Cara Mengobati Tekanan Darah Rendah yang Cepat dan Aman

Tekanan darah rendah atau secara medis disebut hipotensi merupakan kondisi dimana tekanan darah kurang dari 90/60 mmHg. Kondisi ini tentu saja akan membuat tubuh tidak sehat sehingga akan menurunkan kemampuan beraktifitas. Oleh sebab itu, mengetahui cara mengobati darah rendah merupakan suatu tindakan yang efektif agar Anda terhindar dari bahayanya dan mencegah kondisi tersebut supaya tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Meskipun ada sejumlah gejala, namun cara pasti untuk mengetahui darah kita rendah atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah. Apabila tensi atau tekanan darah kurang dari 90 mmHg (sistolik, angka atas) atau 60 mmHg (diastolik, angka bawah), maka sudah dipastikan Anda mengalami hipotensi. Perlu diketahui tekanan darah normal untuk dewasa adalah 110/70 mmHg.

cara mengobati darah rendah

Ketika darah Anda rendah, maka sejumlah gejala bisa muncul, seperti pusing saat berdiri dari duduk atau berbaring, pingsan (sinkop), penglihatan kabur, mual, kelelahan, dan kurang konsentrasi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan ketika gejala-gejala tersebut Anda alami.

Lebih tepat lagi, apabila memeriksakan diri ke dokter, agar bisa diidentifikasi penyebab darah rendah yang Anda alami sehingga akan menuntun untuk pengobatan yang tepat.

Pemeriksaan Apa yang Dilakukan Dokter?

Ketika Anda berkunjung ke dokter, ia akan memeriksa riwayat kesehatan Anda, mulai dari usia, gejala spesifik, dan kondisi di mana gejala-gejala tersebut terjadi. Selanjutnya untuk mencari penyebab darah rendah yang Anda alami, maka diperlukan beberapa pemeriksaan seperti di bawah ini:

1. Tes Darah

Tes ini dapat memberikan berbagai informasi keseluruhan tentang kesehatan Anda, seperti apakah Anda memiliki gula darah rendah (hipoglikemia), gula darah tinggi (hiperglikemia atau diabetes) atau bahkan jumlah sel darah merah rendah (anemia) yang semuanya dapat menyebabkan tekanan darah rendah.

2. Elektrokardiogram (EKG)

Tes ini disebut tes non-invasif atau tidak memerlukan sayatan karena hanya menempelkan elektroda pada kulit dada, lengan dan tungkai Anda. Alat tes medis ini digunakan untuk mengukur aktivitas listrik yang dihasilkan oleh jantung dan mendiagnosis berbagai kondisi kesehatan seperti aritmia jantung, peradangan jantung (perikarditis atau miokarditis), dan penyakit jantung koroner. Pemantauan melalui monitor Holter (alat perekam) mungkin diperlukan untuk memeriksa masalah irama jantung atau aritmia yang berdetak tidak teratur, sehingga dapat menyebabkan tekanan darah turun tiba-tiba.

3. Ekokardiogram

Pemeriksaan non-invasif ini menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan gambaran rinci tentang struktur dan fungsi jantung Anda. Gelombang suara tersebut ditransmisikan dicatat dengan alat yang disebut transduser. Komputer menggunakan informasi dari transduser untuk membuat gambar bergerak pada monitor video.

4. Tes Stres

Beberapa masalah jantung dapat menyebabkan tekanan darah rendah. Hal tersebut lebih mudah didiagnosis saat jantung Anda bekerja lebih keras daripada saat istirahat. Selama tes stres, Anda akan diminta berjalan di atas treadmill atau melakukan olahraga lain. Anda juga bisa saja diberi obat untuk membuat jantung Anda bekerja lebih keras. Sehingga, kondisi jantung dan tekanan darah Anda dapat dipantau dengan elektrokardiografi atau ekokardiografi.

5. Manuver Valsava

Tes non-invasif ini memeriksa fungsi sistem saraf otonom Anda dengan menganalisis detak jantung dan tekanan darah setelah beberapa siklus bernapas dalam. Yakni dengan cara menarik napas dalam-dalam dan kemudian memaksa udara keluar melalui bibir, seolah-olah Anda sedang mencoba untuk mengembangkan balon.

6. Tilt table test

Jika Anda memiliki tekanan darah rendah pada posisi berdiri atau karena adanya gangguan sinyal pada otak (hipotensi yang dimediasi secara neuron), ’tilt table test’ dapat mengevaluasi bagaimana reaksi tubuh terhadap perubahan posisi tersebut. Selama tes ini, Anda hanya berbaring di atas meja yang miring untuk mengangkat bagian atas tubuh Anda yang mensimulasikan gerakan dari posisi horizontal ke posisi berdiri.

Bagaimana Cara Mengobati Tekanan Darah Rendah?

Bagi banyak orang, cara mengobati darah rendah dapat dilakukan dengan berhasil setelah melakukan perubahan pola makan dan gaya hidup. Namun, cara yang paling efektif dalam mengatasi darah rendah adalah menyesuaikan dengan penyebabnya.

Misalnya, ketika tekanan darah rendah disebabkan oleh obat-obatan, maka bisa diatasi dengan menurunkan dosisnya atau menghentikannya sama sekali.

Jika tidak ketahui jelas apa yang menyebabkan tekanan darah rendah, maka tujuan mengobati tekanan darah adalah menaikkan tekanan darah hingga normal dan mengurangi tanda dan gejala yang muncul.

Bergantung pada usia, kondisi kesehatan dan jenis tekanan darah rendah yang Anda miliki, berikut beberapa cara untuk mengobati tekanan darah rendah:

1. Konsumsi Lebih Banyak Garam

Cara sederhana dalam mengobati darah rendah adalah meningkatkan asupan garam atau sodium. Alasannya, mengonsumsi garam yang berlebih sangat tidak dianjurkan bagi pemilik tekanan darah tinggi (hipertensi) karena sodium dapat menaikkan tekanan darah bahkan terkadang bisa naik drastis. Namun, hal ini justru baik bagi orang yang memiliki tekanan darah rendah, namun jangan berlebihan.

Perlu Anda perhatikan! bahwa kelebihan sodium bisa menyebabkan gagal jantung, terutama pada orang dewasa dan lansia. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi mengenai takaran garam yang aman untuk Anda.

2. Hati-hati saat Berdiri

Cara mengatasi darah rendah berikutnya adalah dengan berhati-hati saat berdiri dari berbaring ataupun duduk. Anda dapat memompa atau menggerakkan kaki dan pergelangan kaki Anda secara perlahan beberapa kali sebelum berdiri untuk membantu memperbaiki sirkulasi darah. Anda juga dapat duduk tegak di tepi ranjang saat bangun tidur selama beberapa menit sebelum berdiri.

Lihat caranya seperti video berikut:

3. Banyak Minum Cairan non Alkohol

Cara sederhana berikutnya untuk mengatasi darah rendah adalah dengan banyak meminum cairan, baik air putih, susu, jus buah, teh, ataupun kopi (jangan berlebihan minum teh atau kopi). Banyak minum dapat meningkatkan cairan dalam tubuh sehingga mencegah dehidrasi dan berdampak pula pada meningkatnya volume darah.

Banyak minum tidak hanya dapat mengobati darah rendah, tetapi juga baik untuk kesehatan Anda secara keseluruhan. Terlebih lagi ketika cuaca panas, atau Anda sedang terserang flu.

4. Kurangi Minuman Beralkohol

Alkohol memiliki sifat diuretik atau meningkatkan produksi air seni sehingga membuat Anda lebih sering buang air kecil. Hal tersebut tentu saja dapat menyebabkan dehidrasi, volume darah menurun dan dapat menyebabkan tekanan darah rendah. Oleh karena itu, kurangi atau hentikan mengonsumsi alkohol untuk mengatasi tekanan darah rendah serta menjaga kesehatan tubuh Anda.

5. Pakai Stoking Kompresi

Belum banyak yang tahu, menggunakan stoking kompresi merupakan cara mengobati darah rendah tanpa obat yang terbukti efektif. Stoking kompresi adalah Stoking elastis yang biasa digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dan pembengkakan varises, mengurangi diameter pembuluh darah yang melebar, dan meningkatkan aliran darah dalam tubuh.

Berikut caranya:

6. Hindari Terlalu Lama Kontak dengan Air Hangat

Penggunaan air hangat, seperti berendam air hangat, shower hangat, dan spa dalam durasi yang lama perlu dihindari ketika darah Anda rendah. Oleh sebab itu, bagi yang merasakan pusing saat mandi dengan air hangat, maka duduklah. Untuk membantu mencegah cedera, gunakan kursi nonslip atau bangku yang dirancang khusus. Anda bisa mandi dengan duduk. Tapi ingat! jangan lama-lama.

7. Atur Pola Makan

Untuk menghindari masalah dengan tekanan darah rendah dan mengurangi episode pusing sehabis makan, cobalah makan lebih sedikit, makanan lebih sering. Kurangi karbohidrat. Istirahat setelah makan. Hindari minum obat untuk menurunkan tekanan darah sebelum makan.

Selengkapnya, Anda bisa simak Anjuran dan Pantangan Makanan untuk Darah Rendah

8. Tips lain untuk Mengobati Darah Rendah

  • Lakukan olahraga teratur untuk meningkatkan aliran darah
  • Tinggikan kepala tempat tidur di malam hari dengan menempatkan dua bantal di bawah kepala.
  • Hindari angkat berat.
  • Hindari mengedan kuat saat di toilet.
  • Hindari berdiri diam dalam jangka waktu yang lama.

( ! ) Jika gejalanya masih ringan, gunakanlah cara mengobati darah rendah yang alami terlebih dahulu seperti di atas. Namun jika berat, maka berobatlah ke dokter agar diberikan pengobatan yang cepat dan tepat.

9. Mengonsumsi Obat Darah Rendah

Jika beberapa cara mengatasi darah rendah tersebut belum juga berhasil meningkatkan tekanan darah, maka pengobatan secara medis harus segera dilakukan. Temui dokter dan berkonsultasi mengenai dosis dan penggunaan obat yang disarankan untuk mengobati darah rendah. Biasanya dokter sering merekomendasikan beberapa obat darah rendah berikut ini:

  • Fludrokortison

Obat yang sering digunakan untuk membantu mengatasi darah rendah. Obat ini bekerja dengan mempromosikan retensi natrium oleh ginjal, sehingga menyebabkan retensi cairan yang diperlukan untuk memperbaiki tekanan darah.

Tapi retensi natrium ini juga menyebabkan hilangnya potassium. Jadi saat mengkonsumsi fludrokortison, penting untuk mendapatkan cukup potassium setiap hari. Fludrokortison tidak memiliki sifat anti-inflamasi kortison atau prednison dan tidak membangun otot seperti steroid anabolik.

  • Midodrine

Obat darah rendah ini bekerja dengan cara mengaktifkan reseptor pada pembuluh darah arteri dan vena terkecil untuk menghasilkan peningkatan tekanan darah. Hal ini digunakan untuk membantu meningkatkan tekanan darah pada orang dengan hipotensi postural terkait dengan kelainan fungsi sistem syaraf.

Selengkapnya, simak: Obat Darah Rendah Alami Paling Ampuh dan Aman

Berbagai cara tersebut merupakan solusi yang dapat Anda lakukan untuk mengobati darah rendah yang dialami. Tidak lupa juga untuk selalu berolahraga guna menjaga stamina dan meningkatkan aliran darah dalam tubuh tetap lancar.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer