Mirasic Obat Apa?

Mirasic adalah obat yang mengandung paracetamol atau acetaminophen untuk mengatasi nyeri ringan – sedang dan demam. Tersedia dalam bentuk tablet, syrup, dan tetes (drops).

Mirasic termasuk obat bebas sehingga dapat diperoleh di apotek tanpa resep dokter. Meskipun dijual bebas, penggunaan obat ini tetap harus memperhatikan cara pakai, dosis, kontraindikasi dan efek samping seperti dijelaskan di bawah ini.

Ikhtisar Obat Mirasic

Jenis obatAnalgetik (antinyeri) dan Antipiretik (penurun panas)
KandunganParacetamol
KategoriObat bebas
KegunaanMeredakan sakit kepala, sakit atau nyeri di seluruh bagian tubuh serta demam atau panas.
KonsumenDewasa dan anak-anak
KehamilanKategori B
SediaanTablet, tablet forte, syrup, tetes (drops)
mirasic

kemasan mirasic tablet 500

Mekanisme Kerja

Paracetamol bekerja dengan cara menghambat enzim cyclooxsygenase, COX-1, COX-2 dan COX-3  yang terlibat dalam pembentukan prostaglandin, substansi yang bertindak mengatur rasa sakit dan diketahui juga sebagai regulator panas pada hipotalamus.

Dengan berkurangnya produksi prostaglandin, maka efeknya langsung mempengaruhi ambang rasa sakit pada sisitem saraf pusat. Akibatnya rasa sakit dan demam dapat berkurang.

Indikasi atau Kegunaan Mirasic

Kegunaan utama Mirasic adalah sebagai obat penurun panas (antipiretik) dan sebagai obat penghilang rasa sakit (analgesik) dari ringan hingga sedang.

Beberapa kondisi nyeri yang dapat diatasi dengan mirasic seperti:

  • sakit kepala
  • sakit gigi ringan
  • nyeri pasca operasi
  • nyeri terkait pilek atau flu
  • nyeri otot pasca-trauma
  • nyeri haid
  • nyeri sendi ringan

Pada pasien kanker juga bisa diberikan Mirasic untuk mengatasi nyeri ringan atau dapat diberikan dalam kombinasi dengan opioid (misalnya kodein).

Paracetamol telah dibandingkan dengan banyak analgesik lain dan dianggap kurang equipotent jika dibandingkan dengan aspirin (asam asetilsalisilat). Dengan demikian, secara umum, Mirasic kurang mujarab ketimbang salisilat dan agen antirematik lainnya jika digunakan sebagai obat anti-inflamasi dan antinyeri.

Kabar baiknya Mirasic dapat digunakan pada anak-anak. Ini merupakan alternatif yang lebih disukai ketika aspirin (asam asetilsalisilat) merupakan kontraindikasi (misalnya karena riwayat ulkus atau infeksi virus pada anak).

Kontraindikasi

Obat Mirasic tidak boleh digunakan pada orang dengan kondisi dibawah ini:

  • Memiliki riwayat alergi terhadap acetaminophen dan komponen lain dalam obat.
  • Gangguan fungsi hati dan penyakit hati.
  • Gangguan Fungsi Ginjal Serius.
  • Shock.
  • Overdosis Acetaminophen.
  • Gizi Buruk.

Dosis Mirasic dan Aturan pakai

Mirasic tersedia dalam bentuk dan sediaan sebagai berikut:

  • Mirasic tablet Paracetamol 500 mg / kaplet
  • Mirasic Forte: Paracetamol 650 mg / forte kaplet
  • Mirasic Syrup: Paracetamol 120 mg / 5 ml sirup
  • Mirasic Drops: Paracetamol 100 mg / ml drops
mirasic syrup

kemasan mirasic syrup

Sebelum menggunakan Mirasic, harap membaca terlebih dahulu informasi yang dicetak pada leaflet dalam kemasan obat. Leaflet dari produsen akan memberikan informasi lebih lanjut tentang obat dan daftar lengkap dari efek samping.

Dosis Mirasic Tablet 500 mg

  • Dewasa dan anak di atas 12 tahun: 1 tablet 3 – 4 kali sehari atau setiap 4-6 jam.
  • Anak-anak usia 5 – 12 tahun: 1/2 tablet 3 – 4 kali sehari atau setiap 4-6 jam.
  • Anak-anak di bawah 5 tahun sebaiknya menggunakan sediaan syrup.

Dosis Mirasic Forte

Sediaan forte digunakan untuk meringankan rasa sakit yang lebih berat dan/atau pada pasien yang lebih gemuk dengan dosis sama seperti di atas.

Dosis Mirasic Syrup

  • Anak usia < 1 tahun : 1/2 sendok takar (2.5 ml) 3-4 x sehari atau setiap 4-6 jam.
  • Anak usia 1-3 tahun : 1/2 – 1 sendok takar (2.5 – 5 ml) 3-4 x sehari atau setiap 4-6 jam.
  • Anak usia 3-6 tahun : 1 sendok takar  (5 ml) 3-4 x sehari atau setiap 4-6 jam.
  • Anak usia 6-12 tahun : 1- 2 sendok takar  (5 – 10 ml) 3-4 x sehari atau setiap 4-6 jam.
  • Anak di atas 12 tahun : Sebaiknya menggunakan sediaan tablet, jika tidak memnungkinkan maka dosis sirup yang dianjurkan adalah 3 sampai 4 sendok takar (15-20 ml) 3-4 x sehari atau setiap 4-6 jam.

Dosis Mirasic Drops

  • Anak usia < 1 tahun : 0.6 ml sesuai takaran drops, sebanyak 3-4 kali sehari.
  • Anak usia 1-2 tahun : 0.6-1.2 ml sesuai takaran drops, sebanyak 3-4 kali sehari.
  • Anak usia 3-6 tahun : 1.2 ml sesuai takaran drops, sebanyak 3-4 kali sehari.
  • Anak usia 6-12 tahun : 2.4 ml sesuai takaran drops, sebanyak 3-4 kali sehari.

Efek Samping Mirasic

Umumnya Mirasic ditoleransi biak oleh tubuh, namun beberapa efek samping berikut harus diperhatikan:

  • Ruam atau pembengkakan – ini bisa menjadi tanda dari reaksi alergi
  • Hipotensi (tekanan darah rendah) ketika diberikan di rumah sakit dengan infus.
  • Kerusakan hati dan ginjal, ketika digunakan pada dosis lebih tinggi dari yang direkomendasikan (overdosis)

Efek Overdosis

Dalam kasus ekstrim kerusakan hati yang disebabkan oleh overdosis Mirasic bisa berakibat fatal.

Carilah bantuan medis darurat jika Anda memiliki salah satu dari tanda-tanda reaksi alergi seperti : gatal-gatal; kesulitan bernapas; pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

Berhenti menggunakan obat ini dan hubungi dokter apabila mengalami efek samping yang serius seperti:

  • Mual, sakit perut, dan kehilangan nafsu makan;
  • Air seni berwarna gelap, tinja berwarna tanah liat; atau
  • Jaundice (menguningnya kulit atau mata).

Jika salah satu gejala overdosis berikut terjadi, maka segeralah mencari bantuan medis darurat:

  • Diare
  • Keringat berlebihan
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual atau muntah
  • Kram perut atau nyeri
  • Pembengkakan, atau nyeri di perut atau perut daerah atas.

Peringatan dan Perhatian

Sebelum dan selama menggunakan obat ini, harap perhatikan hal-hal dibawah ini:

  • Hindari penggunaan obat ini jika Anda pernah mengalami alergi terhadap kandungan obat ini.
  • Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang mengalami diabetes, phenilketonuria (PKU), penyakit ginjal parah atau penyakit hati.
  • Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat ini jika Anda sedang hamil atau menyusui.
  • Selalu perhatikan petunjuk penggunaan dan jangan melebihi dosis yang dianjurkan.

Kehamilan dan Menyusui

Bolehkan obat Mirasic untuk ibu hamil dan menyusui?

  • Mirasic jenis oral masuk dalam obat kategori B untuk kehamilan yang berarti studi pada sistem reproduksi hewan percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan.
  • Sementara untuk jenis intravena (IV) masuk dalam kategori C yang berarti penelitian pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu Mirasic dianggap aman untuk ibu hamil, asalkan digunakan dalam waktu singkat. Penggunaannya pun harus dengan indikasi atau kebutuhan yang tepat.
  • Untuk ibu menyusui penggunaan parsetamol dapat masuk ke dalam air susu ibu dalam konsentrasi kecil, sekitar 2% dari dosis harian yang dikonsumsi. Kasus ruam juga dilaporkan terjadi pada bayi menyusu dengan ibu yang mengonsumsi paracetmol, namun ruam menghilang setelah menghentikan penggunaan. Namun paracetamol dianggap aman untuk ibu menyusui oleh Academy of Pediatrics.

Interaksi Obat

Beberapa jenis obat dan bahan makanan dan minuman dapat berinteraksi dengan Mirasic diantaranya yaitu:

  • Alkohol. Penggunaan bersamaan dapat meningkatkan hepatotoxicity paracetamol yakni menjadi racun bagi hati.
  • Antikonvulsan. Dapat meningkatkan koversi acetaminophen menjadi heptotoxic jika dikonsumsi bersamaan.
  • Antikoagulan Oral.
  • Aspirin.
  • Isoniazid.
  • Phonetiazine.

Tidak seluruh interaksi obat dirangkum pada artikel ini, untuk itu selalu konsultasikan dengan dokter jika sedang mengonsumsi obat medis tertentu atau sedang mengalami penyakit tertentu. Penyakit yang paling terpengaruh akibat konsumsi Mirasic adalah penyakit ginjal parah, penyakit hati (termasuk hepatitis) dan phenilketonuria.