 mg/hari, 2 atau 3 kali seminggu.
    • Dosis anak-anak: 10-15 mg/kg hingga 300 mg per hari dalam dosis tunggal atau 20-40 mg/kg hingga 900 mg per hari, 2 atau 3 kali seminggu.

Petunjuk Penggunaan:

  • Konsumsi obat ini sebaiknya saat perut sedang kosong, yaitu satu jam sebelum makan atau 2 jam setelahnya dan dianjurkan untuk banyak minum air putih.
  • Jika muncul rasa kurang nyaman pada perut, bisa juga dikonsumsi bersamaan dengan makanan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis isoniazid  pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Isoniazid (INH)

Seperti halnya antibiotik lainnya yang memiliki efek samping, beberapa efek samping juga mungkin muncul dan perlu diperhatikan pada pada penggunaan isoniazid, antara lain sebagai berikut:

  • Mual.
  • Muntah.
  • Demam.
  • Ruam kulit.
  • Mulut kering.
  • Neuritis perifer.
  • Reaksi psikosis.
  • Kejang.
  • Optik neuritis.
  • Meningkatkan enzim hati.
  • Retensi urin.
  • Vertigo.
  • Hepatisis.

Efek Overdosis Isoniazid

Penggunaan obat ini secara berlebihan dapat menyebabkan efek yang fatal dan membahayakan jiwa. Jika muncul gejala muntah yang parah, pusing, penglihatan kabur, kesulitan bernafas hingga pingsan dan koma, hubungi kegawatdaruratan medis untuk mendapatkan pertolongan segera.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter Anda jika memiliki riwayat alergi terhadap obat ini.
  • Berhati-hatilah menggunakan obat ini jika sedang mengalami kejang kambuhan dan memiliki riwayat psikosis.
  • Berhati-hatilah menggunakan obat ini jika memiliki masalah pada ginjal dan hati.
  • Orang dengan risiko neuropati seperti penderita diabetes, pecandu alkohol, terinveksi HIV, malnutrisi dan uremia sebaiknya berhati-hati menggunakan obat ini.
  • Penderita defisiensi vitamin B6 juga perlu pengawasan saat menggunakan obat ini.

Kehamilan dan Menyusui

Apakah obat Isoniazid boleh dikonsumsi oleh ibu hamil dan ibu menyusui?

  • Isoniazid masuk dalam kategori C untuk ibu hamil menurut FDA. Hal ini berarti penggunaan obat ini pada studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu penggunaannya sebaiknya jika sangat dibutuhkan saja dan dengan pengawasan dokter.
  • Obat ini diketahui dapat terekstraksi dalam ASI ibu menyusui. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mulai mengonsumsi obat ini saat sedang menyusui.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan isoniazid (INH), diantaranya yaitu:

  • Menghambat metabolisme hati jika digunakan bersamaan dengan obat anti-epilepsi seperti carbamazepine, ethosuxidime, pirimidone, phenytoin juga pada obat jenis benzodiazepine, chlozoxazone, teofilin, disulfiram, terkadang juga meningkatkan efek toksiknya.
  • Meningkatkan konsentrasi dan efek yang ditimbulkan oleh clofazimine, sikloserin dan warfarin.
  • Mengurangi absorbsi obat antasida yang mengandung aluminium hidroksida.
  • Meningkatkan risiko penyakit neuropati perifer jika digunakan dengan zalcitabine dan stavudine.