8 Jenis Pengobatan Vitiligo yang Terbukti Manjur

Mungkin ketika Anda sedang berjalan-jalan pernah melihat seseorang yang memiliki kulit belang (terdapat bercak-bercak putih di kulit). Barangkali sebagian Anda menggangap itu hal biasa, namun sebenarnya itu merupakan suatu kelainan yang disebut dengan vitiligo.

Penyakit ini jika tidak ditangani dengan segera, dapat menyebar ke area kulit yang lain dan beresiko terkena kanker kulit. Oleh karena itu penting untuk kita mengenal dan mengetahui penyakit ini serta apa saja pengobatan vitiligo yang ampuh untuk mengembalikan warna kulit seperti sebelumnya.

pengobatan vitiligo

Vitiligo merupakan kondisi dimana kulit kehilangan melanin atau pigmen yang menentukan warna kulit. Penyakit ini bisa memengaruhi kulit di bagian tubuh manapun, biasanya terjadi di area-area seperti tangan, wajah, dan ketiak. Kelainan ini terjadi ketika sel-sel yang memproduksi melanin tidak lagi berfungsi, dan dapat memengaruhi individu dengan semua jenis kulit, meskipun lebih sering terjadi pada individu yang berkulit gelap.

Si penderita juga biasanya menjadi ‘minder’ atau kurang percaya diri dengan kondisi yang dialaminya. Kabar baiknya, ada beberapa pilihan pengobatan yang dapat diterapkan untuk memperbaiki tampilan kulit yang mengalami vitiligo, meskipun penyakitnya sendiri tidak bisa disembuhkan.

Berikut akan kami paparkan beberapa pengobatan untuk mereka yang mengalami vitiligo agar warna kulit sama seperti normal atau setidaknya mirip.

1. Krim Obat Topikal

Obat kortikosteroid topikal biasanya yang paling banyak diresepkan untuk membantu mengurangi peradangan dan membantu mengembalikan warna kulit pada kasus vitiligo.

Hasilnya sering bergantung pada kapan krim ini dioleskan, akan lebih efektif jika segera dioleskan pada masa awal timbulnya penyakit ini. Krim ini dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti kulit kering, penipisan pada kulit, hingga perubahan warna yang tidak rata seperti gambaran garis-garis di kulit.

2. Obat yang Memengaruhi Sistem Imun

Salep yang mengandung takrolimus atau pimekrolimus (penghambat kalsineurin) efektif untuk pasien yang hanya memiliki sedikit lesi, khususnya di bagian wajah ataupun leher. Pengobatan vitiligo ini juga memiliki efek samping yang lebih sedikit dibanding pengobatan sebelumnya.

3. Light Therapy

Merupakan terapi yang menggabungkan psoralen dengan fotokemoterapi atau terapi sinar. Penggabungan ini bertujuan agar terapi dapat berjalan efektif untuk mengembalikan warna kulit.

Pada terapi ini pasien diharuskan untuk meminum psoralen dalam bentuk pil atau melalui aplikasi topikal seperti krim yang dioleskan ke kulit, setelah itu pasien akan diberi sinar ultraviolet A (PUVA). Pengobatan ini dapat dilakukan beberapa kali dalam seminggu (umumnya 3x seminggu) dan memerlukan waktu hingga satu tahun untuk melihat hasilnya.

4. Depigmentasi

Terapi ini dilakukan dengan benar-benar menghilangkan warna asli kulit pasien. Biasanya cara ini di tempuh untuk mereka yang telah melakukan berbagai pengobatan vitiligo namun tidak menunjukkan hasil yang positif. Mereka yang menjalani terapi depigmentasi ini, akan memiliki agen depigmentasi khusus yang diterapkan di semua area kulit, sehingga tidak nampak jika mereka sebenarnya mengalami vitiligo.

Terapi ini dilakukan setiap hari selama kurang lebih setahun, hingga warna kulit sesuai dengan daerah yang warnanya berubah akibat vitiligo. Efek sampingnya kulit akan menjadi sangat sensitif terhadap sinar matahari.

5. Pencangkokan Kulit (Skin Grafting)

Pencangkokan kulit biasanya menjadi pilihan terakhir untuk mengobati vitiligo. Cara ini dilakukan, jika seorang pasien yang telah menjalani banyak pengobatan, seperti mengoleskan krim atau salep hingga terapi cahaya, tidak membuahkan hasil untuk mengembalikan kulit yang terkena vetiligo ke warna aslinya.

Pada prosedur pencangkokan kulit ini, dokter akan memindahkan sedikit bagian kulit yang masih normal untuk kemudian ditempelkan ke area kulit yang terkena vitiligo. Efek sampingnya akan meninggalkan bekas luka atau jaringan parut di kulit, kulit kasar permanen, atau perkembangan warna kulit yang aneh.

6. Blister Grafting 

Pada teknik pengobatan vitiligo yang satu ini, dokter akan melepuhkan kulit yang terkena vitiligo hingga blister (menonjol dan berisi lendir/cairan). Lalu ketika area kulit yang dilepuhkan tadi terluka, maka akan berpotensi mengembalikan warna kulit ke warna aslinya. Cara ini memang agak extreme, dan tidak menjadi pilihan pertama dokter dalam mengobati vitiligo.

Ada beberapa efek samping dari pengobatan vitiligo ini, seperti timbulnya bekas luka permanen hingga kulit kasar dan pewarnaan warna kulit yang aneh.

7. Mikropigmentasi

Cara ini lebih dikenal sebagai tato, tujuannya untuk menciptakan tampilan kulit yang lebih gelap pada area yang terkena vitiligo agar mendekati warna asli kulit. Prosedurnya dilakukan dengan cara implantasi pigmen ke kulit pasien.

Meskipun prosedurnya sulit dan biayanya pun cukup mahal, sejauh ini mikropigmentasi (tato) terbukti yang paling efektif dalam aplikasi terbatas di area sekitar wajah, seperti di sekitar bibir

8. Perawatan alami

Sebenarnya ada beberapa pengobatan alami yang tidak begitu rumit apalagi sampai menanggung biaya yang mahal seperti beberapa pengobatan di atas. Hasilnya pun diketahui cukup efektif dalam membantu mengembalikan area kulit yang terkena vitiligo ke warna aslinya. Beberapa caranya yaitu dengan mengonsumsi ramuan ginkgo biloba, mengonsumsi vitamin C dan vitamin B-12.

Meskipun pengobatannya alami, ada baiknya sebelum menggunakan cara ini Anda berkonsultasi dahulu dengan dokter.

Itulah tadi beberapa pengobatan vitiligo yang diketahui cukup efektif dalam mengembalikan warna kulit asli. Walaupun pada umumnya penyakit ini tidak berbahaya, namun tidak bisa diremehkan juga. Jika penyakit ini didiamkan, tidak ditangani dengan segera, maka akan menimbulkan efek yang lebih berbahaya seperti kanker kulit.

Pada kasus vitiligo ini, semakin awal pengobatan dilakukan, maka hasilnya akan semakin efektif.

DISKUSI TERKAIT

mari kita berteman di

Situs ini hanya sebagai sumber informasi, tidak boleh dianggap sebagai nasihat medis, diagnosis ataupun anjuran pengobatan. Baca disclaimer