Leukimia adalah kanker darah putih, istilah ini diambil dari bahasa Yunani yakni leukos yang berarti putih dan heme yang berarti darah. Ini merupakan salah satu jenis kanker yang menyerang darah. Sebenarnya penulisan yang tepat adalah leukemia bukan leukimia, namun orang Indonesia sudah terlanjur familiar pelafalannya dengan istilah yang terakhir.

Pada leukemia, sel-sel darah yang abnormal akan dihasilkan oleh sumsum tulang terutama sel darah putih (leukosit). Leukosit atau sel darah putih merupakan sel-sel yang menjadi salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang bertanggung jawab untuk melawan infeksi dalam tubuh. Namun pada leukemia, sel-sel yang tidak normal ini tidak bisa berfungsi sebagaimana peran sel darah putih yang seharusnya. Lebih lanjut mengenai Fungsi Sel Darah Putih (Leukosit)

leukimia

Kanker darah putih leukimia ini sebenarnya dimulai pada sumsum tulang… dimana sel-sel darah putih dan sel darah lainnya dihasilkan.

Tahukah Anda bahwa di dalam sumsum tulang sel darah putih dihasilkan melalui beberapa tahap. Pada tahap awal, dihasilkan sel-sel darah putih yang belum matang, lantas menjalani proses pematangan. Ketika sel-sel sudah matang, maka akan diedarkan ke aliran darah dan bisa berfungsi semestinya. Namun, pada leukemia sel-sel yang belum matang begitu banyak dan abnormal hingga terpaksa dikeluarkan dalam aliran darah.

Sel darah putih muda abnormal pada leukimia akan terus tumbuh dan membelah serta mendesak sel – sel darah yang normal. Pada akhirnya, hal ini akan mengakibatkan tubuh sulit untuk melawan infeksi, mengontrol perdarahan serta membawa oksigen ke jaringan.

Angka kejadian leukimia di Indonesia, berdasarakan penelitian pada tahun 2006, diketahui bahwa angka kejadiannya menempati urutan ke-5 dari keseluruhan penderita kanker di Indonesia. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit Indonesia pada tahun 2008, leukemia menempati urutan keempat insidensi kanker terbanyak di Indonesia setelah kanker payudara, kanker serviks (leher rahim) dan kanker hati.

Kenali Ciri-ciri dan Gejala Leukimia

Sebenarnya gejala leukemia sangat bervariasi dan tergantung dari jenis atau tipe leukemianya. Secara umum, berikut ciri – ciri dan gejala leukimia yang perlu kita kenali:

  • Demam atau meriang.
  • Mudah lelah dan lemas yang dirasakan terus menerus (persisten).
  • Sering mimisan (keluar darah dari hidung).
  • Terlihat pucat.
  • Infeksi sering sekali berulang dialami atau juga lebih mudah untuk timbul infeksi berat.
  • Berat badan menurun.
  • Kelenjar getah bening (KGB) membesar.
  • Pembesaran hepar (hati) atau lien (limpa).
  • Mudah memar atau berdarah.
  • Adanya petekie (bintik – bintik merah pada permukaan kulit).
  • Keringat berlebih terutama saat malam hari.
  • Nyeri atau kekakuan pada tulang dan sendi.

Gejala – gejala ini tidak selalu muncul semua pada pasien dan tidak semua pasien yang mengalami gejala – gejala di atas pasti mengalami leukimia sehingga memang dibutuhkan pemeriksaan fisik dan penunjang secara lebih detail.

Apa Penyebab Leukemia?

Penyebab leukemia masih belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya leukimia, yakni:

  • Pengobatan kanker sebelumnya.  Orang yang pernah menjalani pengobatan kemoterapi dan terapi radiasi tertentu untuk jenis kanker lainnya akan memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kejadian leukemia daripada orang yang tak pernah menjalani pengobatan ini.
  • Penyakit genetik. Keabnormalan genetik seringkali berperan penting terhadap berkembangnya leukemia, misalnya saja Down syndrome, yang berhubungan dengan peningkatan terjadinya leukimia pada anak.
  • Paparan terhadap bahan kimia tertentu. Paparan terhadap bahan kimia tertentu misalnya saja benzena (banyak digunakan pada industri kimia atau ditemukan dalam bensin), berhubungan dengan meningkatnya risiko berbagai jenis leukemia.
  • Kebiasaan merokok. Merokok meningkatkan risiko terjadinya leukimia, terutama leukemia mielositik akut.
  • Riwayat keluarga menderita leukimia. Jika anggota keluargamu mengalami leukemia maka risiko anda untuk mengalami hal yang sama semakin tinggi.

Akan tetapi banyak sekelompok orang yang memiliki faktor – faktor risiko di atas tidak mengalami kanker darah putih ini. Bahkan sebaliknya, banyak juga yang mengindap leukimia tidak memiliki faktor risiko ini.

Bagaimana Memastikan Diagnosis Leukemia?

Jika sekiranya ada yang mengalami gejala-gejala di atas, maka perlu dipastikan apakah kondisi yang dialami itu akibat leukimia ataukah yang lainnya. Nah, prosedur untuk memastikan suatu penyakit dalam istilah medis dikenal dengan penegakan diagnosis.

Diagnosis tidak hanya menentukan nama penyakitnya, tetapi juga jenis yang lebih spesifik lagi. Hal ini penting, karena bisa jadi beda jenis beda pula penanganannya.

Secara umum, leukimia dibagi menjadi leukemia akut dan leukemia kronik. Leukemia akut terbagi lagi menjadi leukemia limfositik akut (LLA) dan leukemia mielositik/myelogenous akut (LMA). Sedangkan leukemia kronik terbagi menjadi leukemia limfositik kronik (LLK) dan leukemia mielositik/granulositik kronik (LMK/ LGK).

Leukemia Akut

Pada leukemia akut, sel darah abnormal adalah sel darah yang belum matang (blast). Sel-sel imatur ini tidak bisa melakukan fungsi normalnya, dan sel-sel ini berkembang biak dengan cepat, sehingga penyakitnya memburuk dengan cepat. Leukemia akut memerlukan perawatan yang agresif dan tepat waktu.

Ada dua jenis:

  • Leukemia limfositik akut (LLA). Jenis yang paling umum pada anak. LLA juga bisa terjadi pada orang dewasa.
  • Leukemia myelogenous akut (LMA). Jenis leukemia yang umum, baik pada anak-anak dan orang dewasa. AML adalah jenis leukemia akut yang paling umum pada orang dewasa.

Leukimia Kronik

Berbeda dengan yang akut, leukemia kronis melibatkan sel darah yang lebih matang (meskipun belum benar-benar matang). Sel darah ini mereplikasi atau menumpuk lebih lambat dan bisa berfungsi normal untuk jangka waktu tertentu. Beberapa bentuk leukemia kronis pada awalnya tidak menghasilkan gejala awal dan tidak diketahui atau tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun.

Ada dua jenis:

  • Leukemia limfositik kronis (LLK). Jenis leukemia kronis yang paling umum, penderita mungkin merasa sehat selama bertahun-tahun tanpa memerlukan perawatan.
  • Leukemia myelogenous kronis (LMK). Jenis ini terutama menyerang orang dewasa, penderitanya mungkin memiliki sedikit atau tidak ada gejala selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelum memasuki fase di mana sel leukemia tumbuh lebih cepat.

Berikut langkah-langkah yang dilakukan dokter untuk menegakkan diagnosis leukemia beserta jenisnya:

  • Anamnesis atau wawancara medis

Dari anamnesis diperoleh informasi mengenai gejala – gejala yang dialami pasien seperti yang telah disebutkan di atas misalnya keluhan demam atau meriang tanpa diketahui apa penyebabnya, mudah lelah dan lemas, infeksi sering berulang, berat badan menurun, pembesaran kelenjar getah bening (KGB), hepar (hati) atau lien (limpa), mudah memar atau berdarah, dan lain sebagainya.

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien leukemia jenis LLA akan ditemukan adanya pembesaran limpa atau splenomegali (86%), pembesaran hati atau hepatomegali, pembesaran KGB atau limfadenopati, nyeri tekan pada tulang dada, perdarahan pada kulit, dan perdarahan pada retina mata.
    • Pada pasien LMA akan ditemukan gusi yang mudah berdarah, adanya perdarahan pada bagian mata sehingga menyebabkan gangguan penglihatan dan lain sebagainya.
    • Pada pasien leukimia jenis LLK ditemukan pembesaran hati (hepatosplenomegali) dan pembesaran KGB (limfadenopati), gejala anemia (mata pucat dll), gejala-gejala hipermetabolisme (misalnya penurunan berat badan dan keringat yang berlebihan).
    • Pada LGK/LMK ditemukan adanya pembesaran pada limpa atau splenomegali dan hati (hepatomegali), nyeri tekan tulang dada, dan lain sebagainya.
  • Pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dianjurkan adalah pemeriksaan darah tepi dimana ditemukannya leukositosis atau peningkatan jumlah leukosit pada sebagian besar pasien LLA.
    • Pada pasien LMA ditemukan penurunan kadar eritrosit (sel darah merah) dan trombosit (keping darah).
    • Pada pasien LLK ditemukan jumlah limfosit yang meningkat (limfositosis lebih dari 50.000/mm3)
    • Pada penderita LGK/LMK ditemukan jumlah leukosit meningkat lebih dari 50.000/mm3. Selain itu, bisa juga dilakukan pemeriksaan sumsum tulang dimana ditemukan keadaan hiperselular (jumlah sel – sel muda sangat banyak).

Langkah Pengobatan

pengobatan leukimia

Ada beberapa pengobatan medikamentosa yang bisa dilakukan pada pasien leukemia yakni antara lain dengan cara:

  • Kemoterapi

Pengobatan ini dilakukan dengan menggunakan bahan – bahan kimia anti kanker untuk membunuh sel – sel abnormal tersebut. Bergantung pada jenis leukemia yang dimiliki, pasien mungkin menerima obat dalam bentuk tunggal atau kombinasi. Obatnya pun bisa berupa pil, atau bisa disuntikkan langsung ke pembuluh darah.

  • Radioterapi

Pengobatan ini dilakukan dengan menggunakan sinar-X yang mengandung energi tinggi yang bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker. Selama terapi radiasi, pasien berbaring di atas meja sementara alat-alat atau mesin terapi bergerak di sekitarnya, mengarahkan radiasi ke titik yang tepat pada tubuh.

Bergantung pada beberapa kondisi, sinar-X mungkin hanya ditujukan ke satu area tertentu di tubuh dimana ada kumpulan sel leukemia, atau mungkin di arahkan ke seluruh tubuh. Terapi radiasi ini juga dapat digunakan untuk mempersiapkan transplantasi sel induk sumsum tulang.

  • Transplantasi sel induk

Pengobatan ini dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang yang sehat dengan cara memasukkan sel induk (stem sel) darai donor ke dalam tubuh.

Sebelum transplantasi sel induk dilakukan, pasien harus terlebih dahulu menjalani kemoterapi atau terapi radiasi dosis tinggi untuk menghancurkan sumsum tulang yang rusak akibat kanker. Kemudian sel induk diberikan langsung ke dalam pembuluh darah melalui selang infus. Diharapkan sel induk ini akan membantu membangun kembali sumsum tulang yang rusak.

Selain terapi dengan obat-obatan leukimia di atas, pasien juga perlu melakukan hal – hal berikut ini untuk membantu penyembuhan dan mencegah berkembangnya kanker darah yakni:

  • Menghindari paparan bahan kimia penyebab kanker misalnya benzena.
  • Berhenti merokok.
  • Perbanyak asupan makanan bergizi dan hindari penggunaan bahan pengawet dalam makanan.