Kenapa Obat Cacing Diminum 6 Bulan Sekali?

Cacingan mungkin bukanlah kondisi berbahaya yang bisa langsung mengancam keselamatan penderitanya. Namun bila tidak segera diobati, cacingan bisa menyumbat usus dan menghalangi penyerapan nutrisi dalam tubuh. Otomatis, kondisi tersebut bisa merusak kesehatan juga nantinya.

Oleh sebab alasan inilah, di Indonesia sendiri sudah sejak lama digalakkan kebiasaan minum obat cacing tiap 6 bulan sekali. Biasanya anak-anaklah yang diimbau untuk diberi obat cacing rutin.

obat cacing 6 bulan sekali

Apa alasan pentingnya minum obat cacing tiap 6 bulan?

Alasan utama pentingnya minum obat cacing tiap 6 bulan tentunya adalah untuk mengobati cacingan. Selain untuk mengobati, obat cacing juga bisa dimanfaatkan sebagai pencegahan.

Soal ini, memang ada sedikit pro-kontra dari beberapa dokter. Pihak yang satu mengatakan kalau pencegahan cacingan bisa dilakukan dengan minum obat cacing tiap 6 bulan bagi yang berisiko, atau 1 tahun untuk yang tidak.

Namun ada pula yang menyanggah kalau sebenarnya bukan minum obatnya yang seharusnya dilakukan rutin, melainkan periksa fesesnya. Nanti begitu hasil tes feses memang positif mengandung cacing, maka barulah penderitanya boleh minum obat. Dan jika hasilnya negatif, maka otomatis ia tak perlu minum obat cacing.

Akan tetapi perihal periksa feses secara rutin selama 6 bulan ini agaknya jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Selain dirasa menjijikkan, memeriksakan feses ke lab juga dianggap merepotkan dan lebih mahal jika dibanding dengan membeli obat cacing itu sendiri.

Untungnya secara umum, kebanyakan dokter beranggapan kalau obat cacing aman karena dosisnya tunggal saja. Dan bila menimbulkan efek samping sekalipun, maka itu takkan parah. Paling-paling efeknya hanya diare; gejala lain seperti muntah atau alergi rata-rata jarang terjadi. Itulah sebabnya mengapa obat cacing dijual bebas dan tidak perlu resep dokter.

Kenali gejala cacingan: 9 Ciri-ciri Anak Terkena Cacingan

Jadi, siapa saja sebenarnya yang wajib minum obat cacing tiap 6 bulan?

Anak-anak dianggap lebih rawan kena cacingan karena kemampuan mereka dalam menjaga kebersihan masih kurang jika dibanding orang dewasa. Namun, bukan berarti kalau orang dewasa juga pasti bebas cacingan.

Baik anak maupun orang dewasa yang berisiko cacingan, tetap diimbau untuk rutin periksa tinja atau minum obat cacing tiap 6 bulan. Mereka yang dianggap berisiko ini antara lain yang:

Tinggal di lingkungan kumuh

Menurut hasil penelitian yang dilakukan FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), persentase penderita cacingan dari masyarakat kumuh yang tinggal di Jakarta tergolong tinggi, yakni antara 40-45%. Penelitian yang melibatkan pemeriksaan feses tersebut mendapati adanya telur cacing dalam tubuh mayoritas masyarakat kumuh.

Yang dimaksud lingkungan kumuh di sini adalah yang minim fasilitas sanitasi memadai, katakanlah seperti pinggir kota, dekat kali, atau desa. Masyarakat di daerah ini biasanya masih menggunakan kali atau sungai untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Nah, jika tanah atau kali di sekitar area tempat tinggal tercemar feses dari penderita cacingan, maka itu juga bisa menyebar ke orang lain yang juga menggunakan air kali yang sama.

Hobi memancing

Kalau umpan yang digunakan untuk menangkap ikan adalah cacing hidup, dan seseorang tidak cuci tangan setelah memegangnya, maka bibit telur cacing juga bisa masuk dengan mudah ke dalam tubuh melalui mulut.

Fesesnya memang mengandung cacing

Untuk kondisi semacam ini sudah jelas. Jika memang ditemukan cacing dalam feses, maka tak perlu tunggu periksa ke laboratorium. Dalam hal ini, minum obat cacing sebaiknya segera dilakukan. Begitu pula dengan anak yang muntahannya mengandung cacing.

Lingkungannya rawan cacing

Mereka yang rutin beraktivitas di lingkungan rawan cacing (tanah gembur, tanah liat, atau pasir), seperti kuli bangunan, petani, peternak, dll, juga lebih berisiko terkena cacingan.

Risiko cacingan lebih meningkat lagi kalau seseorang jarang cuci tangan usai bekerja, atau lingkungannya minim fasilitas sanitasi yang layak. Lingkungan semacam ini dapat membuat tanah tercemar cacing atau kotoran binatang dan manusia. Kalau seseorang tidak cuci tangan dengan benar (sebelum makan misalnya), maka telur cacing bisa masuk dengan mudah melalui mulut mereka.

Daerahnya mengalami endemik cacingan

Masyarakat yang daerahnya mengalami endemik cacingan sebaiknya berjaga-jaga terhadap penyakit schistosomiasis dengan minum obat cacing secara rutin. Penyakit yang juga disebut dengan istilah demam keong ini merupakan infeksi parasit akut/ kronis yang dipicu oleh cacing Schistosoma japonicum.

Penyakit ini biasanya menyerang penduduk pinggiran atau pedalaman, dimana mereka tidak mendapatkan akses air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak. Media penularannya biasanya lewat air tawar yang dipakai sebagai tempat BAB/ MCK. Kalau feses mengandung telur cacing, maka itu bisa menetas di dalam air, dan menulari orang lain yang menggunakan sumber air yang sama.

Tahun 2008 lalu, terdapat 2 wilayah di tanah air yang mengalami endemik cacing, yaitu Dataran Tinggi Lindu serta Dataran Tinggi Napu (Sulteng). Wabahnya bahkan dikonfirmasi telah menyebar ke beberapa kecamatan sekitarnya.

Kurang higienis dalam hal makanan

Sayuran dan buah dipetik dari tanah. Oleh karenanya, kedua bahan pangan ini rawan membawa bibit telur cacing. Untuk itu, keduanya harus dicuci bersih atau diolah hingga benar-benar matang. Namun bila sebaliknya yang terjadi, maka makanan yang tidak higienis juga bisa memperbesar risiko cacingan. Hal serupa berlaku untuk daging hasil ternak yang juga rawan membawa bibit cacing, cara mengolahnya pun mesti benar.

Adakah orang yang tidak wajib minum obat cacing tiap 6 bulan?

Sebenarnya, tidak semua orang perlu minum obat cacing karena tak semua menderita cacingan. Seperti disebutkan sebelumnya, hanya yang berisiko cacinganlah yang sebenarnya diimbau rutin minum obat cacing tiap 6 bulan. Lantas siapa saja yang termasuk kategori tidak wajib minum obat cacing itu?

  • Mereka yang gaya hidupnya bersih dan higienis – untuk ini, minum obat cacing sebagai upaya pencegahan cukup dilakukan 1 tahun sekali. Tapi kalau mau tetap 6 bulan sekali juga tak mengapa.
  • Penduduk kota, yang lingkungan aktivitasnya didominasi oleh aspal bukannya tanah atau pasir – sama dengan mereka yang hidupnya higienis tadi.
  • Mereka yang rajin periksa feses dan hasil tesnya negatif cacingan.

Jadi kalau Anda atau buah hati memang berisiko menderita cacingan, maka segera lakukan pemeriksaan tinja atau langsung saja beli obat cacing. Minum itu sesuai dosis anjuran yang tertera pada kemasan obat.

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer