Metoklopramid obat apa?

Metoklopramid adalah obat yang bersifat meredakan mual dan muntah yang disebabkan oleh beberapa kondisi seperti pasca operasi, selepas kemoterapi dan radiologi, serta muntah akibat migrain, GERD atau komplikasi diabetes. Obat ini juga kerap digunakan untuk membantu proses instubasi saluran cerna dan pengosongan lambung.

Obat yang merupakan jenis obat keras ini hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter. Metoklopramid dipasarkan dalam berbagai merek dengan sediaan berupa tablet, syrup, drops atau cairan injeksi. Ketahui kegunaan, dosis lazim, efek samping, kontraindikasi obat ini, serta efeknya pada ibu hamil dan menyusui pada uraian berikut.

Ikhtisar Obat Metoklopramid

Jenis obatAntiemitik, antiflatulen, anti-inflamasi
KategoriObat keras
KegunaanMengatasi mual dan muntah
KonsumenDewasa dan anak-anak
KehamilanKategori B
SediaanTablet, cairan injeksi, drops, syrup
MerekAmeda, Clopramel, Damaben, Emeran, Enakur, Ethiferan, Gavistal, Lexapram, Meclam, Mefamesis, Mepramide, Metoklopramid, Metolon, Metromide, Nausile, Nausimex, Navoren-10, Nilatika, Nofoklam, Noristal, Topram, Tomit, vomitrol, vosea

metoklopramid

Mekanisme Kerja

Metoklopramid bekerja dengan cara menghabat reseptor dopamin dan dalam dosis yang lebih tinggi senyawa ini dapat memblokir reseptor serotonin di zona pemicu kemoreseptor di susunan saraf pusat. Kondisi ini akan menyebabkan meningkatnya respon terhadap asetilkolin di jaringan tisu saluran pencernaan atas. Akibatnya terjadi peningkatan motilitas dan mempercepat pengosongan lambung tanpa merangsang asam lambung dan pankreas.

Indikasi atau Kegunaan Metoklopramid

Metoklopramid digunakan untuk meredakan mual dan muntah yang disebabkan oleh berbagai kondisi seperti:

  • Muntah setelah menjalani kemoterapi atau radioterapi.
  • Muntah akibat GERD.
  • Mual dan muntah akibat kelainan pada saluran pencernaan akibat penyakit diabetes.
  • Mengatasi mual dan muntah pascaoperasi.

Selain itu obat ini juga digunakan untuk membantu proses instubasi (memasukkan selang ke saluran cerna), membantu pengosongan lambung, serta memperlancar jalannya zat kontras saat proses radiologi lambung dan usus.

Kontraindikasi

Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi di bawah ini tidak boleh menggunakan:

  • Orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas atau alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Penderita pendarahan saluran cerna, obstruksi mekanis dan perforasi saluran cerna serta dikonfirmasi menderita pheyocromocytoma.
  • Tidak boleh diberikan pada penderita epilepsi, parkinson, memiliki riwayat metahemoglobinemia.
  • Penderita yang sedang diobati dengan obat jenis agonis levodopa atau dopaminergik.

Dosis Metoklopramid dan Cara Penggunaan

Di pasaran Metoklopramid tersedia dalam berbagai bentuk sediaan dan kekuatan dosis serta berbagai jenis merek dagang. Utamanya tersedia dalam bentuk

  • Tablet dengan kekuatan dosis 10 mg dan 5 mg.
  • Drops dengan kekuatan dosis 2 mg/ml.
  • Cairan injeksi dengan kekuatan dosis 5 mg/ml.
  • Syrup dosisnya 5 mg/5 ml

Ingat! karena ini obat keras, dosis yang tepat adalah yang berdasarkan anjuran dari dokter berdasarkan berat ringannya penyakit, usia jenis, kelamin, dll. Adapun dosis yang lazim digunakan adalah sebagai berikut:

Dosis Metoklopramid untuk mengatasi muntah akibat kemoterapi

  • Dosis dewasa:
    • Obat oral: 10 mg,  1 – 3 kali sehari. Maksimal 5 hari penggunaan.
    • Cairan intravena: untuk obat kemoterapi sangat menyebabkan muntah, pemberian awal melalui infus 2mg/kgBB selama 15 menit, dilakukan 30 menit sebelum kemoterapi. Untuk obat kemotrerapi yang tidak terlalu menyebabkan muntah dosisnya 1 mg/kgBB. Maksimal pemberian 5 hari.

Dosis Metoklopramid untuk mengatasi muntah akibat GERD

  • Dosis dewasa: dalam bentuk obat oral, 10 – 15 mg 4 kali sehari, dapat disesuaikan dengan keparahan gejala. Jika muntahnya parah pemberian 20 mg dalam satu dosis dapat dilakukan. Maksimal penggunaan hingga 12 minggu.
  • Dosis lansia: 5 mg/ dosis.

Dosis Metoklopramid untuk instubasi dan pengosongan lambung

  • Dosis dewasa: 10 mg dalam dosis tunggal menggunakan cairan infus selama 1 – 2 menit.
  • Dosis anak-anak:  umur < 6 tahun 1 mg/kgBB dalam dosis tunggal, umur 6 – 14 tahun 2,5 – 5 mg dalam dosis tunggal.

Dosis Metoklopramid untuk profilaksis muntah pasca operasi

  • Dosis dewasa: 10 mg dalam dosis tunggal dengan IM atau IV selama 3 menit.
  • Dosis anak-anak:  1 – 3 tahun 10 – 14 kg dosisnya 1 mg 3 kali sehari;  3 – 5 tahun, 2 mg 3 kali sehari; 5 – 9  tahun, 2,5 mg 3 kali sehari; 9 – 18 tahun 5 mg 3 kali sehari. Maksimal penggunaan selama 48 jam.

Petunjuk Penggunaan:

  • Obat ini harus dikonsumsi dalam kondisi perut kosong atau 1/2 jam sebelum makan.
  • Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.
  • Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti per 6-8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.
  • Apabila ada dosis yang terlewat akibat lupa, maka begitu ingat dianjurkan untuk segera meminumnya apabila dosis berikutnya masih lama sekitar 5 jam atau lebih. Tidak boleh menggandakan dosis Metoklopramid pada jadwal minum berikutnya sebagai ganti untuk dosis yang terlewat.

Efek Samping Metoklopramid

Metoklopramid umumnya ditoleransi dengan baik. Namun demikian, beberapa efek samping mungkin muncul dan perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:

  • Mengantuk
  • Sakit kepala
  • Depresi
  • Kelelahan
  • Gangguan saluran cerna
  • Hipotensi

Efek Overdosis Metoklopramid

Penggunaan dosis tinggi tanpa resep dokter dapat menyebabkan overdosis Metoklopramid. Gejalanya dapat berupa rasa kantuk hebat, kelainan ekstrapiramidal, kebingungan, halusinasi, hingga gagal jantung. Jika kondisi ini terjadi segeralah hubungi unit kegawatdaruratan medis untuk mendapatkan pertolongan segera.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Sampaikan pada dokter atau apoteker Anda jika pernah mengalami alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Hati-hati menggunakan obat ini pada penderita gangguan fungsi jantung, kelainan saraf, pengidap bradikardia, mengalami ketidakseimbangan elektrolit yang tidak dapat dikoreksi, serta gangguan fungsi ginjal dan hati.
  • Hati-hati penggunaan pada lansia dan anak-anak serta ibu hamil dan menyusui.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkah Metoklopramid untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Metoklopramid masuk dalam kategori B untuk ibu hamil menurut FDA (BPOMnya Amerika) untuk obat oral maupun parenteral. Hal itu berarti studi pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penggunaannya harus hati-hati dan dengan petunjuk dokter.
  • Obat ini dapat terekstraksi ke dalam ASI ibu menyusui dan berpotensi membahayakan kesehatan bayi yang menyusu. Oleh karena itu penggunaan pada ibu hamil sebaiknya dihindari atau hanya jika diresepkan dokter dan manfaatnya dirasa lebih baik dari efek yang ditimbulkan atau dilakukan penghentian pemberian ASI untuk sementara.

Interaksi Obat

Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan bersamaan dengan obat lain sehingga dapat mengubah cara kerja obat. Sebagai akibatnya, risiko efek samping dapat meningkat, obat tidak bekerja, atau bahkan menimbulkan efek beracun yang membahayakan tubuh. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang Anda konsumsi dan beritahukan kepada dokter.

Beberapa jenis obat diketahui dapat berinteraksi dengan Metoklopramid, diantaranya yaitu:

  • Bersifat antagonis jika digunakan bersamaan dengan obat antikolinergik dan turunan morfin.
  • Berpotensi menyebabkan efek sedatif jika digunakan dengan obat-obatan penekan susunan saraf pusat.
  • Dapat meningkatkan risiko serotonin sindrom jika dikonsumsi bersamaan dengan obat jenis serotonergik.
  • Dapat menurunkan bioavailabilitas digoxin namun menaikan bioavailabilitas siklosporin.
  • Dapat berakibat fatal jika dikonsumsi dengan obat levadopa atau agonis dopaminergik.