Diet Golongan Darah A, B, AB, dan O, Sudah Terbukti?

Usaha seseorang agar selalu tampil menarik membuahkan banyak cara perawatan tubuh, munculnya berbagai kosmetik, hingga rancangan busana yang beraneka bentuknya. Bentuk perawatan kecantikan pun banyak pula pilihannya ada perawatan wajah, bibir, alis, gigi, kulit, rambut dan lain sebagainya. Namun familiarkah Anda dengan diet golongan darah?

Demi mendapatkan bentuk tubuh yang proporsional, banyak orang rela melakukan apa saja. Didukung juga dengan banyaknya berbagai pilihan cara, mulai dari senam, yoga, sedot lemak, sampai diet ketat. Kali ini kita akan membahas salah satu jenis diet, yaitu diet berdasarkan golongan darah A, B, AB dan O.

diet golongan darah ABO

Diet yang disebut The Blood Type Diet (diet golongan darah) ini telah populer selama hampir dua dekade hingga sekarang. Pendukung diet ini menyatakan bahwa golongan darah Anda menentukan makanan mana yang terbaik untuk kesehatan Anda.

Ada banyak orang yang setelah melakukan diet golongan darah ini bersumpah, bahwa dengan diet ini dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Tapi apa sih sebenarnya diet golongan darah itu? Dan, apakah diet golongan darah itu mempunyai dasar bukti yang kuat?

Mari kita lihat.

Apa itu Diet Golongan Darah?

Diet golongan darah pertama kali dipopulerkan oleh dokter naturopathic physician bernama Dr. Peter D’Adamo pada tahun 1996. Bahkan beliau telah menyusun sebuah buku, Eat Right 4 Your Type, yang laku keras di pasaran. Buku itu bahkan masuk dalam jajaran buku terlaris New York Times, terjual jutaan kopi, dan masih sangat populer hingga saat ini.

Dalam buku ini, dia mengklaim bahwa diet optimal untuk setiap individu bergantung pada golongan darah ABO orang tersebut .

Dia mengklaim bahwa setiap jenis darah mewakili sifat genetik nenek moyangnya masing-masing, termasuk makanan yang membantu mereka berevolusi untuk berkembang hingga sekarang.

Berdasarkan teori ini, berikut rekomendasi makanan untuk diet golongan darah:

Diet Golongan Darah A:

Disebut agraris, atau kultivator. Orang yang memiliki golongan darah tipe A harus makan makanan yang kaya akan sayuran, dan benar-benar bebas dari “racun” daging merah. Ini sangat mirip dengan diet vegetarian. Selengkapnya baca: Diet Golongan Darah A

Diet Golongan Darah B:

Disebut nomad. Orang-orang ini bisa makan dari sayuran dan kebanyakan dari jenis daging (kecuali ayam dan babi), dan bisa juga susu. Namun, hindarilah gandum, jagung , lentil, tomat dan beberapa makanan lainnya. Selengkapnya baca: Diet Golongan Darah B

Diet Golongan Darah AB:

Disebut enigma (teka-teki). Sebagai perpaduan antara golongan darah A dan B. Makanan yang harus dimakan tipe AB ini meliputi makanan laut, tahu, susu, kacang-kacangan dan biji-bijian. Hindari kacang merah, jagung, daging sapi dan ayam. Selengkapnya baca: Diet Golongan Darah AB

Diet Golongan Darah O:

Si pemburu. Ini adalah jenis diet protein tinggi sebagian besar didasarkan pada daging, ikan, unggas, buah dan sayuran tertentu, harus dibatasi makanan pada biji-bijian, kacang polong dan susu. Sangat mirip dengan diet paleo. Selengkapnya baca: Diet Golongan Darah O

Sebagai catatan, bisa jadi salah satu pola diet ini bahkan akan menjadi cara agar mendapatkan pola makan yang sehat bagi kebanyakan orang, tidak peduli apa jenis darah mereka.

Semua jenis diet yang telah disebutkan diatas (atau “cara makan”) sebagian besar didasarkan pada “jenis makanan sehat”, jauh lebih sehat dari standar makanan ala barat yaitu junk food.

Jika Anda menjalani diet ini dan kesehatan Anda membaik, itu tidak berarti bahwa ada kaitannya dengan golongan darah. Mungkin alasan yang tepat ialah bahwa Anda mengonsumsi makanan yang lebih sehat daripada sebelumnya.

Peran Lectin Dalam Diet Golongan Darah

Teori dasar yang berhubungan erat dengan diet golongan darah berkaitan dengan jenis protein yang disebut lectin (dibaca: lektin). Lectins adalah sejenis protein yang mengikat molekul gula.

Zat ini dianggap antinutrien, dan mungkin memiliki efek negatif pada lapisan usus. Menurut teori diet golongan darah, ada banyak lektin dalam makanan yang secara khusus menargetkan golongan darah ABO yang berbeda.

Dikatakan dalam teori diet golongan darah, bahwa ketika kita mengonsumsi makanan yang mengandung lektin yang salah, maka dapat menyebabkan aglutinasi (penggumpalan protein) di dalam sel darah merah.

Padahal, ada bukti yang menyatakan bahwa hanya ada sebagian kecil lektin dalam kacang polong mentah yang dapat menyebabkan aktivitas aglutinasi (penggumpalan protein) untuk golongan darah tertentu. Misalnya, kacang lima mentah hanya bisa berinteraksi dengan sel darah merah pada orang dengan golongan darah A.

Namun demikian, jika kita amati secara keseluruhan, tampak bahwa sebagian besar lektin akan bereaksi sama dengan semua golongan darah ABO. Dengan kata lain, lectin dalam makanan TIDAK spesifik bereaksi pada golongan darah tertentu, kecuali pada beberapa yang terdapat dalam varietas kacang polong mentah.

Tentu saja ini tidak memiliki relevansi di dunia nyata, karena kebanyakan kacang polong akan direndam atau dimasak terdahulu sebelum dikonsumsi, yang mana akan menghancurkan lektin berbahaya.

Adakah Bukti Ilmiah Dibalik Diet Golongan Darah?

Penelitian tentang golongan darah ABO telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan satu dekade kebelakang. Sekarang ada bukti kuat bahwa orang dengan golongan darah tertentu dapat memiliki risiko penyakit yang lebih tinggi atau lebih rendah. Misalnya, tipe O memiliki risiko penyakit jantung lebih rendah, namun berisiko lebih tinggi terkena sakit maag.

Namun, tidak ada penelitian yang menunjukkan hal ini berkaitan dengan diet golongan darah.

Dalam penelitian observasional berskala besar terhadap 1.455 orang dewasa, mengonsumsi makanan tipe A (banyak buah dan sayuran) dikaitkan dengan penanda kesehatan yang baik. Tapi efek ini terlihat pada semua orang yang mengikuti diet golongan darag A, tidak hanya bagi individu dengan golongan darah tipe A.

Dalam studi yang dilakukan pada tahun 2013, peneliti memeriksa data lebih dari seribu hasil penelitian, mereka tidak menemukan satupun studi yang menyatakan bahwa proses diet golongan darah dapat menimbulkan efek kesehatan tertentu.

Mereka menyimpulkan: “Tidak ada bukti yang ada saat ini untuk memvalidasi manfaat kesehatan dari jenis diet berdasarkan golongan darah.”

Dari 4 penelitian yang diketahui terkait dengan diet golongan darah ABO, semuanya dirancang dengan buruk atau tidak bisa dijadikan rujukan sebagai sebuah hasil penelitian.

Salah satu penelitian yang menemukan hubungan antara golongan darah dan alergi makanan justru bertentangan dengan rekomendasi diet berdasarkan golongan darah.

Pesan untuk Anda di Rumah

Tidak perlu diragukan lagi bahwa banyak orang telah merasakan hasil positif dengan mengikuti diet. Namun, TIDAK berarti bahwa ini berhubungan dengan golongan darah mereka.

Setiap orang berbeda tipe dietnya. Beberapa orang cocok dengan mengonsumsi banyak sayuran dan sedikit daging (seperti diet tipe A), sementara yang lain cocok dengan makan makanan hewani berprotein tinggi (seperti diet tipe O).

Jika Anda mendapatkan hasil yang bagus pada diet golongan darah, mungkin Anda sudah menemukan diet yang sesuai dengan metabolisme Anda. Ini mungkin tidak ada kaitannya dengan golongan darah Anda.

Selain itu, dampak positif dari diet ini ialah dapat menghilangkan sebagian besar makanan olahan yang tidak sehat dari daftar makanan yang saat ini sering dikonsumsi banyak orang.

Mungkin itu adalah alasan kenapa diet golongan darah ini berhasil, karena Anda merubah jenis pola makan dari yang sembarangan beralih kepada jenis makanan sehat. Tanpa memperhatikan jenis golongan darahnya.

Jika Anda melakukan jenis diet golongan darah dan itu berhasil untuk Anda, maka tetaplah terus melakukannya dan jangan biarkan opini dalam artikel ini mengecewakan dan menghentikan Anda.

Jika diet yang sedang Anda lakukan saat ini baik dan bermanfaat, maka terus lakukan. Dilihat dari sudut pandang ilmiah, bagaimanapun juga, sejumlah bukti yang mendukung diet golongan darah bisa dibilang meragukan! Bagaimana menurut Anda?.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer