Limfadenopati adalah perubahan abnormal pada kelenjar getah bening sehingga ukuran, jumlah, atau konsistensinya berubah menjadi tidak normal. Apabila limfadenopati disebabkan oleh peradangan akibat infeksi, maka disebut dengan limfadenitis yang ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening.

Nodus limfatikus atau kelenjar getah bening (KGB) berperan dalam sistem imun tubuh. Kelenjar getah bening berukuran kecil, dengan bentuk seperti kacang yang berada di seluruh bagian tubuh. Sebagai salah satu organ yang berperan dalam sistem imun tubuh, kelenjar ini bertugas mengangkut cairan limfe, nutrisi dan juga zat – zat sisa metabolisme antara jaringan tubuh dan aliran darah.

Sebagai bagian penting dalam sistem imun, kelenjar getah bening berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh untuk melawan berbagai macam penyakit. Kelenjar getah bening menyaring cairan limfe yang melewatinya, kemudian menangkap bakteri, virus, dan substansi asing lainnya yang kemudian akan dihancurkan oleh sel – sel darah putih khusus yang disebut sebagai limfosit.

Limfadenopati menunjukkan adanya penyakit termasuk di sistem retikuloendotelial, atau karena peningkatan limfosit dan makrofag sebagai respon terhadap antigen. Kebanyakan limfadenopati pada anak – anak terjadi pada penyakit yang bisa sembuh sendiri misalnya infeksi virus. Penyebab lainnya karena akumulasi sel – sel radang sebagai respon terhadap infeksi di kelenjar getah bening (limfadenitis), limfosit neoplastik atau makrofag (limfoma), atau karena penyakit gaucher.

Insiden terjadinya limfadenopati tidak diketahui jumlah pastinya namun diperkirakan kasus limfadenopati pada anak sekitar 38-45%. Limfadenopati merupakan satu dari beberapa masalah paling sering terjadi pada anak – anak. Mengetahui apakah pembesaran kelenjar getah bening merupakan respon normal karena infeksi virus yang ringan dan sering terjadi atau karena penyakit lain yang lebih serius seringkali cukup sulit dilakukan.

Ras dan jenis kelamin tidak mempengaruhi seringnya terjadi limfadenopati. Limfadenopati paling sering terjadi pada anak – anak karena sistem imun yang baru berkembang untuk melawan infeksi.

Nodus limfatikus atau kelenjar getah bening bisa ditemukan tunggal atau berkelompok dengan ukuran sekecil kepala peniti atau sebesar buah zaitun. Sekelompok kelenjar getah bening bisa ditemukan di leher, lipat paha dan juga ketiak. Kelenar getal bening normalnya tidak terasa nyeri atau tegang. Kebanyakan kelenjar getah bening pada tubuh tidak bisa dirasakan.

Ciri-ciri dan Gejala Limfadenopati

gejala limfadenopati

Untuk menegakkan diagnosis limfadenopati berdasarkan gejala yakni adanya pembesaran kelenjar getah bening. Diagnosis banding atau penyakit yang mirip dengan limfadenopati akut cukup banyak dan luas. Dengan mengetahui riwayat kesehatan pasien akan memperkecil kemungkinan diagnosis banding lainnya.

Ketika kelenjar getah bening membengkak pada dua atau lebih area maka disebut sebagai limfadenopati generalisata. Penilaian ukuran, lokasi dan karakteristik limfadenopati penting untuk dilakukan.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan anak – anak memiliki kelenjar getah bening yang agak besar dan mudah digerakkan pada servikal anterior (leher depan), inguinal (lipat paha), dan ketiak. Namun jika hal ini terjadi pada dewasa maka keadaan ini termasuk sebagai limfadenopati. Jaringan limfoid meningkat stabil setelah kelahiran hingga usia 8-12 tahun dan mengalami atrofi (mengecil) dengan progresif selama masa pubertas.

Berikut ukuran kelenjar getah bening normal pada anak – anak:

  • Leher depan (servikal anterior) berukuran sebesar 2 cm
  • Ketiak (aksila) berukuran sebesar 1 cm
  • Inguinal (lipat paha) sebesar 1,5 cm.
  • Bayi baru lahir biasanya memiliki ukuran KGB kurang dari 0,5 cm.

Kebanyakan, keganasan pada KGB anak berhubungan dengan pembesaran KGB lebih dari 3 cm. Akan tetapi, keganasan pada KGB supraklavikula atau epitroklear bisa ditandai dengan pembesaran KGB dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

Pemeriksaan fisik secara teliti bisa membantu menentukan apakah pembesaran KGB tersebut membutuhkan investigasi atau pemeriksaan penunjang lainnya atau tidak.

Penyebab Limfadenopati

penyebab limfadenopati

Penyebab limfadenopati generalisata bisa karena berbagai hal berikut ini, misalnya:

  1. Infeksi
    • Virus, misalnya infeksi di saluran napas atas, infeksi mononukleosis, CMV, hepatitis A, B, dan C, sindrom defisiensi imun dapatan, rubela, varicela (cacar), dan campak.
    • Bakteri, misalnya pada septikemia, demam tifoid, tuberkulosis, sifilis, dll
    • Protozoa, misal toxoplasmosis
    • Fungi atau jamur misal koksidiomikosis
  2. Penyakit autoimun dan hipersensitivitas, misal artritis rematoid juvenile, lupus eritematosus sistemik, reaksi obat, dan lainnya.
  3. Storage Diseases, misal penyakit Gaucher, penyakit Niemann-Pick
  4. Penyakit proliferasi dan neoplastik, misal leukemia akut, limfoma (Hodgkin, non-Hodgkin), neuroblastoma, histiositosis.

Penyebab limfadenopati lokal antara lain:

  1. Servikal. Karena infeksi saluran napas bagian atas akibat virus, infeksi mononukleosis, rubela, penyakit catscratch, faringitis Streptococcal, limfadenitis bakteri akut, toksoplasma, leukemia akut, tuberkulosis, limfoma, neuroblastoma, rhabdomiosarkoma, Penyakit kawasaki.
  2. Submaxillary and submental. Karena infeksi mulut dan gigi, limfadenitis akut.
  3. Occipital. Karena Pedikulosis kapitis, tinea kapitis, infeksi sekunder pada kulit, rubella, roseola
  4. Preauricular. Karena infeksi kulit lokal, infeksi mata kronik, penyakit catscratch.
  5. Mediastinal. Karena leukemia limfoblastik akut, limfoma, sarkoidosis, fibrosis kistik, tuberkulosis, histoplasmosis, koksidiomikosis.
  6. Supraclavicular. Karena limfoma, tuberkulosis, histoplasmosis, koksidiomikosis.
  7. Aksila (ketiak). Karena infeksi lokal, penyakit Catscratch, brucellosis, reaksi imun, limfoma, arthritis rematoid juvenil.
  8. Abdominal. Karena limfoma dll
  9. Inguinal (lipat paha). Karena infeksi lokal, dermatitis karena diaper (popok), digigit binatang, sifilis, limfogranuloma venereum

Pengobatan Limfadenopati

pengobatan limfadenopati

Pengobatan terhadap kelenjar getah bening (KGB) yang membengkak atau limfadenopati terfokus pada bagaimana cara mengatasi penyebab limfadenopati itu sendiri. Sebagai contoh, infeksi bakteri diobati dengan antibiotik, infeksi virus bisa hilang dengan sendirinya, dan lain sebagainya.

Jika dicurigai karena kanker, biopsi bisa dilakukan untuk memastikan diagnosisnya baru dilakukan terapi anti kanker untuk mengatasi penyakit ini. Beberapa kasus pembesaran kelenjar getah bening tidak hilang dengan sendirinya atau tidak kembali ke ukuran normal dalam waktu satu bulan harus diperiksakan ke dokter.

Kelenjar getah bening bisa tetap membengkak sesudah infeksi awalnya hilang. Hal ini khususnya terjadi pada anak – anak dimana kelenjar getah beningnya akan mengecil namun masih terlihat dalam beberapa minggu.