Obat Rematik Paling Ampuh Beserta Terapi Pendukungnya

Sepertinya banyak ya masyarakat Indonesia yang belum mengetahui secara pasti tentang penyakit rematik. Bahkan, tak jarang banyak yang menyamakan penyakit rematik dengan asam urat. Inilah yang harus diperhatikan, karena rematik bukanlah penyakit sepele, jangan sampai kita terlambat mengetahuinya, sehingga kesulitan dalam melakukan tindakan atau perawatan yang tepat. Termasuk penggunaan obat rematik yang harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Lantas, apa saja sih obat rematik itu? Mari kita bahas disini.

Rematik merupakan penyakit yang dapat memberikan rasa sakit atau nyeri pada penderitanya, akibat persendian yang mengalami peradangan juga pembengkakan. Di samping rasa sakit dan pembengkakan, tentu saja sendi-sendi menjadi kaku atau sulit digerakkan. Walhasil, aktifitas sehari-hari akan terganggu, bahkan tak jarang menyebabkan absen kerja. Lebih lanjut, simak disini: 12 Gejala Terkena Rematik dan Tips Pengobatan

obat rematik

Nyeri pada persendian menjadi gejala utama dari penyakit yang memiliki nama lain Rheuthoid arthritis ini. Itulah sebabnya, prinsip penanganan rematik adalah dengan mengontrol rasa nyeri serta mengurangi kerusakan sendi. Salah satunya dapat dilakukan dengan terapi farmakologi atau obat-obatan.

Apa saja Obat Rematik yang Ampuh?

Berikut beberapa obat rematik yang umumnya digunakan dan juga perawatan lain yang diperlukan:

1. NSAID

NSAID adalah obat antiinflamasi nonsteroid. Penggunaan obat ini semata-mata hanya untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Obat rematik ini tidak dapat memperlambat laju perkembangan atau penyembuhan penyakit, hanya sekedar membantu mengatasi rasa sakit dan pembengkakannya saja. Contoh obatnya adalah Ibuprofen, natrium diklofenak, meloxicam, piroxicam, dan lain-lain.

2.. Kortikosteroid

Jika NSAID tidak terlalu membantu untuk mengatasi rematik, kortikosteroid dapat menjadi alternatif sebagai obat rematik. Kemampuannya dalam mengurangi rasa sakit dan pembengkakan jauh lebih cepat daripada NSAID. Ditambah lagi obat ini dapat memberi manfaat tambahan dengan cara memperlambat kerusakan sendi.

Bisa jadi pilihan Anda yang mengalami rematik. Namun perlu diketahui, penggunaan kortikosteroid jangka panjang tidak dianjurkan, Andapun harus mendapatkan obat ini dengan resep dokter. Di samping itu, tak boleh menghentikannya begitu saja tanpa konsultasi dengan dokter.

3. DMARDs

DMARD adalah singkatan dari “disease modifying antirheumatic drugs”. Biasanya obat ini digunakan sebagai perawatan tahap awal untuk menghambat dan meredakan gejala rematik. Selain itu juga mampu mencegah kerusakan permanen pada persendian dan jaringan lainnya.

Sekedar informasi, bahwa sebagian besar obat ini dikembangkan untuk mengobati penyakit lainnya, seperti kanker. Obat ini juga menjadi obat rematik yang paling efektif yang tersedia saat ini.

4. Biologics

Biologics (obat biologi) merupakan salah satu pilihan pengobatan terbaru untuk penderita rematik. Obat rematik ini direkayasa dari protein gen manusia dan mampu menghambat respon imun terhadap pembengkakan sendi akibat rematik. Biasanya obat ini diberikan melalui suntikan atau intravena (IV).

5. Cox-2 Inhibitor

Cox-2 inhibitor dikenal juga sebagai siklooksigenase. Obat ini merupakan salah satu golongan NSAID yang mampu mengatasi pembengkakan akibat rematik.

Meskipun termasuk golongan NSAID, obat rematik yang satu ini berbeda, karena Cox-2 inhibitor tidak menghambat COX-1, yang merupakan enzim pembentuk prostaglandin di dalam tubuh, sehingga dapat melindungi lambung pemakainya dari penyakit seperti maag.

NSAID yang lainnya menghambat pembentukan prostaglandin sehingga pada pemakaian jangka panjang dapat merupakan lapisan lambung. Jika lapisan sudah mulai terkikis maka terjadilah penyakit maag, seperti gastritis, bahkan tukak lambung.

6. Imunosupresan

Obat rematik selanjutnya ialah imunosupresan. Obat ini merupakan golongan obat yang digunakan untuk menekan sistem imun pemakainya untuk membantu mengurangi kerusakan pada jaringan tubuh.

Obat rematik ini memiliki beberapa jenis, seperti sulfasalazin dan sitostatika (MTX, azatioprin), dan biasanya diresepkan oleh dokter. Namun, pasien perlu berhati-hati karena dengan penggunaan imunosupresan akan meningkatan resiko infeksi. Ya, itulah konsekuensi ketika daya tahan tubuh kita ditekan.

7. Terapi Okupasi

Terapi okupasi dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk penderita rematik, karena dapat membantu mereka merencanakan berbagai cara alternatif untuk menghadapi tantangan karena kondisi rematiknya. Melakukan tugas sehari-hari yang mungkin terasa berat atau menyakitkan, dapat diatasi dengan melakukan terapi ini.

8. Pembedahan

Sepertinya cara ini menjadi jalan terakhir untuk penderita rematik, apabila berbagai pilihan pengobatan yang telah dilakukan tidak mendatangkan hasil yang positif. Pembedahan dapat memperbaiki sendi yang rusak, memperbaiki kelainan bentuk, dan mengurangi rasa sakit.

Operasi bisa berkisar pada kompleksitas dari perbaikan tendon hingga Arthroplasty, yang merupakan penggantian sendi yang bermasalah dengan sendi tiruan. Dengan melakukan tindakan ini, diharapkan pasien dapat merasakan kualitas hidup yang lebih baik lagi kedepannya.

9. Olahraga

Bila penderita rematik tidak mengalami flare-up (nyeri, pembengkakan, atau kombinasi keduanya), mereka dapat melakukan beberapa kegiatan fisik seperti berolahraga. Olahraga dapat membantu memperkuat otot di sekitar persendian yang lemah akibat rematik. Pilihannya bisa dengan berenang atau bersepeda, bukan olahraga yang memberi beban pada sendi, misalnya berlari.

10. Diet

Diet merupakan bagian penting dalam menjalani kehidupan yang sehat dan seimbang. Terlebih untuk mereka yang menderita rematik, agar membantu tubuh tetap sehat serta menghindari kemungkinan timbulnya penyakit lain. Biasanya untuk penderita rematik, dokter akan merekomendasikan diet yang kaya akan asam lemak omega-3 atau minyak ikan.

11. Fisioterapi

Cara ini bisa jadi ‘obat rematik’ yang bagus untuk penderitanya, agar dapat bergerak lebih baik dan lebih aktif lagi. Fisioterapis akan mengajarkan Anda beberapa gerakan untuk meregangkan sendi dan otot, yang nantinya juga dapat dilakukan sendiri dirumah.

12. Kompres Air Panas dan Dingin

Kompres air panas dan dingin ini dianjurkan untuk mereka yang menderita rematik. Terapi ini dapat membantu mengurangi nyeri sendi dan meningkatkan mobilitas sementara pada sendi yang kaku. Selain itu juga dapat menjadi terapi tambahan, diluar pengobatan lainnya.

Kompres air panas berguna untuk meringankan ketegangan otot serta melancarkan sirkulasi darah. Sedangkan kompres air dingin atau air es ini dapat mengurangi peradangan, pembengkakan dan rasa nyeri akibat rematik.

13. Akupunktur

Akupunktur telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Cina yang melibatkan penggunaan jarum untuk merangsang titik-titik tertentu pada tubuh. Titik-titik ini dipercaya terhubung dengan sebuah jalur (meridian) yang membawa energi vital ke seluruh tubuh, sehingga dapat membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan penderita rematik.

Biasanya pasien rematik akan menjalani terapi ini selama dua sampai empat minggu untuk merasakan benar hasilnya.

14. Kiropraktik

Perawatan kiropraktik berfokus pada sistem saraf, bersama dengan otot dan sendi. Terapi ini membantu mengurangi kekakuan sendi, yang umumnya terjadi akibat rematik. Sebelum melakukan terapi, terlebih dahulu kiropraktor melakukan penilaian pada kondisi tubuh si pasien untuk menentukan perawatan yang tepat. Barulah setelahnya, akan diaplikasikan beberapa prosedur untuk mengatasi rematik.

15. Elektroterapi

Elektroterapi digunakan untuk merangsang otot atau syaraf dengan menggunakan impuls listrik. Ada sejumlah cara yang digunakan dalam praktik ini seperti, stimulasi saraf listrik, lontophoresis, dan arus interferensial. Stimulasi saraf listrik adalah bentuk perawatan yang paling umum dan digunakan untuk mengobati nyeri muskuloskeletal, cedera saraf perifer dan nyeri regional.

16. Hidroterapi

Terapi ini dilakukan dengan cara menyuruh pasien untuk berendam dan melakukan beberapa gerakan di dalam air selama beberapa waktu. Hidroterapi memanfaatkan pengaruh daya apung air yang akan membuat beban terhadap sendi tubuh berkurang, karena itu latihan ini sangat cocok untuk mengatasi nyeri sendi dan kekakuan. Manfaatnya pun akan lebih efektif jika dilakukan dengan air hangat.

17. Pijat

Pijat pun dapat menjadi obat rematik untuk mengurangi nyeri. Dengan melakukan pemijatan secara rutin pada sendi dan otot, selain dapat mengurangi nyeri, juga akan mengurangi kekakuan, memberi keluasan dalam bergerak, dan membantu mengembalikan fungsinya secara keseluruhan.

18. Osteopati

Osteopati adalah kombinasi teknik perawatan yang mengutamakan hubungan antara struktur tubuh, tulang, otot, ligamen dan jaringan-jaringannya, serta keseluruhan fungsi dan gerak tubuh. Perawatan ini dapat membantu mengurangi pembengkakan, nyeri, dan memperbaiki gerak tubuh.

Sebelum dilakukan perawatan, terlebih dahulu dilakukan diskusi detail untuk menyimpulkan suatu diagnosa yang melibatkan observasi dan penggunaan sensor sentuhan. Perawatan ini efektif dalam menangani pasien dari berbagai usia, mulai bayi hingga dewasa.

19. Suplemen

Ada sejumlah ekstrak dan suplemen yang bisa membantu mengobati rematik. Beberapa suplemen yang paling sering dikonsumsi untuk rematik, seperti asam lemak omega-3 dan ekstrak tanaman borage. Asam lemak omega-3, apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak dapat mengurangi pembengkakan sendi dan minyak borage bekerja dengan cara yang mirip seperti obat antiinflamasi nonsteroid.

Selain mengonsumsi obat-obatan, hal-hal lain yang dapat Anda lakukan untuk meredakan penyakit ini yaitu dengan mengonsumsi makanan-makanan sehat, menjaga tubuh agar selalu terhidrasi, mengurangi stres, dan istirahatlah yang cukup jangan terlalu berlebihan ketika beraktivitas.

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer