Panduan Bagi Orang Tua Seputar Anak dan Video Game

anak dan video game

Arus modernisasi dan globalisasi kian menggerus dan memarginalkan permainan tradisional. Anak-anak yang tumbuh di era milenial seakan tak lagi tersentuh akan keasyikan bercengkrama dan bermandi peluh dengan teman-teman sebaya. Namun justru tenggelam pada karakter imaji dalam sejumlah game yang dimainkan.

Parahnya, tak sedikit orang tua yang justru melarang buah hatinya untuk lebih aktif bermain di luar rumah. Berkilah akan ketakutan anaknya terluka, kotor, kulit terbakar dan lain sebagainya. Menyediakan smartphone dan konsol game pun dianggap sebagai proteksi terbaik dari dunia luar. Anak yang rewel cukup dicekoki gadget agar kembali tenang.

Sayang pada kenyataannya, hal tersebut justru berimbas pada sulitnya anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Membuat mereka menjadi pemalu, penyendiri dan individualistis. Bahkan dapat meningkatkan kemungkinan obesitas, lantaran cenderung menjadi pribadi yang pasif atau kurang bergerak.

Sebelum salah langkah, pahami dahulu sejumlah panduan mengenai saat tepat seorang anak mulai bermain game dan jenis game yang pantas untuk dimainkan.

Kecanduan bermain game kini masuk kategori gangguan mental

WHO telah merilis revisi ke-11 dari dokumen klasifikasi penyakit internasional (International Classification of Diseases, ICD) pada pertengahan 2018 lalu. Dimana kecanduan bermain game dimasukkan dalam daftar penyakit mental yang memerlukan penanganan medis serius yang disebut dengan gaming disorder. Keputusan ini diambil berdasarkan pada tinjauan bukti yang tersedia dan konsultasi dengan para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Gaming disorder menurut WHO didefinisikan sebagai pola perilaku bermain game, baik digital maupun fisik yang ditandai oleh ketidakmampuan dalam mengontrol waktu bermain, memprioritaskan bermain game diatas segalanya dan tetap melanjutkan bahkan meningkatkan frekuensi permainannya meski secara sadar mengalami dampak negatif dari pola perilakunya tersebut.

Apabila pola perilaku tersebut ditemui pada anak dan telah berlangsung setidaknya selama 12 bulan, maka ada baiknya untuk segera memeriksakan dirinya pada psikolog atau psikiater agar kecanduan game yang dialami tak semakin jauh merusak kesehatan fisik, psikologis dan fungsi sosialnya. Hal ini berlaku pula pada orang dewasa.

Usia ideal seorang anak untuk mulai bermain game

Menurut seorang direktur dari Pusat Studi Kekerasan di Iowa State University, Craig Anderson, PhD, seorang anak yang berada di rentang usia 0-2 tahun tak seharusnya terpapar dengan layar televisi apalagi bermain game. Pada fase ini, otak anak belum mampu memproses input visual yang masuk dari layar secara maksimal. Bahkan berisiko menyebabkan masalah perhatian di kemudian hari apabila dibiarkan.

Pada usia 2-6 tahun, seorang anak mungkin sudah dapat memahami penggunaan televisi maupun smartphone. Namun demikian masih belum disarankan untuk bermain game. Lantaran masih banyak hal lain yang lebih penting yang dapat dilakukan guna memaksimalkan perkembangan dan kinerja otaknya pada tahap ini. Misalnya dengan belajar membaca dan berinteraksi sekaligus bermain di luar dengan anak-anak sebaya lainnya.

Saat terbaik untuk mengizinkan anak bermain game, yakni di mulai saat ia telah menginjak usia 7 tahun. Pada tahap ini, bermain game baik digital maupun fisik, online ataupun offline diketahui dapat meningkatkan fungsional korteks serebri yang penting dalam pembentukan dan latihan reaksi-reaksi emosional.

Kendati demikian, jangan biarkan ia bermain game lebih dari 5-10 jam/minggu, karena dapat membatasi ruang lingkup dari kegiatan waktu luang lainnya dimana seorang anak dapat mengembangkan keterampilan sosial.

Di samping itu, durasi bermain game berlebih juga dapat memicu terciptanya konflik dalam rumah seperti kurangnya kepedulian antar anggota keluarga dan sejumlah masalah kesehatan akibat pola tidur dan pola makan yang buruk.

Perhatikan jenis game yang dimainkan

Tersedia beragam judul game yang beredar di luaran sana, namun tak semuanya dapat dimainkan oleh anak begitu saja. Maka dari itu, orang tua dituntut untuk bersikap proaktif dalam menentukan game yang tepat untuk dimainkan. Perhatikan dengan benar rating game dan deskripsi yang tersedia. Apakah terdapat unsur kekerasan dam eksplisit didalamnya.

Jangan pernah membiarkan anak memainkan game yang ditujukan untuk orang dewasa. Misal yang mengandung kekerasan atau bumbu-bumbu percintaan. Pasalnya hal ini dapat meningkatkan kemungkinan risiko timbulnya perilaku agresif dan kenakalan remaja di kemudian hari. Ingat, anak-anak adalah peniru ulung yang dipenuhi dengan rasa penasaran.

Pilihlah game edukasi yang kaya akan aksi dan petualangan sehingga dapat membantu meningkatkan kecerdasan kinestetik, visual dan spasial, naturalis, eksistensial, interpersonal dan intrapersonal, linguistik serta berbagai kecerdasan lainnya.

Jangan luput untuk selalu memberikan pendampingan kepada anak saat bermain game. Hal ini bertujuan sebagai sarana interpretasi dan komunikasi dua arah agar anak benar-benar dapat memahami serta mengolah informasi yang ada dengan tepat.

Pastikan ia telah menyelesaikan kewajiban utamanya

Persepsi yang perlu ditanamkan dalam benak seorang anak adalah betapa pentingnya mendahulukan sebuah kewajiban daripada sebuah game. Dengan kata lain, bersantai dengan game kesukaannya merupakan suatu reward yang hanya dapat dinikmati bila saja kewajiban utamanya, seperti menyelesaikan pekerjaan rumah, beribadah, dll. telah terselesaikan.

Di malam hari, pastikan akses smartphone ataupun konsol game telah di cabut dari dirinya. Lantas, alihkan pada aktivitas yang lebih positif seperti membaca buku, mengkaji lebih dalam tentang ajaran agama dan segala sesuatu yang dapat meningkatkan wawasan serta merekatkan keintiman antara orang tua dengan anak.

Biarkan anak lebih aktif di luar rumah

Rancanglah aktivitas di luar rumah yang imajinatif, aman dan dapat mendukung jiwa berpetualang anak layaknya game yang dimainkannya. Keseruan ini dapat dilakukan setiap hari bersama orang tua maupun dengan teman-teman seusia.

Tak hanya bermanfaat dalam menjaga kesehatan fisik dan mencegah kecanduan game pada anak, aktivitas di luar rumah yang menyenangkan turut andil dalam mengembangkan keterampilan sosial serta menciptakan memori masa kecil yang berharga dan akan selalu terkenang ketika sudah dewasa.

Pada intinya, membiarkan anak bermain game pada perangkat yang tersedia bukanlah suatu kesalahan. Selama orang tua mampu bersikap proaktif dalam menerapkan sejumlah pendekatan agar anak tak terjerumus pada permainan game yang tak sesuai usia dan mengerdilkan kemampuan sosialnya sehingga menjadi seorang pecandu game.

Lihat sumber