Obat Pencahar (Laksatif) – Jenis, Kegunaan, Efek Samping

Bagi Anda yang mengalami sembelit atau susah buang air besar, solusi yang mungkin dibutuhkan saat ini adalah obat pencahar. Obat yang dalam istilah medis disebut laksatif ini bisa membantu melancarkan BAB yang mampet akibat berbagai alasan, termasuk feses atau tinja yang keras.

Obat pencahar atau laksatif adalah obat yang menginduksi gerakan usus dan/atau melunakkan tinja sehingga memudahkan proses buang air besar. Obat laksatif juga disebut sebagai katarsis, selain digunakan untuk mengobati sembelit, obat pencahar ternyata juga berguna untuk mengosongkan usus dari kotoran sebelum dilakukan pemeriksaan kolonoskopi atau operasi.

obat pencahar laksatif

Dalam aksinya, obat pencahar bekerja dengan cara menstimulasi usus (stimulan), melembutkan feses (pelunak tinja), mengembangkan feses dengan cara menarik lebih banyak air ke dalam feses (bulk-forming agen), melumasi tinja agar lebih mudah keluar dari usus besar (lubrikan), atau dengan mempromosikan masuknya air ke dalam usus. Semuanya tergantung dari pilihan jenis laksatif yang digunakan.

Lebih lanjut mengenai jenis, fungsi dan kegunaan, efek samping, dan informasi penting lainnya akan di bahas di bawah ini.

Jenis-jenis Obat Pencahar

Berdasarkan bentuknya, ada beberapa jenis obat pencahar yang beredar di pasaran, umumnya berbentuk pil, kapsul, sirup, supositoria (jenis obat yang penggunaannya dimasukkan ke rektum) dan enema (obat cair yang dimasukkan ke rektum). Tiap jenis pencahar ini memiliki manfaat spesifik serta kemungkinan efek samping, jadi harus tepat penggunaannya.

Dari segi cara pakainya, obat yang berbentuk pil, kapsul ataupun sirup tentu lebih mudah dikonsumsi, sementara tipe supositoria dan enema terasa kurang nyaman saat digunakan. Namun hal itu sebanding dengan khasiatnya, karena pencahar yang dimasukkan secara manual atau disemprotkan melalui rektum ini seringkali bekerja lebih cepat dalam mengatasi sembelit.

Sekarang, kita juga perlu tahu bahwa berdasarkan mekanisme kerjanya, ada beragam jenis laksatif sebagaimana dijelaskan di bawah ini:

1. Obat Pencahar Tipe Bulk-forming (Serat)

Laksatif tipe ini memiliki cara kerja yang sama dengan serat makanan alami, yaitu dengan meningkatkan serapan cairan pada feses, sehingga feses menjadi lebih lembek, mengembang, dan mudah dikeluarkan.

Obat pencahar jenis bulk-forming ini merupakan yang terbanyak direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasi sembelit.

Beberapa contoh obat laksatif ini antara lain Benefiber, Mecamucil, Fibercon, Fiber-Lax dan Equilactin.

Apa efek sampingnya?

Beberapa efek samping yang dialami penggunanya seperti kram perut, kembung dan gas berlebih. Hal ini sama halnya jika kita mengonsumsi cukup banyak serat dari makanan, jadi kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan. Namun, disarankan untuk memperbanyak asupan air untuk mengurangi beberapa efek tadi.

Informasi makanan kaya serat ada disini: 22 Daftar Makanan yang Mengandung Serat Tinggi

Selain itu, serat juga dapat mempengaruhi penyerapan jenis obat tertentu. Jadi, pastikan untuk membuat jeda sekitar satu atau dua jam setelah konsumsi obat pencahar baru kemudian mengonsumsi obat lainnya.

 2. Obat Pencahar Tipe Lubrikan

Sesuai dengan namanya, pencahar ini berfungsi untuk melumasi atau melicinkan. Kandungan minyak dalam obat ini dapat melapisi dinding usus sehingga mencegah kotoran mengeras dan memperlancar pergerakannya. Meskipun laksatif jenis ini sangat efektif mengatasi sembelit, namun penggunaannya sebaiknya hanya untuk jangka pendek.

Jika digunakan dalam jangka panjang, zat minyak dari obat pencahar ini dapat menyerap vitamin larut lemak dan mengurangi penyerapan jenis obat tertentu sehingga tidak maksimal diserap tubuh.

3. Obat Pencahar Tipe Pelunak Feses (Stool Softener)

Stool softener dikenal juga sebagai emollient laxative. Cara kerjanya dengan membasahi dan melembutkan feses berkat kandungan bahan aktif berupa dokusat atau surfaktan. Berbeda dengan tipe pencahar lainnya, tipe pelunak feses ini perlu waktu lebih lama dalam menjalankan fungsinya, sekitar seminggu atau lebih.

Obat ini biasanya direkomendasikan untuk mereka yang baru menjalani operasi, wanita yang baru melahirkan atau penderita wasir.

4. Obat Pencahar Tipe Osmotik (hiperosmolar)

Obat pencahar tipe ini bekerja dengan meningkatkan kadar air dalam usus dan jaringan di sekitarnya. Lebih banyak air pada usus berarti membuat tinja lebih lunak dan mudah untuk dibuang.

Beberapa pencahar jenis ini seperti Miralax, Paralax, MOM (milk of magnesia) dan Kristalose merupakan obat dengan zat aktif penghidrogenasi yang dapat menarik cairan ke usus.

Sangat penting untuk minum banyak air saat menggunakan laksatif tipe osmotik ini, tidak hanya agar lebih efektif namun juga untuk mengurangi kemungkinan kram perut dan munculnya gas berlebih.

5. Obat Pencahar Tipe Stimulan

Laksatif tipe ini akan merangsang saraf yang mengendalikan otot-otot yang melapisi saluran pencernaan. Dengan begitu akan mempercepat pergerakan tinja di usus halus dan usus besar. Obat jenis ini juga dapat meningkatkan penyerapan cairan pada tinja. Beberapa merek yang umum digunakan diantaranya, Dulcolax, Correctol, Ex-lax dan Senokot.

Catatan: Jangan gunakan pencahar tipe stimulan dalam jangka waktu lama. Jenis pencahar ini bisa melemahkan kemampuan alami tubuh untuk buang air besar dan menyebabkan ketergantungan dengan obat pencahar. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan kram perut dan diare.

6. Obat Pencahar Tipe Guanilat Cyckase-C Agonist

Jenis pencahar satu ini akan mengubah bentuk tinja dan meningkatkan jumlah air pada rongga saluran usus serta meningkatkan gerakan gastrointestinal. Salah satu obat pencahar jenis ini adalah Plecanatide (Tulance) yang merupakan obat resep untuk penderita konstipasi idiopatik kronis.

Meskipun dinilai efektif dalam meningkatkan BAB menjadi lebih rutin, namun beresiko menyebabkan diare dan pada anak-anak dapat menyebabkan dehidrasi berat.

Karena adanya perbedaan jenis pencahar dan masing-masing memiliki fungsi yang spesifik, ada baiknya memilih dengan bijak obat pencahar apa yang sebaiknya digunakan. Itulah pentingnya untuk berkonsultasi dengan dokter.

Obat Pencahar Apa yang Harusnya Saya Gunakan?

Meskipun laksatif bisa dengan mudah didapatkan di apotek, penggunaan dan dosis yang sesuai dengan apa yang Anda alami harusnya juga diperhatikan. Selain itu beberapa orang juga mungkin kurang cocok dengan kandungan tertentu dari obat pencahar, alih-alih sembuh malah sembelit semakin menjadi.

Panduan umumnya, jika setelah dua atau tiga hari sembelit masih terjadi dan kotoran berbentuk keras, cobalah menggunakan pencahar tipe osmotik atau tipe bulk-forming. Namun, jika tinja yang keluar lunak, gunakanlah pencahar stimulan selain pencahar tipe bulk-forming. Konsultasikan dengan dokter jika konstipasi masih terjadi setelah mengonsumsi pencahar.

Catatan: Meskipun obat pencahar umumnya dijual bebas tanpa harus diresepkan, beberapa penyakit radang usus seperti Crohn dan kolitis ulsertiva tidak cocok dengan obat jenis ini.

Berapa Lama Sebaiknya Laksatif Digunakan?

Idealnya, laksatif hanya boleh digunakan sesekali saja dan dalam jangka waktu singkat. Segera hentikan konsumsi laksatif jika sembelit Anda sudah membaik.

Setelah sembuh dari sembelit, sebaiknya mulai terapkan pola hidup sehat seperti minum cukup air putih, makan makanan berserat dan olahraga teratur. Selalu konsultasikan dengan dokter jika konstipasi yang Anda alami cukup parah.

( ! ) Dalam beberapa kasus, mungkin dokter akan meresepkan obat pencahar untuk beberapa hari, namun ingatlah bahwa obat laksatif tidak untuk digunakan secara terus-menerus.

Apa Efek Samping Obat Pencahar?

Seperti kebanyakan obat-obatan, laksatif juga memiliki beberapa efek samping. Mulai dari yang ringan hingga berat, namun biasanya efek ini akan berhenti segera setelah penggunaannya dihentikan.

Efek samping obat pencahar umumnya meliputi:

  • Kembung.
  • Nyeri perut, kram.
  • Kelebihan gas perut.
  • Dehidrasi, hingga membuat pusing, sakit kepala dan urin berwarna lebih gelap.

Kunjungi dokter untuk saran yang lebih lengkap jika Anda masih mengalami konstipasi setelah minum obat pencahar lebih dari seminggu. Jangan biasakan langsung mengonsumsi laksatif untuk mengurangi sembelit yang terjadi.

Penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan diare parah, hingga obstruksi usus (saluran usus terhalang oleh kotoran) serta terjadinya ketidak seimbangan kadar garam dan mineral dalam tubuh.

Adakah Alternatif selain Menggunakan Obat Pencahar?

Sembelit yang belum parah sebenarnya tidak melulu harus diatasi dengan laksatif. Beberapa gaya hidup sehat yang dijalani dengan disiplin akan mengurangi tingkat keparahan sembelit atau bahkan menghilangkannya sama sekali.

Beberapa pola hidup sehat yang dimaskud antara lain:

  • Konsumsi lebih banyak serat. Usahakan untuk mengonsumsi minimal 30 gr serat setiap hari. Anda bisa mengonsumsi buah, sayuran dan sereal yang merupakan sumber serat yang baik.
  • Tambahkan bulking agen pada menu makanan Anda. Bahan seperti tepung gandum utuh akan membuat tinja jadi lebih lembut, meskipun efek sampingnya mungkin membuat sedikit kembung.
  • Minum banyak air, minimal 8 gelas per harinya.
  • Olahraga secara teratur.

Selengkapnya simak artikel berikut: Cara Mengatasi Sembelit, Efektif dan Aman

Hidup sehat yang sesungguhnya itu tanpa obat!

Lihat sumber

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer