Antibiotik untuk Infeksi Saluran Kemih Paling Ampuh

Penggunaan antibiotik untuk infeksi saluran kemih didasarkan pada tingkat keparahan, tempat terjadinya infeksi dan jenis bakteri yang menginfeksi. Oleh karena itu, penting untuk bersegera mungkin memeriksakan diri ke dokter bila mencurigai adanya gejala ISK.

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan suatu kondisi dimana terjadi invasi bakteri pada saluran kemih yang terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Gejalanya berupa anyang-anyangan, nyeri ketika buang air kecil, bau urine yang menyengat dan berwarna keruh serta demam, mual, muntah dan nyeri pinggang juga punggung.

Antibiotik untuk ISK

Karena sebagian besar kasus ISK terjadi akibat infeksi bakteri, maka pengobatan utama yang harus dilakukan yakni dengan terapi antibiotik baik oral maupun intravena. Simak beberapa jenis antibiotik untuk infeksi saluran kemih selengkapnya berikut ini.

Apa Saja Jenis Antibiotik untuk Infeksi Saluran Kemih?

Untuk memastikan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri di dalam urine melalui beberapa pemeriksaan. Diantaranya seperti pemeriksaan urine lengkap dan kultur urine untuk mengetahui secara spesifik bakteri yang menjadi penyebab infeksi.

Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk menganalisa penggunaan serta menentukan antibiotik yang tepat sesuai tingkat keparahan, tempat terjadinya infeksi dan jenis bakteri yang menginfeksi.

# Antibiotik Oral

Penggunaan antibiotik oral seperti sulfamethoxazole-trimethoprim, sefalosporin atau nitrofurantoin dibutuhkan sebagai pengobatan awal juga lanjutan setelah pemberian antibiotik intravena. Dengan pengobatan antibiotik oral, gejala ISK seharusnya dapat membaik dalam 2-3 hari.

1. Sulfamethoxazole-Trimethoprim

Kombinasi kedua antibiotik ini dapat mengobati ISK dengan komplikasi dan efektif digunakan sebagai profilaksis pada infeksi berulang saluran kemih bagian atas atau bawah. Dosisnya dua tablet ukuran biasa (sulfamethoxazole 400 mg dan trimethoprim 80 mg) dengan interval pemberian setiap 12 jam.

Efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan kedua antibiotik ini berupa gangguan gastrointestinal, anemia aplastik, sindrom Stevens-Johnson dan lain-lain.

2. Nitrofurantoin

Antibiotik untuk infeksi saluran kemih selanjutnya yaitu nitrofurantoin. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik dan bakterisid  pada sebagian besar bakteri gram positif dan gram negatif.

Nitrofurantoin dapat diabsorpsi dengan baik dan efektif digunakan sebagai agen terapi juga profilaksis pada kasus ISK berulang. Dosis harian untuk orang dewasa yakni 50-100 mg, 4 kali sehari selama 7 hari.

Efek samping penggunaan nitrofurantoin diantaranya seperti anoreksia, mual, muntah, diare, reaksi alergi mulai dari gatal sampai ke angioudem, ikterus kolestatik, hepatitis, pankreatitis, hipertensi intrakranial dan alopesia.

3. Fosfomisin

Antibiotik ini diindikasikan untuk mengobati infeksi akut saluran kemih bagian bawah yang tidak terkomplikasi dan sebagai profilaksis infeksi saluran kemih pada prosedur transurethral. Dosis untuk orang dewasa yaitu 3 gram sebagai dosis tunggal yang diberikan pada saat perut kosong atau 2-3 jam setelah makan.

Efek samping umum dari fosfomisin berupa sakit kepala, mual, diare dan nyeri punggung. Efek samping yang jarang terjadi meliputi mulut kering, anoreksia, konstipasi, gangguan abdominal stools, insomnia dan gangguan kulit.

4. Amoksisilin

Amoksisilin diindikasikan untuk mengobati infeksi saluran kemih gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefriti dan infeksi lainnya. Dosis dewasa dan anak-anak dengan berat badan dibawah 20 kg yakni sehari 250-500 mg tiap 8 jam. Umumnya efek samping amoksisilin berupa mual, muntah, diare, sakit kepala dan ruam (hentikan pengunaan).

5. Ampisilin

Ampisilin merupakan penisilin berspektrum luas termasuk terhadap bakteri penyebab infeksi saluran kemih. Dosis ampisilin untuk ISK yakni 500 mg tiap 8 jam untuk dewasa dan untuk anak di bawah 10 tahun dosisnya setengah dosis dewasa. Sama seperti amoksisilin, efek samping ampisilin umumnya berupa mual, muntah, diare dan ruam.

6. Sefalosporin

Sefalosporin merupakan antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih yang dialami saat kehamilan atau ketika antibiotik lain tidak menunjukkan respon.

Sefalosporin oral generasi pertama yakni sefaleksin, sefadroksil dan sefradin, sedangkan generasi kedua yakni sefaklor dan sefprozil. Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjadi dari penggunaan sefalosporin.

7.  Ciprofloxacin dan Levofloxacin

Ciprofloxacin dan levofloxacin merupakan antibiotik untuk infeksi saluran kemih golongan fluoroquinolones yang efektif dalam melawan bakteri gram negatif dan gram positif. Dosis ciprofloxacin untuk ISK yakni 50 mg tiap 12 jam, sedangkan untuk levofloxacin yaitu 200-300 mg tiap 12 jam.

Efek samping penggunaan ciprofloxacin dan levofloxacin yang paling umum yakni gangguan gastrointestinal (mual, muntah, dan sembelit). Sedangkan yang jarang terjadi meliputi kegelisahan, halusinasi, depresi dan insomnia.

# Antibiotik Intravena

Antibiotik intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius, misalnya pasien mengalami dehidrasi yang cukup parah, terjadi infeksi pada ginjal, tidak mampu menelan cairan atau obat-obatan, kekebalan tubuh menurun atau pasien sedang dalam kondisi hamil dan mengalami demam.

Berikut beberapa jenis antibiotik intravena untuk infeksi saluran kemih:

8. Ceftriaxone

Ceftriaxone merupakan sefalosporin generasi ketiga yang memiliki spektrum luas semisintetik yang bekerja dengan cara menghambat biosintesis dan mencegah pembentukan dinding sel sehingga mengakibatkan kematian sel bakteri.

Umumnya ceftriaxone dapat ditoleransi dengan baik, efek samping yang mungkin timbul diantaranya seperti sakit kepala, diare, mual dan muntah dan reaksi lokal seperti nyeri tekan pada tempat suntikan.

9. Gentamicin

Gentamicin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida yang memiliki spektrum antibakteri yang luas namun memiliki aktifitas yang lemah terhadap kuman anaerob seperti Streptococcus hemolyticus dan pneumokokus.  Antibiotik ini memiliki mekanisme kerja dengan cara menghambat sintesis protein melalui pengikatan sub unit 30S dan 50S sehingga pertumbuhan bakteri akan terhambat.

Efek samping gentamicin diantaranya seperti gangguan pendengaran dan vestibuler. Pemberian jangka panjang dapat mengakibatkan hipomagnesemia (konsentrasi magnesium serum dibawah normal) dan kolitis karena antibiotik.

10. Tobramycin

Antibiotik ini memiliki aktivitas yang serupa dengan gentamicin namun sedikit lebih aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa dan dapat menjadi pilihan pengobatan parenteral empiris infeksi saluran kemih.

Mekanisme kerjanya dengan cara menghambat sintesis protein melalui pengikatan sub unit 30S dan 50S yang menyebabkan kegagalam pembacaan mRNA sehingga pertumbuhan bakteri akan terhambat.

Pemakaian tobramycin dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan pendengaran dan dalam jangka panjang dapat merusak jaringan ginjal.

Itulah beberapa antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati juga mencegah berulangnya infeksi saluran kemih. Ingat, konsumsi antibiotik hingga tuntas sesuai resep dokter. Jangan menghentikan antibiotik secara tiba-tiba sekalipun gejala yang dirasakan mulai berkurang karena dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten.

Segera konsultasikan dengan dokter apabila merasakan efek samping yang mengganggu akibat penggunaan antibiotik atau jika gejala ISK tidak berkurang, memburuk atau kembali berulang.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer